Kaleidoskop 2017: Hidup Bagai Roller Coaster


2017 menuju akhir juga. Itu berarti usiaku semakin bertambah dan aku semakin dekat dengan kematian. Memikirkan soal kematian membuatku sedih sekaligus takut. Pasalnya aku belum melakukan apa-apa di dunia ini, yang artinya aku belum menjadi manusia yang berguna bagi orang lain sepenuhnya. Yang kulakukan selama 24 tahun ini masih di situ-situ saja.

Tapi kalau perspektifnya diubah menjadi pencapaian pribadi, aku tidak merasa bersedih. Pasalnya di tahun 2017, aku setidaknya sudah memenuhi satu mimpi dan masih banyak mimpi yang harus kuwujudkan di sisa umurku nanti. Salah satunya adalah menjadi manusia yang berguna. Ya masa sudah hampir seperempat abad hidup di dunia tapi tidak memberikan manfaat bagi orang lain? Ya kan?

Nah, sebagai bentuk refleksi akhir tahun aku ingin menuliskan sebuah kaleidoskop. Seperti yang sudah aku lakukan tahun lalu di sini. Jujur sih kayaknya nggak ada yang istimewa dengan tahun 2017 ini. Tapi nggak papa lah ya, mari kita tuliskan.


Januari, awal yang baru. Terhitung pada bulan Januari aku sudah tiga bulan menjalani masa training sebagai seorang jurnalis KapanLagi.com. Tiga bulan ini aku sangat mencintai pekerjaanku. Ditambah lagi, bulan Januari merupakan bulan-bulan penuh dengan berita awards jadi page view juga naik signifikan. Di bulan ketiga ini aku mulai memahami alur kerja dan cara memilih berita yang layak masuk situs atau tidak.

Februari, sepertinya tidak ada hal yang istimewa juga pada bulan Februari. Aku menjalani hari-hari biasa sebagai seorang jomblo dan bersiap mengirim aplikasi ke universitas-universitas Jerman. Aku menghabiskan banyak waktu untuk riset dan menyusun rencana demi melanjutkan studi ke luar negeri. Tak lupa aku juga menabung demi bisa membeli sebuah kamera mirrorless sebelum berangkat studi.

Maret, bulan ini mulai sibuk mengirimkan berkas-berkas aplikasi Master ke Jerman. Uang gaji habis untuk mengirim dokumen tapi tak apa, aku masih berusaha untuk menabung sehingga bisa betulan bisa beli kamera.


April, mengirim lebih banyak berkas dan menghabiskan begitu banyak uang. Di bulan ini akhirnya bisa membeli kamera dengan hutang dulu ke mantan. Mulai aktif nge-vlog juga dengan membuat video seadanya. Yang pertama adalah trip to Budug Asu yang unexpectedly tembus 1000 views hingga hari ini. Lalu yang kedua adalah testing kamera dengan pergi ke Jogjakarta.

Mei, sepertinya di bulan-bulan ini aku sudah mengungkapkan isi hati pada sang gebetan sekantor. Sayangnya aku tidak mendapatkan respon yang baik jadi ya sudahlah ya. Mulai deg-degan menunggu pengumuman kelulusan dari berkas aplikasi yang dikirim untuk universitas di Jerman.

Juni, sembari menunggu pengumuman universitas di Jerman tak lupa mendaftar ke perguruan tinggi di negara lain. Salah satu universitas menolak aplikasiku dan dimulailah bermacam penolakan-penolakan yang datang bertubi-tubi. Seringkali merasa bete kalau ditanya, "Jadi kuliah di Jerman?" "Kapan berangkat?"


Juli, fix ditolak di 5 universitas di Jerman. Saatnya membuat back up plan yakni mengirim surat perpindahan universitas ke negara lain pada LPDP. Alhamdulillah akhirnya ketemu hilal di akhir bulan. Semua berkat dorongan, nasihat, dan doa teman-teman serta keluarga. Yang paling membuat sedih adalah sang gebetan memutuskan untuk berhenti bekerja di KapanLagi. Tidakkah kamu tahu bahwa setiap hari aku selalu melihat ke kursimu yang kosong itu? Hatiku juga ikut kosong mas!

Agustus, begitu perpindahan universitas diterima (ketemu hilal) muncul lagi masalah lain yakni pengurusan visa. Uang bukan lagi masalah tapi waktu yang mendadak dalam mengurus visa tersebut. Kurang dari sebulan mengurus visa dan tidak yakin apakah bisa jadi tepat waktu. Semua serba mendadak, mencari akomodasi pun sangat mendadak. Ditambah lagi bulan ini merupakan bulan paling berat soal urusan hati. Terlalu menyedihkan untuk diingat.

September, akhirnya visa jadi setelah sempat harap-harap cemas. Finally HIJRAH KE LONDON for sure. Memulai hidup baru sebagai mahasiswa Inggris. Memulai hidup di negara orang, sempat keteteran di awal tapi lama-lama terbiasa. Living in London is not that bad.


Oktober, karena uang saku beasiswa telat cair. Sempat hidup prihatin selama beberapa minggu. Hidup kelaparan dan makan apa adanya. Tidak punya uang sama sekali. Tidak ada Wi-Fi, benar-benar prihatin. Namun semua sirna setelah Living Allowance turun. Alhamdulillah!

November, minggu-minggu yang berat karena banyak ujian. Di satu sisi aku merasa sangat ketinggalan dan kurang paham. Di sisi lain, ternyata aku bisa mengikuti pelajaran di Inggris. Kekuranganku hanya satu, aku kurang sungguh-sungguh dalam belajar. Aku harus bisa jadi lebih baik dari ini di semester depan.

Desember, FINALLY MANCHESTER! Salah satu bucket list telah terpenuhi. Saatnya mencoret bucket-bucket list yang tersisa. Setidaknya ada tiga hal yang telah tercapai di tahun 2017 ini yakni berhasil melanjutkan studi di luar negeri, membuat vlog student life di Inggris, dan berhasil pergi ke Manchester.


Semoga di tahun 2018, aku serius bisa menerbitkan buku. Dan semoga rezekiku semakin lancar. Semoga aku jadi orang yang makin berguna bagi orang lain. Semoga aku semakin rendah hati dan tenang dalam berpikir. Semoga aku didekatkan dengan jodohku (re: Kim Heechul). Semoga kaleidoskopku ini senantiasa membuatku tetap membumi bahwa apapun pasti butuh perjuangan, darah, keringat, dan air mata. Tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Semangat! Tahun depan juga harus bisa pergi ke Korea dan ketemu EXO!

Thanks 2017, Welcome 2018!

Comments

  1. Tidakkah kamu tahu bahwa setiap hari aku selalu melihat ke kursimu yang kosong itu? Hatiku juga ikut kosong mas!

    Mau kutowelkan yang bersangkutan kah? *evil grin*

    ReplyDelete

Post a Comment

Thank you for visiting my blog, kindly leave your comment below :)