"Naik Haji" ke Old Trafford, Kandang Manchester United


Rasanya aku sudah pernah bilang kalau dulu aku memilih Inggris sebagai negara tujuan studi karena keberadaan stadion Manchester United, Old Trafford, dalam postingan ini. Memang sih waktu itu masih biasa saja, nggak yang ngebet banget ke Inggris karena memang lebih ingin kuliah di Jerman. Namun kenyataan berkata lain, Tuhan telah menggariskan rezeki untuk lanjut sekolah di Inggris. Tentu saja aku nggak rugi dong, gimana mau rugi? Toh Inggris itu negara sepakbola! Which means, bakal banyak stadion klub papan atas yang bisa aku kunjungi.

Di London sendiri, ada empat klub premiere league seperti Chelsea, Arsenal, Tottenham Hotspur, dan West Ham United. Dari keempat klub tersebut, aku sudah berkunjung ke Stamford Bridge (kandang Chelsea), Emirates Stadium (kandang Arsenal), White Hart Lane (kandang Tottenham), dan juga stadion nasional Inggris, Wembley. 


Tapi berhubung aku in fans Manchester United, tentu saja nggak afdol kalau nggak berkunjung ke Old Trafford dong. Oleh sebab itu karena aku tahu bakal libur dari tanggal 18 Desember hingga 9 Januari nanti, aku sudah memesan tiket kereta menuju Manchester. Mulanya sih aku dapat harga murah, hanya 37 pounds untuk tiket pulang pergi. Apa daya aku melakukan suatu kebodohan.

Dasarnya katrok dan nggak pernah naik kereta selama di Indonesia jadi agak kagok. Aku berangkat cukup awal sebenarnya, jam 9 lebih dari rumah. Sementara jadwal keberangkatan kereta dari London Euston adalah pukul 10 pagi. Aku sampai di Stratford jam setengah 10 yang sebetulnya masih sempat kalau aku pintar sedikit dengan naik tube menuju London Euston. Sayangnya aku bodoh.

Alih-alih naik tube, aku malah menunggu jadwal kereta menuju Euston di Stratford. Pas waktu menunjukkan pukul 10, tidak ada kereta menuju Manchester Piccadilly. Aku merasa aneh tapi tetap tancap gas naik kereta yang berangkat pada pukul 10. Barulah aku merasa kalau perbuatanku ini sia-sia belaka setelah aku mengecek ulang aplikasi City Mapper. Keretaku berangkat jam 10 tepat dari London Euston!!

Berhubung aku ini anaknya kalem, akhirnya aku rugi bandar dengan membeli tiket baru seharga 82 pounds untuk ke Manchester di keberangkatan berikutnya. Untung aku masih memiliki uang tabungan, kalau tidak ya mungkin aku sudah nangis hahaha. Tiket keberangkatan berikutnya sudah terbeli, aku rugi di waktu dan juga biaya menuju London Euston akibat kebodohanku. Selama naik kereta yang benar, aku kerap berpikir "Kok bisa ya aku sebodoh itu? Uang 82 pounds itu nggak sedikit lho, aku bisa beli sepatu Timberland baru di boxing day pakai duit itu."

Nasi sudah menjadi bubur, mau disesali bagaimanapun ya tetap terjadi kan? Tapi memang rasanya aku kerap kali melakukan kebodohan yang merugikan diri sendiri.


Terlepas dari kebodohan, akhirnya aku sampai juga di Manchester. Begitu sampai, aku sempat bingung dan terkesima di stasiun. Akhirnya aku cek lagi citymapper agar aku tidak salah langkah. Menurut citymapper, rute tercepat dari stasiun Manchester Piccadilly ke Old Trafford adalah dengan naik bus 250 di stop SY. Memang sih jalannya agak jauh kalau dari stasiun ke bus stop tersebut tapi busnya langsung turun di dekat stadion.

Ngomong-ngomong soal transportasi, TFGM (Transport for Greater Manchester) sedikit berbeda dari London. Yang pertama, bus tidak datang setiap waktu seperti di London. Jadi bus di Manchester periode kedatangannya cukup jauh (5-20) menit. Yang kedua, Manchester tidak punya underground station. Transportasi di Manchester kalau nggak pakai bus ya tram atau Uber/Taxi. Perbedaan ini cukup bikin aku kagok saat sampai. Terlebih lagi saat beli tiket transportasi. Di London, kami cuma butuh oyster card yang bisa dipakai untuk naik bus, tube, TfL, DLR, bahkan Overground. Nah, di Manchester tidak ada kartu serupa. Kalau naik bus bisa sih bayar pakai contactless tapi harus menyebutkan dulu tujuannya ke mana, nggak langsung tap gitu. Sementara itu kalau mau naik tram harus beli tiket dulu setiap tram stop. Agak nggak efisien juga sih.


Setelah hampir setengah jam, akhirnya aku sampai di Sir Matt Busby Way tempat stadion Manchester United berada. Sebagai fans, tentu aku excited banget dong bisa berkunjung ke kandang klub favorit. Dan mungkin karena sedang musim liburan, banyak turis yang datang juga ke Old Trafford hari itu. 

Tiket stadium tour sudah siap, kamera sudah siap, aku masuk saja ke stadion. Saat masuk aku sempat bertanya pada resepsionis karena aku telat menghadiri stadium tour. Apakah aku bisa ganti jam stadium tour atau harus beli lagi? Ternyata meski telat stadium tour di Old Trafford, aku nggak perlu bayar (beli tiket) lagi. Mereka bisa nge-switch jadwal stadium tour tersebut. Hore! Rezeki anak sholehah.

Semula aku beli tiket untuk stadium tour jam 12.30 siang, tapi aku baru datang jam 13.30 siang karena tragedi yang kuceritakan sebelumnya. Akhirnya jadwalku diubah ke jam 15.00 dan aku menghabiskan waktu dengan jalan-jalan di Museum Old Trafford dulu.


Begitu masuk museum rasanya aku jadi rendah diri. Pasalnya aku mengaku sebagai fans Manchester United tapi sejarahnya saja aku nggak paham betul. Ada sebuah sudut yang ngasih pertanyaan trivial gitu tapi aku nggak bisa jawab satu pun, lalu aku mempertanyakan eksistensi diriku sendiri? Ini aku fans betulan atau fans karbitan sih? Kalau dipikir-pikir lagi, memang sudah bertahun-tahun aku nggak nonton bola (di TV) hahaha.

Di Museum Old Trafford itu ada banyak memorabilia dari pemain-pemain legenda seperti Eric Cantona, Cristiano Ronaldo, Ryan Giggs, Wayne Rooney, Matt Busby, dan juga pelatih fenomenal Sir Alex Ferguson. Jersey MU dari zaman jebot sampai jersey terbaru pun ada. Pas masuk ruang trofi, wah para fans pasti bangga banget. Pasalnya MU sudah jadi langganan juara baik Premiere League, Liga Champion, dan juga Piala FA. Sayangnya pencapaian MU tersebut akhir-akhir ini menurun pasca ditinggal Sir Alex, mau ngeraih gelar Premiere League saja terhalang klub tetangga dan klub biru di London itu.


Setelah masuk museum, meski nggak membaca secara detail, aku sedikit banyak jadi tahu sejarah MU. Seperti kapan MU dapat sponsorship pertama (klub pertama yang dapat sponsor itu Liverpool). Lalu pemain-pemain MU yang legendaris selain Beckham, Ronaldo, dan Cantona itu siapa saja. Sejarah buruk kecelakaan pesawat pemain MU dan lain sebagainya. Fans die hard Manchester United pastilah betah berlama-lama di museum yang terdiri dari dua lantai ini. Fans pun bisa berfoto gratis ala-ala bursa transfer gitu. Tapi ingat ya, FOTO-nya doang YANG GRATIS. Kalau dicetak ya bayar. Nanti bakal dikasih 4 lembar foto ala-ala tabloid sepak bola 4 lembar seharga 20 pounds. Sementara kalau beli satu saja dikasih harga 10 pounds. Wah dasar pebisnis memang.


Setelah puas jalan-jalan di museum, sebelum menuju stadium tour ada lounge yang penuh dengan dekorasi sejarah MU. Lounge ini berfungsi sebagai meeting point pengunjung yang nantinya bakal dipandu guide untuk jalan-jalan keliling stadion. Pukul 3 tepat, stadium tour dimulai.

Kami dibawa masuk dan duduk di bench Sir Alex Ferguson Stand. Di situ, guide memberi pengarahan soal jadwal tur, dimulai dari pengenalan stadion yang berkapasitan 75 ribu orang, stand Alex Ferguson yang berkapasitas paling besar, hingga ke rangkaian ruang apa saja yang bakal ditunjukkan selama tur.


Setelah pengarahan singkat tersebut, kami digiring ke Stand Matt Busby. Di balik stand ini, terdapat berbagai macam ruangan seperti ruang ganti pemain, VIP Lounge, ruang konferensi pers, hingga bench pemain. Di stand Matt Busby tersebut, para pengunjung bisa berada sedekat mungkin dengan lapangan. Dan subhanallah sih rumput stadion kelas internasional memang berbeda dengan rumput SUGBK, Kanjuruhan, atau bahkan Gajayana! Kami pun sempat diminta untuk mereka ulang adegan pemain yang hendak keluar lapangan. Sensasinya memang luar biasa gitu.

Karena aku berkunjung ke stadion MU saat winter, kebetulan kami juga diberitahu soal maintenance rumput di kala sinar matahari berkurang. Jadi rumput-rumput tersebut disinari oleh sinar matahari buatan agar tetap segar. Nggak heran sih dengan teknologi yang canggih dan perawatan yang kontinu bikin rumput di Old Trafford sangat hijau dan indah bagai karpet. 


Setelah bertahun-tahun hanya bisa ngeliatin stadion internasional dari layar kaca, hingga akhirnya punya kesempatan untuk datang langsung dan liat langsung itu "Tuhan bekerja dengan cara misterius". Kalau dipikir-pikir lagi, aku nggak pernah nyangka bakal diberi rezeki atau nikmat sebesar ini. Kalau dipikir-pikir lagi, aku ini cuma anak udik dari kota kecil yang keberadaannya tidak dinotice orang lain. Tapi kalau Tuhan sudah menghendaki ya ternyata mimpi sebesar apapun bisa digapai. Oleh karena itu, jangan takut untuk bermimpi asal mimpinya juga harus diusahakan agar terwujud 😉

Sepertinya sekian dulu cerita jalan-jalan di Old Traffordnya, semoga postingan ini berguna dan jangan lupa untuk tonton videonya agar bisa ngerasain langsung kenikmatan hadir di stadion Old Trafford. Semoga pembaca sekalian suatu saat bisa nyusul juga, Bye!