Generasi Milenial, Canggih Tapi Tidak Punya Etika


Berhubung mulai minggu ini jadwal kuliahku sudah sedikit berkurang dan libur mulai menjelang, itu artinya aku punya banyak waktu untuk menganggur. Seperti yang kubilang pada temanku Aimee, aku ingin jadi lebih produktif dengan memanfaatkan waktu untuk menulis. Aku juga sudah bercerita pada kalian di postingan ini, bahwa aku ingin menerbitkan setidaknya dua buku selama aku belajar di Inggris. Semoga kesampaian dan semoga benar-benar terbit.

Dari semua hal yang kualami akhir-akhir ini, aku jadi tergelitik lagi untuk mengkritisi (atau lebih tepat menyinyiri) generasi milenial. Meskipun aku ini juga termasuk generasi milenial, akan tetapi kelakuan anak-anak yang usianya lebih muda 2-5 tahun dariku ini cukup bikin iritasi. Serius. Yang paling gemas, baru-baru ini aku mendapatkan e-mail seperti ini.

Sebetulnya bukan sekali ini saja aku mendapatkan e-mail lucu nan menggemaskan seperti ini, sudah pernah dulu apalagi via WhatsApp. Semua ini berkat postinganku soal Magang di BI yang sering diakses oleh adik-adik generasi milenial. Aku senang sih memberikan informasi bermanfaat tapi kalau ditanya dengan model seperti itu kok ya bikin hati nelangsa juga ya...

Yang kupermasalahkan di sini adalah masalah etika. Kenapa aku bicara etika? Well, karena aku paham betul adik-adik milenial ini sudah sangat canggih dalam menggunakan teknologi. Kalau tidak canggih, mungkin sebagian dari adik-adik ini tidak akan menggunakan sosial media atau bisa mengakses Youtube dengan mudah kan? Hanya saja, kecanggihan dan kecerdasan dalam memanfaatkan teknologi tersebut tidak dibarengi dengan kelakuan yang baik. Masa sih mau bikin e-mail aja harus dikasih tutorial? Masa sih kirim Whatsapp ke orang (re: guru atau dosen) saja perlu diingatkan unggah-ungguhnya? Segitu parahnya ya nggak punya sopan santun dalam berkomunikasi?

Aku jadi ingat dengan tulisan Gita Savitri yang berjudul "Generasi Tutorial", di dalam tulisan tersebut Gita menyindir habis-habisan soal kelakuan anak-anak generasi milenial yang cenderung tidak menggunakan otaknya untuk berperilaku dengan baik. Yang penting eksis gitu aja ya dek, sopan santun nomor sekian.

Bukannya aku gila hormat, kalau dirasa-rasakan anak-anak generasi milenial ini benar-benar tidak tahu bagaimana cara menggunakan teknologi dengan baik. Apa-apa harus dikasih tahu, apa-apa harus disuapi, nggak bisa menggunakan otak lebih kreatif dikit untuk mencari jawaban. Padahal di Google itu ada begitu banyak jawaban yang dibutuhkan lho. Contohnya di postinganku soal magang itu.

Rasa-rasanya aku sudah menceritakan kisah lengkapku soal pengalaman magang. Bahkan aku juga menyediakan link download proposal hingga laporan magang. Buktinya apa? Masih banyak yang bertanya "Kak boleh kirimkan proposal magangnya?", "Kakak presentasinya apa?", "Kak, bisa minta data ke OJK atau BI tidak?" Padahal di postingan itu, jawabannya sudah aku sediakan. Tinggal Ctrl+F terus ketik jawabannya. Sesimpel itu lho. SESIMPEL ITU SAMPAI AKU TULIS LAGI DI POSTINGAN INI. Sesimpel itu sampai Youtuber macam Gita Savitri nyindir generasi milenial di blognya dan Ria SW selalu bilang, "GOOGLE PLIS!"

Anak-anak generasi milenial ini nggak cuma suka bertanya karena kepo aja. Bertanya itu bagus, mencari tahu itu bagus, tapi bukannya kalian dikasih otak buat mikir dan mencerna informasi ya? Apa kudu sih orang tua yang berusia twenty something ini mencekoki kalian dengan informasi yang kalian inginkan terus? Kalau begitu, kapan mandirinya?

Bahkan etika menulis e-mail pun tidak tahu lho! Ini yang bikin aku sangat geram. E-mail itu sejatinya bukan messenger, kalian nggak bisa mengirimkan e-mail seenak jidat dengan body note gak jelas atau subjek gak jelas. Masa sih nulis e-mail aja harus dibikinkan tutorial? Masa sih canggih main sosmed tapi nggak punya etika?


Jadi adik-adik milenial yang budiman, inilah hal-hal yang harus diperhatikan dalam menuliskan e-mail:
  1. Pastikan Subjek singkat, padat, dan jelas. Kalau kalian mengirim tugas ke dosen ya tulis di subjek [TUGAS] - [MATKUL] - [Nama Kalian/Nama Kelompok]. Kalau mengirim ke penerbit ya [JUDUL KARYA] - [NAMA] atau disesuaikan dengan keinginan penerbit. Kalau mengirim lamaran via e-mail ya [JABATAN YANG DILAMAR] - [NAMA KALIAN]. Kalau mengirim e-mail pertanyaan ya [TOPIK]-[NAMA KALIAN]. Sesederhana itu lho adik-adik! Ingat, subjek itu bukan body e-mail jadi jangan sampai sekali-kali kalian tulis isi e-mail di subjek. Bikin iritasi mata!
  2. Yang kedua, pastikan ucapkan salam. Bisa Assalamualaikum Wr. Wb, bisa Selamat Pagi Siang Sore Malam, bisa Yang Terhormat, bisa "Salam" doang. Terserah dek terserah pilih yang mana tapi pastikan poin ini ada di body e-mail kalian. Kalau kalian ujug-ujug kirim e-mail tanpa salam ya pastilah orang mengira kalian ini tidak sopan meski kalian bermaksud baik. Mbok ya jadi orang itu yang intelek sedikit, yang cerdas sedikit, yang BERADAB sedikit. Itu yang bikin kalian jadi manusia.
  3. Setelah salam jangan lupa perkenalkan diri kalian dulu. Nama siapa, dari mana, punya kepentingan apa. Baru setelah itu utarakan isi e-mail. Jangan ujug-ujug kirim e-mail, "Jadi yang dipresentasikan apa?" WHAT THE HELL DUDE. Are you even human?
  4. Setelah selesai menjelaskan maksud dan tujuan (atau pertanyaan) jangan lupa ditutup pakai "Terima Kasih". Kalimat ini sederhana memang, kelihatannya sepele dan nggak penting tapi bermakna. Itu artinya kalian menghargai orang yang kalian tanyai. Itu artinya kalian memanusiakan orang yang kalian kirimi e-mail. Memang cuma basa-basi belaka tapi ini sudah basic agar kalian tuh tetap berpijak di bumi dan menjadi MANUSIA.
  5. Baru setelah itu bisa ditutup pakai salam. Nggak perlu yang manis. Singkat dan padat saja sudah cukup. Menulis e-mail sesederhana itu saja masa harus sampai dibuatkan tutorial seperti ini sih adik-adik? Masa harus nunggu kurikulum "ETIKA MENGIRIM E-MAIL" dihadirkan di sekolah-sekolah. Kan nggak lucu!
Sebenarnya aku nggak mau mengungkap aib atau kebobrokan generasi milenial yang kerap mengirimkan e-mail tidak sopan seperti ini. Karena mau tidak mau, aku pasti akan dicap sebagai orang yang gila hormat. Padahal tidak demikian, tulisan ini turun karena aku merasa peduli bahwa ada orang-orang yang perlu diedukasi untuk beretika dalam berkomunikasi. Kita sama-sama sekolah, sama-sama ingin menjadi orang sukses. Kenapa tidak berbagi ilmu? Toh, apa yang kutulis dalam postingan ini suatu saat juga bakal berguna bagi kalian untuk melamar kerja atau mengurus dokumentasi pendidikan.

Buktinya, aku mengajukan pindah universitas ke LPDP cepat disetujui karena menggunakan langkah-langkah di atas. Tentu saja tiap orang punya preferensi masing-masing, hanya saja secara garis besar tidak ada orang yang suka membaca e-mail bertumpuk apalagi disusun dengan bahasa yang acak adut. Personally, I'm not that kind of person. I'll skip impolite e-mail right away. Jadi, buat teman-teman yang mungkin pengajuan universitasnya ditolak atau cenderung ditunda-tunda oleh LPDP, coba cek lagi. Apakah format e-mail yang digunakan sudah bagus dan sopan? Kalau belum berarti memang ada yang bermasalah dengan etika berkomunikasi Anda.