Siapa Bilang Wanita Harus di Bawah Pria?

Bicara soal feminis, yang ada di pikiranku adalah wanita-wanita yang ekstrem memperjuangkan haknya untuk berada "di atas" para pria. Ada feminis yang pahamnya tidak se-ekstrem itu namun tidak sedikit juga yang memilih untuk jadi feminis radikal yang seolah-olah mereka tak butuh pria untuk hidup. Aku sendiri bukan feminis sebetulnya, hanya saja aku cukup tergelitik setelah membaca tulisan seorang teman di halaman Facebook.

Jadi menurut pendapat teman saya tersebut, wanita itu boleh lebih pintar dari pria tapi pada dasarnya posisi wanita "di bawah" para pria karena para wanita itu masih butuh pria. Saya sih kurang setuju sama pendapat beliau apalagi dengan perumpamaan yang anggapannya sedikit seksis. Wanita butuh pria untuk benerin genteng dan ngusir kecoa. Well, Ibu saya lho "kekar". Beliau bisa memperbaiki kerusakan di rumah yang umumnya dilakukan para pria. Bahkan saya sendiri tidak takut kecoa jadi tidak perlu lah saya minta (calon) suami nanti untuk mengusir kecoa.

Saya tidak mengamini tindakan feminis ekstrem yang ingin memiliki posisi lebih dari para pria di situasi sosial. Misalnya minta selalu diistimewakan atau bahkan eradicating alias membinasakan para pria di muka bumi. Saya juga tidak setuju bahwa wanita harus selalu berjumlah lebih banyak daripada pria di sebuah konferensi akademik, pasalnya kalau si wanita yang ahli di bidang akademik tersebut jumlahnya terbatas mau bagaimana lagi?

Membaca postingan teman saya tersebut, saya merasa tergelitik sekali untuk membantah. Pasalnya Alpha Female itu jadi single kadang tidak berasal dari keinginan mereka sendiri melainkan dari lingkungan sosial mereka (baca: para pria yang enggan berpasangan dengan wanita cerdas (sumber: CNN)*). Jadi Alpha Female itu bukannya pilih-pilih atau nggak butuh pria, mereka butuh hanya saja prianya jarang ada yang mau.

Baca Juga: Penelitian Membuktikan Bahwa Pria Tidak Suka Cewek Pintar Kecuali Mereka Cantik

Saya jadi ingat tulisan salah seorang feminis ekstrem di portal MOJOK, Mbak Khalis namanya. Saya ingat sekali beliau menyindir habis-habisan para pria yang ogah menikah dengan para wanita lulusan S2 karena alasan wanita pintar itu lebih susah diatur. Di situ perang komentar yang seru terjadi. Saya juga jadi ingat dengan salah satu perkataan mantan saya, "Wanita cantik itu kalah sama wanita pintar tapi wanita pintar kalah sama wanita penurut."

Ehm, begini ya Mas-Mas sekalian, seorang Alpha Female itu wanita yang sudah selesai dengan urusan mereka baik itu secara finansial, akademik, atau pun sosial. Mereka itu bukan berarti susah ditaklukkan atau standarnya ketinggian, mereka cuma butuh pria yang bisa mengimbangi saja. Nggak perlu sama-sama mengenyam pendidikan Master juga gakpapa yang penting si pria bisa mengakomodir kebutuhan si Alpha Female ini. Meski memang patut diakui juga Alpha Female kadang cenderung keras kepala dan dominan. Lantas sifat-sifat tersebut tak membuat Alpha Female butuh submisif lho Mas.

Poin yang menyebutkan bahwa, "Sehebat-hebatnya wanita tak bisa menyamai lelaki" itu kurang saya mahfumi. Sebab kalau dilihat lagi sejarahnya, ada begitu banyak tokoh serta ilmuwan wanita yang prestasinya menyamai atau bahkan melampaui para pria lho. Sebut saja Margaret Thatcer yang dikenal sebagai The Iron Lady atau Marissa Mayer yang kini memegang jabatan mentereng di situs Yahoo!

Nggak sedikit lho wanita-wanita inspiratif mengubah dunia dan mampu mengendalikan suatu negara, pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh para pria. Sebut saja Angela Merkel dan yang paling dekat, Sri Mulyani. Lalu apakah mereka lantas jadi wanita yang tidak butuh pria? Tentu saja butuh dong. Membutuhkan seorang pria bukan berarti berada di bawah mereka. Membutuhkan pria bukan berarti para wanita tersebut mau-mau saja ditindas oleh suami. Membutuhkan pria bukan berarti wanita tidak memiliki kebebasan atas dirinya sendiri dalam berkarir, melanjutkan pendidikan, atau menggapai cita-cita.

Baca Juga: Para Pria Merasa Terintimidasi Saat Berpasangan Dengan Wanita Pintar

Saya rasa nggak adil banget sih kalau seorang wanita berkeluarga tapi dia melepas kesempatan untuk mengembangkan diri karena harus sibuk mengurus rumah. Walaupun budaya demikian masih ada di Jepang, sekali seorang wanita menjadi seorang Ibu maka dia berdedikasi penuh atas tugasnya sebagai seorang Ibu. Tapi kalau buat saya pribadi, saya tidak ingin menjadi wanita yang seperti itu. Memang kalau dipandang dari sudut norma dan akhlak, sudah kodrat wanita untuk mengabdi pada keluarga. Hanya saja mengabdi pada keluarga tidak berarti mengorbankan cita-cita bukan?

Kalau suami salah, tidak membantu pekerjaan rumah, atau bahkan tidak mau diajak kerjasama membangun keluarga yang baik ya buat apa?

Buat saya pribadi, keadilan hak dan kewajiban bagi pria dan wanita itu penting. Dalam sejumlah aspek, pihak wanita masih mengalami banyak ketimpangan. Di satu sisi, pria juga mengalami hal yang sama. Inti dari tulisan saya kali ini adalah KEHEBATAN WANITA ITU BISA MENYAMAI LAKI-LAKI terlepas dari kodrat omong kosong yang kerap kali pria dengungkan. Jujur, masih banyak sekali laki-laki yang merasa minder bahwa wanita yang pintar akan membuat mereka lebih bodoh, membuat mereka terasa didominasi, atau yang paling parah wanita sulit diatur. Wanita cerdas itu tidak mengintimidasi lho Mas, mereka bisa mengayomi. Makanya untuk mendekati wanita pintar gunakan pendekatan yang baik, mereka nggak butuh disanjung kok, mereka cuma butuh diakomodir.

Bagi kalian pria-pria arogan yang meremehkan wanita, kalian cuma seonggok manusia cupu yang tidak mau harga diri kalian terkalahkan oleh intelejensi seorang wanita.

Dan bagi Mas yang opininya saya komentari di sini, sebetulnya saya paham betul bahwa maksud Mas sangat baik untuk mengingatkan para wanita (feminis) agar tidak anti pria. Hanya saja saya kurang setuju soal ide bahwa wanita tidak akan pernah bisa menyamai laki-laki, we are more than able to be equal with men. We only need to be equal not more not LESS. It's kind of insulting if you said so.

Baca Juga: Pria Sebenarnya Suka Wanita Cerdas, Hanya Saja Mereka Ogah Pacaran Dengannya