Terlalu Banyak Orang Sok, Bukti Sosmed Itu Beracun?


Sebetulnya aku bukan tipe orang yang cukup observant atau mengurusi orang lain. Aku adalah orang yang cenderung cuek dan malas diurusi. Karena pikirku, boro-boro ngurusin orang, hidup gue aja masih gini-gini juga. Bener juga belum, berkontribusi buat negara juga belum, punya prestasi yang membanggakan sampai profil masuk Wikipedia aja juga belum. Jadi, aku ini masih nugu alias bukan siapa-siapa. Nggak punya hak dong untuk ngurusin apalagi komentari orang lain dengan menggebu-gebu. Namun aku akui bahwa aku ini sedikit idealis.

Jadi yang menggelitikku untuk menuliskan ini adalah fenomena sok tahu, sok pintar, sok religius, dan sok keren di antara manusia-manusia sosial media yang kutemui. Dengan catatan, aku sendiri juga masih begitu kok. Aku sok pintar dan sok YES! You can call me arrogant, atau sombong, atau apapun terserah lah. I admit it.

Yang pertama adalah fenomena Mbak Ika Natassa yang lagi viral di twitter beberapa hari terakhir. Jujur Mbak Ika ini adalah penulis favoritku, aku suka karya yang dilahirkan olehnya. Sejak akun Info Twitwor muncul, imej Mbak Ika yang dulunya elegan dan classy jadi hancur. Pasalnya ada suatu kejadian yang menunjukkan sisi arogan Mbak Ika. Beliau memprotes soal layanan Garuda Indonesia via Twitter dalam bahasa Inggris. Turns out, setelah dilayani malah beliau jadi #GrammarNazi. I did, aku juga #GrammarNazi tapi kok aku merasa jengah ya Mbak Ika membetulkan grammar orang di saat yang tidak tepat, di luar konteks layanan servis yang berusaha diberikan oleh maskapai? Rasanya nggak etis gitu lho bilang, "Eh layanan lo jelek nih," tiba-tiba saat si ybs meminta maaf malah dihujat lagi, "Eh grammar lo lebih jelek dari layanan lo." Kan out of topic gitu, tidak bijak, dan tidak etis. Bukankah, "Thanks!" is enough?

Bisa dibilang fenomena Mbak Ika ini adalah fenomena sok pintar. Kenapa demikian? Karena pada faktanya ternyata beliau pun masih banyak salah dalam penggunaan grammar. Dan kejadian semacam ini tuh nggak berlangsung sekali saja. It's okay making mistakes and admit it, kadang Mbak Ika mengakuinya tapi kadang juga defensif (terlalu malah) dengan cara memblok orang yang membetulkannya. Btw kalau ditelaah lagi mungkin cara netizen yang mengingatkan juga terlalu menjatuhkan kali hingga dianggap Mbak Ika menghina. Poinnya, dalam hal semacam ini alangkah lebih baik kalau kita saling mengingatkan dengan bahasa yang sopan dan halus dan tidak di depan publik. Ada lho hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa "Jika seseorang menegurmu one by one, maka dia bermaksud baik. Sementara jika ada seseorang yang menegurmu di khalayak ramai, maka orang itu menghinamu." Nah, sekarang sudah tahu kan etika menegur orang dengan baik tuh kayak gimana?

Yang kedua, orang-orang yang sok religius. Gini ya, aku ini bukan orang yang agamis banget. Tahu hadits pun cuma beberapa, hapal Qur'an boro-boro paling ya hapal surat singkat doang. Aku senang sebenarnya kalau tahu sejumlah temanku berhijrah, jadi lebih baik gitu. Tentu saja dong mereka menginspirasi diriku untuk jadi orang yang lebih baik lagi. Tapi muak gak sih kalau kalian setiap saat menemukan postingan spam soal dakwah? I mean, it's okay to share something positive tapi ya GAK PERLU SPAM JUGA KALEEEEEEE!

Tiap postingan isinya dakwah, tiap 5 menit dakwah. Template dakwahnya pun sama gitu lho, bahkan yang sering aku temui isinya tuh kayak semacam menekan. Dude, Islam nggak keliatan indah kalau begitu. Yang makin bikin ngelus dada sih kalau ada ukhti yang baru berhijrah ke hijab panjang lalu tiap menit share postingan menakut-nakuti, posting nikah aja lebih baik daripada zina, posting sindiran-sindiran berbau agama yang menurutku itu nggak classy banget, yah banyak banget lah postingan yang bikin dahi berkernyit. Jujur sih, ketimbang terinspirasi itu tuh rasanya malah cringey banget gitu. Orang jadi ogah dan merasa terganggu. And then what makes people inspired by you? An action not a picture.

Contoh nyata, aku punya cukup banyak teman-teman nasrani yang akhirnya convert ke Islam. Alih-alih nyepam dakwah, sikap mereka yang humble dan nggak bragging soal ke-Islam-an mereka justru malah membuatku berpikir, "Kalau mereka aja bisa berubah jadi lebih baik, kenapa aku engga?" Sesederhana itu guys, sesederhana itu.


Sok feminis adalah fenomena ketiga yang paling bikin aku gemas dalam bersosmed. Jadi gini ya, aku perempuan, aku juga ingin kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Hanya saja kadang orang-orang yang baru belajar soal feminisme atau something itu taking it too far, kayak mereka nggak butuh laki-laki atau mereka harus more than men. Padahal tidak seperti itu, sepemahamanku feminis itu hanya memperjuangkan hak-hak dan keadilan bagi para perempuan tanpa membuat perempuan superior dari laki-laki. Contoh sederhananya, ada nih salah seorang selebtwit yang protes gede-gedean soal hak-hak perempuan dalam diskusi panel. Jadi dalam suatu konferensi akademik, hanya ada 1 wanita dari 8 orang panelis, dia koar-koar lah soal mana perjuangan wanita dan blablabla. Dude, kalau memang yang capable cuma satu orang wanita mau gimana? Kalau pun ada lebih, apakah si wanita tersebut memang bisa hadir di acara diskusi akademik tersebut? Kalau memang si dianya nggak bisa hadir gimana? Biasa aja woi!

Lalu ada juga yang sok komunis, sok pro-minoritas, sok tahu politik dan lain sebagainya. Kalau yang ini aku nggak bisa bicara banyak karena aku sendiri juga masih demikian hahaha. Tapi gemes aja gitu baca orang-orang yang gampang banget ikut arus mainstream dan mengolok-olok orang yang tidak sepaham dengan mereka. I usually try to be chill. Meskipun aku dan teman-temanku beda paham, aku sebisa mungkin mencoba untuk tidak memberikan komentar yang sekiranya menjatuhkan mental mereka hanya karena kami beda paham. Karena prinsipku adalah selama kamu tidak mengganggu aku ya aku tidak akan mengganggu kamu. Percaya aja sama apa yang kamu yakini, nggak usah ikut-ikut apalagi ikut-ikutan protes kalau cuma baca headline berita doang yang clickbait itu. Hih.


Yang terakhir adalah orang sok keren, I mean I did that too. Tapi dude, this person is really toxic. Dia tuh sok keren dengan menghinaku pakai bahasa Inggris. I've already blocked him, unfollow him, and try so hard not to engage any social interaction with him. But every time I wrote something then he comes and badmouthing something. Just why? Apa faedahnya gitu lho? Lo mau begini kek begitu kek gue juga gak peduli. Lo mau nyekrinsut twit gue lalu lo kirim ke grup kebanggaan lo juga gak peduli. It's just, why me? Gak ada ya orang lain dalam hidupmu yang sepenting aku untuk diurus? Ternyata diam-diam aku punya fans juga hahahaha.

Inti dari tulisan ini adalah semua hal yang berbau "sok" itu berasal dari tindakan yang dilebih-lebihkan. Rupanya memang benar hadits Rasulullah bahwa "Yang berlebihan itu tidak baik" ya? Well, kayaknya penutup kalimatku ini sedikit ironis, nggak suka di-spam dakwah tapi sendirinya dakwah di postingan. Anyway, I didn't make everybody uncomfortable for following me at least.

So, semoga postingan ini mencerahkan dan have a nice day!

Comments

Post a Comment

Thank you for visiting my blog, kindly leave your comment below :)