Engga Harus Tinggal di Luar Negeri Untuk Jadi Toleran


Narasi yang sering banget didengar saat hari Natal tiba di Indonesia adalah “Dilarang mengucapkan Selamat Natal”. Banyak sekali netizen yang kerap menyinggung hal ini di sosial media, tak sedikit pula yang melampirkan bukti berupa tangkapan layar pedagang kue yang menolak untuk membubuhkan ucapan selamat natal pada dagangannya. Setiap tahun disuguhi konflik yang sama berulang-ulang, bosan tidak sih?

Tahun 2017, aku melewatkan Natal di Inggris. Sejak awal memang aku tidak merayakan Natal, berada di luar negeri, di luar kebiasaan yang kulewati selama 23 tahun lantas tak membuat aku terlepas dari narasi yang sama dan diulang-ulang tersebut. Maka dari itu, aku bisa bilang bahwa untuk menjadi orang yang toleran tidak perlu kabur dulu ke luar negeri.

Memang sih perayaan Natal di Inggris lebih semarak, pasalnya mayoritas penduduk Eropa memang memeluk agama Kristen. Lalu apakah aku terganggu dengan itu? Dengan yakin aku bisa bilang kalau aku tidak terganggu sama sekali. Biasa aja. Sama seperti perayaan Natal di Indonesia yang seharusnya tidak mengganggu umat beragama yang lain.

Kalau dipikir-pikir lagi, yang namanya toleransi itu bukannya membiarkan orang lain beribadah sesuai keyakinan mereka ya? Toleransi bukan hanya masalah ucapan saja kan? Pada dasarnya manusia kan punya pilihan. Pilihan untuk mengucapkan ‘Selamat Natal’ atau tidak, pilihan untuk beribadah, pilihan untuk meyakini agama yang dianut. Jadi kenapa tidak saling menghargai saja? Daripada menyalahkan hak orang lain untuk menolak, bukankah lebih baik fokus ke menjaga perdamaian dan kelancaran misa Natal?


Somehow, hal-hal sederhana seperti tidak boleh mengenakan atribut Natal lah, tidak boleh mengucapkan ‘Merry Christmas’ justru jadi prioritas masyarakat. Masalahnya bukan itu, masalahnya ada pada hak seseorang untuk beribadah dengan tenang, aman, dan tertib sesuai keyakinan masing-masing. Kalau pun yang Muslim merasa segan untuk mengenakan atribut Natal ya sudah, kan itu kepercayaan mereka.

Di Inggris tidak ada narasi serupa karena masing-masing bertanggung jawab pada keyakinan. Yang Muslim menunjukkan rasa toleransi dengan tidak merasa terganggu akan hiasan Natal atau perayaan yang meriah. Yang Kristen juga tidak memaksa para Muslim untuk mengenakan atribut Natal atau mengucapkan ‘Selamat’ pada mereka. Itulah yang dinamakan coexist dan toleran.

Masalah Muslim lain mengucapkan ‘Selamat’ atau mengenakan atribut Natal juga terserah mereka bukan? Alangkah baiknya sebagai sesama Muslim tidak serta merta menghujat atau menyelipkan predikat yang kurang pantas pada saudaranya. Toh, ucapan atau atribut tidak berarti membuat mereka berubah akidah bukan? Bisa jadi niatnya hanyalah sebagai bentuk perayaan biasa. We never know.

Bagiku menjadi toleran tidak perlu repot-repot tinggal di luar negeri dulu karena sejak kecil aku sudah hidup di lingkungan yang majemuk. Beda halnya dengan orang lain karena mungkin mereka tinggal di lingkungan homogen untuk sekian tahun. Lingkungan merupakan faktor nomor satu dalam membentuk kepribadian, baik itu keluarga, teman-teman sekolah, guru, hingga kebiasaan sejak kecil.


Banyak teman-teman di Indonesia yang bertanya padaku, “Apa kamu tidak takut berhijab dan tinggal di luar negeri?”

Sejak awal aku tidak takut karena aku paham betul bahwa pola pikir Western people cenderung lebih terbuka. Dengan mantap kujawab tidak. Buktinya begitu aku sampai di Inggris, tidak ada hal yang janggal terjadi padaku. Justru aku mendapatkan pertolongan dari banyak orang, salah satunya Valentina. Valentina bahkan menyebut dirinya sebagai seorang Kristen taat dan dia tetap menolongku meski aku merupakan seorang Muslim.

Soal ibadah pun aku tidak perlu khawatir. Memang sih tidak pernah terdengar adzan selama di London tapi kan teknologi diciptakan untuk memudahkan. Alih-alih jadi cengeng dan protes karena tidak ada adzan, aku mengunduh sebuah aplikasi sebagai pengingat waktu salat. Di kampus pun telah disediakan ruang khusus untuk beribadah seperti mushola. Memang sih ruang ini digunakan juga oleh kelompok mahasiswa beragama lain, tapi itu sudah lebih dari cukup. Sudah beruntung diberi fasilitas untuk ibadah bukan? Mengapa harus mengeluh? Di negara lain, ada yang harus salat di bawah tangga yang kotor lho.
Beruntung juga aku tinggal di East London yang merupakan sentral komunitas Muslim, jadi makanan halal sangat mudah ditemukan. Ada juga masjid besar yang sering didatangi oleh para pria Muslim untuk salat lima waktu atau salat jumat. Sebagian tetangga pun beragama Muslim jadi merasa lebih aman dan tenteram karena ada saudara satu akidah. Berhijab juga tidak jadi masalah, native resident tidak ambil pusing soal gaya berpakaian wanita-wanita Muslim. To sum it all, tidak ada yang perlu dikhawatirkan oleh para mahasiswa Muslim untuk lanjut studi di London.

Yang menarik, sebelum aku berangkat ke London ada sejumlah tragedy berkaitan dengan tindak terorisme. Yang pertama adalah tragedy penabrakan dan penusukan polisi di sekitar gedung parlemen Westminster. Yang kedua, tragedy bom di Manchester yang bertepatan dengan konser Ariana Grande. Saat aku datang pun ada sejumlah serangan juga yang dilakukan oleh sejumlah oknum tidak bertanggung jawab atas nama Islam.


Beruntung dari semua hal tersebut, tidak ada kebencian yang ditujukan langsung pada masyarakat Muslim di London. Memang sih pelaku kejahatan menggunakan topeng Islam sebagai excuse atas aksi tidak bertanggung jawab itu tapi warga Inggris tidak serta merta menilai semua orang Muslim sejahat itu. Mereka juga tidak merasa terancam karena keberadaan umat Islam di London pasca peristiwa-peristiwa duka tersebut.

Behavior masyarakat London terhadap Muslim yang tidak stereotyping ini pun dikonfirmasi oleh temanku yang sudah tinggal 4 tahun di London. Suatu kali aku bertanya, “Apakah orang London punya stigma tersendiri pada Muslim pasca kejadian-kejadian mengerikan itu?”

“Oh enggak kok, kamu tenang saja. Orang London tidak menilai semua Muslim sebagai orang buruk hanya karena pelaku criminal adalah orang Islam. Mereka menganggap bahwa individu tersebut yang bertanggung jawab pada tindakannya, bukan agamanya. Jadi kamu bisa santai,” begitu jawab temanku. Mendengar penjelasannya, aku jadi lebih tenang dan ingat bahwa aku harus menjaga perilaku selama di negara orang demi martabat bangsa serta keselamatanku sendiri.