Having Fun In London: Greenwich & Winter Wonderland


Akhirnya Semester A berada di ujung tanduk juga. Minggu ini merupakan minggu ke-sebelas perkuliahan yang kutempuh di negeri Ratu Elizabeth. Minggu depan merupakan minggu ke-dua belas yang berarti minggu terakhir. Dan satu semester telah berlalu! Antara senang dan sedih. Senang karena "siksaan" semester A telah berakhir, sedih karena aku dekat dengan tanggal kepulangan. Ya, aku harus pulang ke Indonesia dan meninggalkan kenyamanan di London hahaha.

Anyway, dua minggu terakhir merupakan minggu yang cukup berat bagiku dan teman-temanku. Karena dalam dua minggu tersebut, kami menghadapi 4 ujian sekaligus. Satu midterm untuk mata kuliah Econometrics, dua quiz Behavioral Finance, dan satu midterm untuk mata kuliah Investments. Dari tiga mata kuliah tersebut, midterm Investments lah yang bagiku paling berat.


Mengapa demikian? Aku sudah mendedikasikan waktuku untuk belajar sejak awal semester, menyusun catatan yang rapi, dan bahkan mengulang-ulang pelajaran. Tapi ujung-ujungnya soal yang diujikan di Investments tidak masuk akal. Soal tersebut sangat berbeda dari latihan-latihan yang sering kami (aku dan teman-temanku) lakukan. Bahkan kami semua pun merasa sama-sama bakal gagal di midterm Investments.

Akhirnya segala "siksaan" midterm ini terlewati juga. Dan dua minggu ke depan, kami bakal liburan sekitar 3 minggu. Ada yang mau Europe Trip, ada yang mau pulang, ada yang mau bekerja, dan aku sendiri baru punya rencana untuk pergi mengunjungi Manchester. Insya Allah.

Sebagai hari terakhir midterm, kemarin teman-temanku memutuskan untuk melepas stress. Itu pun mereka harus ber-drama terlebih dahulu dengan sang Bapak Dosen. Setelah kelar komplain dan mengkritik Bapak Dosen, eh anak-anak ini malah pergi begitu saja nggak pamit atau apa. Sementara aku harus pergi karena ada urusan lain. Aku cuma khawatir saja kalau si Bapak Dosen bakal menganggapku sebagai anak yang tidak sopan tapi aku yakin orang Western tidak akan se-offended orang Indonesia (sad truth).


Nah, begitu urusanku selesai aku mendapatkan WhatsApp dari temanku. Katanya, dia sekarang berada di sebuah restoran dan makan siang, aku susul dia karena memang aku tak berencana untuk pulang cepat. Begitu aku menyusul mereka dan ngobrol-ngobrol soal si Bapak Dosen (lagi), akhirnya salah satu dari kami yang berkumpul pulang duluan. Tinggal aku, Aimee, dan Sharon. Begitu kutanya lagi apakah mereka mau pulang? Aimee bilang dia tidak ingin pulang cepat-cepat. Jadi aku mengajak mereka ke Greenwich.

It's so random and out of nowhere. Sebetulnya masih ada banyak tempat yang ingin kudatangi di London yakni Museum-Museum, London Bridge, sejumlah peninggalan sejarah, taman-taman terbuka, tapi entah kenapa yang muncul di pikiranku kemarin itu Greenwich. Mungkin karena aku sangat ingin naik DLR (Dockland Light Railway) kali ya?

*) DLR: Kereta tanpa awak yang dioperasikan overground di London

Yang menakjubkan, Aimee dan Sharon setuju-setuju aja. Padahal kukira mereka akan menolak atau bagaimana gitu karena idenya random banget. Finally kami menuju ke Stepney Green station dan naik tube jurusan District. Padahal kalau mau sengsara sedikit tapi nyaman bisa jalan ke stasiun Limehouse untuk langsung naik DLR lho kawan-kawan. As usual, I'm bad at navigation.

Begitu naik District, kami turun di Cannon Street dan harusnya naik TFL Rail. Berhubung nggak ngerti apakah bisa naik TFL Rail tanpa membeli tiket, jadi kami balik badan dan mengambil stasiun lain untuk naik DLR yakni Bank. Dari stasiun Bank tersebut, kami langsung naik DLR dan berhenti di Cutty Sark Greenwich.


Di DLR, kami sempat berbicara soal datang di waktu yang tepat yakni sebelum matahari tenggelam. Soalnya pasti bagus banget kan hasil fotonya di kala senja begitu, syahdu-syahdu piye ngono. Dibandingkan diriku, rupanya Aimee jauh lebih excited begitu sampai di Greenwich. Saat itu memang pas, langit senja yang semburat warnanya itu kece banget. Warna langitnya semacam warna fandom Seventeen gitu, biru dan ungu campur jadi satu. Aku bicara apa sih hahaha.

Memang sih begitu turun di Cutty Sark, kami disambut oleh jalanan kecil dengan vibe Christmas yang kental. Lampu-lampu jalan di Eropa pas mendekati Christmas memang no joke, indah, bawaannya pengen motret banyak gitu. Begitu keluar dari gang, kami mendapati sebuah perahu besar dan langit yang Subhanallah indahnya. Rupanya kapal tersebut adalah Cutty Sark. Karena excited akhirnya kami berfoto-foto di depan kapal tersebut. And we have no idea, kalau saja abis foto-foto di depan kapal itu kami langsung pergi ke pinggiran Sungai Thames kami bakal dapat foto senja budiman yang awesome. Sayangnya kami malah balik badan dan menuju ke arah sebaliknya.

Kami mampir ke University of Greenwich, itu tuh universitas yang jadi tempat syuting Thor: The Dark World. Agak berbeda juga sih dengan bayanganku. Mungkin karena kami datang menjelang malam sehingga sudah cepat gelap dan pemandangannya sedikit berbeda dengan yang terpampang di layar lebar. Tapi nggak papa, University of Greenwich punya banyak gedung berarsitektur Eropa zaman Middle Ages dan itu tuh keren banget. Akhirnya kami berfoto-foto ria di situ. Yang unik, di musim dingin Inggris tuh punya market sendiri.


Ada Winter Wonderland di Central London, dan Greenwich pun nggak mau kalah. Greenwich punya Winter Market di dalam University of Greenwich. Sayangnya, kami nggak bisa masuk karena mungkin marketnya belum siap untuk dikunjungi. Akhirnya kami pergi ke Greenwich Market saja. Mungkin dari depan kelihatan seperti pasar tradisional Indonesia gitu ya. Ternyata engga saudara-saudara.

Alih-alih jualan daging, ikan, atau sayur-sayuran, Greenwich Market jualan roti, aksesoris, serta berbagai macam cindera mata yang lucu-lucu. Kami sempat berkunjung ke sebuah toko yang menjual mug lucu-lucu dan sempat berkunjung ke toko paper art. Menurut Sharon, paper art ini merupakan kesenian tradisional Cina. Dulu si paper art ini bisa berputar karena di tengahnya diletakkan lilin tapi sekarang paper art yang berbentuk selayaknya lentera itu dikendalikan oleh listrik. Lucu dan gemas!

Usai berjalan-jalan di Greenwich sampai kaki pegel, akhirnya kami memutuskan untuk balik. Sayangnya, Aimee masih ogah pulang. Jadi kami mencari destinasi lain. Saat itu yang terbersit di pikiranku hanyalah Winter Wonderland. Satu, karena aku ingin ke sana. Dua, karena ya mumpung keluar aja (tapi nanti bakal balik lagi ke Winter Wonderland buat nge-vlog).


Untuk menuju ke Winter Wonderland, dari Greenwich kami naik DLR lagi hingga stasiun Bank lalu ganti ke tube jurusan Central dan turun di stasiun Marble Arch. Sebenarnya ada alternatif lain yakni naik DLR lalu turun di East Huoy dan ganti Jubilee tapi kami nanti bakal ganti lagi ke Piccadilly. Menurut Aimee itu buang-buang waktu jadi kami naik central aja. Padahal waktu kami balik dari Greenwich itu sedang puncak-puncaknya orang pulang. Stasiun Bank dan tube Central berasa sesak!

Masuk ke Winter Wonderland yang notabene jadi ajang tahunan London dan selalu dimulai sejak November ini gratis lho pemirsa. Tapi sebelum masuk kami harus menjalani pemeriksaan tas terlebih dahulu, jadi keliatannya ngantri beli tiket padahal mah cuma antri diperiksa tasnya doang.

Begitu masuk rasanya bingung harus kemana karena ada begitu banyak wahana. Mulai dari wahana memicu adrenaline seperti roller coaster, viking, colombus, dan high drop. Ada juga wahana semacam rumah hantu, merry go round, ferris wheel, serta stand game dan makanan. To put it simply, Winter Wonderland adalah pasar malam. Nggak jauh beda dengan Jatim Park gitu tapi di sini kayaknya lengkap banget dan terlalu banyak stan. Dan kalian pasti tahu dong kalau di pasar malam macam begini tuh harganya cukup mahal. Bayangkan aja, burger dijual 5 pounds sementara aku bisa dapat 5 buah burger di McDonald dengan harga yang sama. Fiuh!


Di Winter Wonderland, sebenarnya aku ingin main ke Ice Rink. Nyoba-nyoba Ice Skating gitu ceritanya tapi pas muter-muter kemarin aku tidak menemukan keberadaan si Ice Rink. Padahal kaki udah pegel karena jalan-jalan seharian lho. Aimee, Sharon, dan aku pun cuma foto-foto. Winter Wonderland is too cute to be passed through like that. 

Sebagai amusement park, nggak heran sih kalau Winter Wonderland dikunjungi banyak orang. Tapi sepertinya orang-orang sini pun sama-sama berpikiran ekonomis seperti aku. Meski banyak wahana, nggak ada satu pun antrian mengular, biasa aja. Jadi bagi kalian yang mau naik wahana bisa santai-santai gitu. Dan seperti yang sudah aku ceritakan di postingan ini, orang sini tuh tipe orang yang suka pulang tepat waktu. Oleh sebab itu, Winter Wonderland tutupnya juga cukup cepat yakni jam 9 malam. Berhubung kemarin aku datang jam 6 sore jadi masih ada waktu. Kami bertiga pun baru cabut sekitar jam 8.

Kami cabut karena semakin malam udara dingin Winter semakin menusuk. Pakai coat tebal pun rasanya masih semriwing gitu. Aku juga sudah mulai lapar sehingga butuh asupan makanan. Usai bergembira ria, have fun pasca midterm, kami memutuskan untuk pulang.

Kalau dipikir-pikir, perjalananku bersama Aimee dan Sharon kemarin sungguh lah random. Seperti kata orang, THE BEST PLAN IS NO PLAN. Daripada repot-repot merencanakan mau pergi kemana tapi nggak jadi, tujuan spontan macam kemarin itu lebih memacu adrenalin dan hampir 100% bukan wacana doang. Pada akhirnya, masing-masing dari kami menebus segala perjuangan dalam dua minggu yang berat dalam sehari. It was a nice trip and I look forward for another adventure in UK.