Internship dan Tesis Mahasiswa Master di Inggris

Mendapatkan kesempatan untuk belajar di luar negeri tentunya membuka peluang lebar bagi individu untuk mengembangkan diri. Bentuk pengembangan diri itu berbagai macam pula. Ada yang mengembangkan diri dengan cara nyemplung ke organisasi, ada yang mengaktualisasikan karya dengan cara mengikuti berbagai macam lomba, ada juga yang ingin menambal sulam CV LinkedIn dengan menambah pengalaman kerja melalui internship. Aku sendiri bukan tipe orang yang mampu mengembangkan networking dengan terjun ke dunia organisasi atau semacamnya. Oleh sebab itu, caraku mengembangkan diri adalah dengan ikutan volunteer atau melamar pekerjaan sebagai mahasiswa magang alias internship.

Jika sebelumnya di jenjang S1 aku jarang melakukan kegiatan sosial, maka di sini aku bertekad untuk berubah. Aku mulai aktif mengikuti kegiatan volunteer yang disediakan oleh kampus. Karena basisnya memang volunteer, kegiatan ini tidak menghasilkan uang alias materi namun memberikan value yang intangible. Seperti peningkatan skill komunikasi, peningkatan rasa solidaritas dan kepekaan, bahkan tak jarang volunteer juga bisa meningkatkan tingkat kepercayaan diri dan skill leadership.

Kebetulan, Students Union kampusku cukup aktif dalam mensosialisasikan aksi volunteer ini. Melalui alamat web https://www.qmsu.org/volunteering/, aku bisa memilih kegiatan volunteer mana yang hendak aku lakukan. Tidak harus setiap hari, minggu, atau bulan. Selama aku punya waktu dan sempat melaksanakan kegiatan tersebut maka aku bisa menjadi seorang volunteer alias relawan.

Volunteer di Hackney
Tips Volunteer: Pastikan kamu mengikuti kegiatan yang memberikan impact ke karir dan rencana masa depan. Jadikan volunteer untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan kepekaan terhadap lingkungan.

Sejauh ini, aku sudah mendaftar sejumlah kegiatan volunteer dan salah satunya sedang aku jalani hingga bulan Maret 2018 nanti. Yang pertama adalah volunteer lepas alias volunteer yang kegiatannya hanya satu hari saja. Yang kedua merupakan volunteer di sebuah lembaga non-profit charity yakni Cystic Fibrosis Trust. Alasanku mengikuti volunteer adalah agar aku tidak menghabiskan waktuku selama di Inggris dengan sia-sia belaka. Masa sih sudah diberi kesempatan lebih untuk berkuliah di luar negeri tapi tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya?

Alasan kedua melakukan volunteer adalah karena aku tidak terlalu suka berkomitmen. Kalau aku ikut organisasi seperti PPI UK atau London maka jadwal rapat dan kegiatan organisasi akan mengikatku, secara tidak langsung aku harus berkomitmen saat bergabung menjadi pengurus organisasi tersebut. Aku sudah kenyang berorganisasi, aku sudah bosan berkomitmen dalam organisasi, dan aku tidak mau waktuku tersita untuk organisasi. Jadi aku membatalkan niat untuk bergabung dalam organisasi PPI atau organisasi apapun. Jadi volunteer lebih bebas dan aku lebih bisa menentukan di kegiatan mana aku bisa mengaktualisasikan diri.

Setelah kebutuhan mengaktualisasikan diri tercapai melalui volunteer, tentu saja aku juga ingin mencoba untuk jadi 'pekerja' di negara asing. Salah satu caranya adalah dengan menjadi mahasiswa magang alias internship. Di Inggris, ada banyak perusahaan yang menyediakan peluang internship. Salah satunya Royal Mail yang membuka peluang magang bagi mahasiswa dengna benefit fast-track recruitment. Jadi, kalau magangnya sukses maka si mahasiswa magang ini berpeluang untuk bekerja di Royal Mail.

Sejauh ini, aku sudah melamar ke sejumlah perusahaan di Inggris untuk kegiatan Internship tapi rasa-rasanya belum ada yang jodoh. Dua di antara peluang internship tersebut lepas karena aku gagal di assesment online, yang satu gagal karena assessment online Matematika lalu yang satunya gagal di assessment online psikologi. Mungkin memang aku tidak cocok bekerja di sini? Atau aku harus berusaha lebih keras lagi?

Sistem rekrutmen internship di Inggris pun terbilang cukup mudah. Yang pertama kulakukan adalah menuju web penyedia lowongan kerja Universitas. Setelah itu aku pilih perusahaan yang menyediakan peluang internship sesuai dengan kriteria pendidikan dan jurusan. Biasanya, perusahaan-perusahaan tersebut akan menyediakan link khusus bagi pelamar untuk mengisi biodata dan lain sebagainya. Ada perusahaan yang mempermudah pendaftaran dengan pilihan 'connect to LinkedIn', ada juga perusahaan yang meminta pelamar mengisi borang manual. Yang jelas sih pelamar pasti akan diminta untuk mengirim CV. By the way, struktur CV di Inggris cukup berbeda lho saudara-saudara jadi pastikan kamu bikin dengan benar ya. Contoh CV yang dipergunakan di Inggris seperti ini.

Setelah aplikasi diterima, pelamar biasanya akan menerima e-mail. Kalau lolos seleksi administrasi ya pelamar akan mendapatkan link tes online, kalau tidak ya sudah berarti selesai di situ saja. Nah, personally aku maju hingga tahap assesment online dan gagal di tes tersebut. Untuk PWC recruitment misalnya, akan ada dua macam tes dan keduanya berhubungan dengan kemampuan matematika. Tes tersebut memiliki jangka waktu tersendiri untuk dikerjakan. Hasilnya akan diberitahukan sehari setelah tes online tersebut dilakukan. Begitu juga untuk Internship GE, pertanyaan tes online ini benar-benar menguji kepribadian dan sehari setelahnya akan diberitahukan hasil tes tersebut. Bila berhasil di tes online, biasanya pelamar akan dihubungi kembali untuk melakukan interview.

Tips mendapatkan summer internship di Inggris: lamar lowongan magang sejak bulan Desember-Januari. Biasanya perusahaan sudah membuka lowongan di bulan-bulan ini. Jadi, jangan tunggu semester B berakhir ya teman-teman.


Selain internship, mahasiswa Master di Inggris harus khawatir soal tesis di semester B ini. Masa studi yang cukup singkat (hanya 1 tahun) memang agak memaksa mahasiswa untuk bekerja lebih keras. Di akhir semester A, kami sudah diberi woro-woro untuk submit topik Tesis dalam kurun waktu dua minggu di awal semester B. Beruntung, topiknya sudah diberi oleh kampus (P.S mungkin ini cuma terjadi di Queen Mary University) jadi kami tinggal memilih saja. Ada dua pilihan juga yakni literature review dan empirical project.

Tesis literature review merupakan tesis yang tidak membutuhkan penelitian, intinya tesis semacam ini meminta mahasiswa untuk me-review artikel, jurnal, buku dan mengkorelasikannya dengan isu terkini baik itu di Eropa, Inggris, atau negara asal mahasiswa tersebut. Sementara empirical project merupakan tesis yang membutuhkan penelitian dan sumber data, singkatnya tesis ini mirip dengan skripsi yang ditulis mahasiswa S1 di Indonesia pada umumnya dengan metode kuantitatif. Panjang disertasi yang disyaratkan oleh kampusku adalah 7.000 kata atau sekitar 21 halaman A4 saja (berdasarkan penghitungan kasar). Sangat berbeda dengan skripsi di Indonesia yang mencapai 70-80 halaman atau bahkan lebih bukan?

Sayangnya, karena aku ini memiliki sifat yang suka meremehkan aku menganggap bahwa tesis ini mungkin tidak seberat skripsi yang pernah aku kerjakan. Tapi who knows ya? Di Indonesia plagiarism tidak diawasi secara ketat dan aku bisa menggunakan segala sumber di internet dalam membuatnya, 80 halaman pun tak jadi masalah. Sementara Inggris berbeda, mereka memiliki software khusus untuk memeriksa plagiarisme sehingga aku harus berhati-hati dalam mengutip dan harus sering-sering mem-parafrase kalimat agar tidak mirip dengan tulisan orang lain. Ditambah lagi tesis ini ditulis dalam bahasa Inggris. Tentu saja challenge tesis ini berbeda dengan skripsi yang pernah aku kerjakan. Semoga aku tidak lagi meremehkan pembuatan tesis yang kelihatannya memang 'cuma' 21 halaman ini.

Untuk penilaian tesis, kami (mahasiswa QMUL) tidak perlu melakukan sidang. Cukup tulis saja tesisnya lalu submit secara online. Tidak perlu nge-print, tidak perlu sidang, tidak perlu ribet birokrasi. Lalu tesis ini nanti akan dinilai oleh dewan penilai internal dan eksternal. Tesis yang mendapatkan predikat A alias Distinction nilainya minimal 60, sementara di bawah itu cukup Merit atau bahkan Pass saja. Dan untuk mendapatkan nilai 60 di Inggris itu susahnya minta ampun!

Parahnya, keterlambatan submit membuat tesis hanya diberi nilai maksimum 50. Kalau terlambat lebih dari satu hari ya Bye, selamat mengulang di tahun depan dengan nilai maksimum 50 sebagus apapun tesisnya. Too harsh to be true. Tapi ini artinya sistem pendidikan Inggris memang tidak main-main.

Ketika tesis mendapatkan nilai 60 sekalipun, mahasiswa (QMUL) tidak serta merta mendapatkan gelar 'Distinction' di ijazah mereka. Untuk mendapatkan gelar 'Distinction', dibutuhkan nilai tesis minimal 60 dengan nilai rata-rata mata kuliah lainnya minimum 60 juga. Bagiku, predikat 'Distinction' cukup sulit sehingga aku tidak mau muluk-muluk. Ya gimana nggak sulit, orang salah satu midterm-ku saja FAILED. Jadi, aku berharap yang penting Pass saja sudah cukup. Kalau bisa 'Merit' ya Alhamdulillah. Itu artinya aku harus bekerja keras agar tesisku dapat nilai 60 dan nilai rata-rata mata kuliah lain tidak kurang dari 50. Semangat Agista, kamu harus bisa!

Tips: Pengerjaan tesis di Inggris sebetulnya tidak 'sejahat' itu. Salah seorang dosenku bilang, "Don't try to impress anybody. It's not the right time to do that." Intinya, buatlah tesis yang 'sederhana' tapi kamu betul-betul paham bagaimana cara mengerjakannya. Tesis di sini tidak harus 'wah' kok. Semakin rumit desain penelitian maka kamu nanti akan semakin kesusahan karena memang waktu belajar Master lebih singkat dibandingkan di negara-negara lain.

So bagi kalian yang bertanya-tanya soal sistem tesis di Inggris di Inggris dan bagaimana caranya mengembangkan diri di luar negeri, semoga informasi yang kutulis ini bermanfaat. Dan jangan takut, banyak mahasiswa Indonesia yang buktinya masih lulus-lulus saja dari Universitas di Inggris kok. Kalau mereka bisa, masa kita nggak bisa sih? #menyemangatidirisendiri

Comments

Post a Comment

Thank you for visiting my blog, kindly leave your comment below :)