Jalan-Jalan ke Brighton: Sambangi Lokasi Syuting Westlife

Entah kenapa foto yang ini kok mirip foto Heechul di 'One More Chance'
Liburan sudah saatnya berakhir ketika kamu mendapatkan e-mail berisi break down alias rincian nilai dari petugas administrasi kampus. Dari 4 mata kuliah yang sudah mengadakan mid-term, ada satu mata kuliah dengan nilai paling buruk. Pendeknya, aku gagal dalam mata kuliah tersebut. Padahal aku sudah belajar mati-matian sejak dari awal semester hingga UTS. Aku bahkan paham betul the shit my lecturer talked about. Surprisingly, untuk mata kuliah yang kupikir bakal gagal total justru aku mendapatkan nilai yang lumayan memuaskan. Engga 'merit' atau 'distinction' sih tapi sudah lebih dari cukup.

Untuk menghibur diri, sebenarnya nggak juga sih, maka aku memutuskan untuk melanglangbuana ke Brighton. Alasan sebelumnya sebetulnya sedikit mengada-ada, aku pergi ke Brighton karena memang diajak oleh salah seorang teman seperjuangan LPDP di kampus yang sama. Karena pas liburan juga aku jarang kemana-mana, maka aku mengiyakan ajakan teman tersebut.

Kami ke Brighton mendapatkan tiket yang sangat murah, yakni 8.12 pounds pulang pergi. Itu artinya hanya 4.06 pounds sekali jalan atau sekitar Rp 65 ribuan. Kami janjian di London St. Pancras karena memang keretanya berangkat dari situ. Dan seperti biasa, aku agak telat padahal seharusnya kereta berangkat pukul 09.12. Aku malah baru sampai sekitar pukul 09.30. Kebiasaan buruk.

Musim dingin di Brighton sebetulnya bukan keputusan yang bagus, apalagi kalau jalan di hari yang mendung. Sangatlah tidak bijaksana pergi ke pantai di musim dingin seperti ini karena bisa bikin masuk angin. Ditambah lagi pantai Inggris tidaklah seindah pantai Indonesia yang punya pasir putih terhampar dan air laut berwarna biru yang segar dan indah. Suddenly I miss my home.

Tapi nggak papa, pantai di Brighton sudah cukup mengobati rasa kangen menghadap ke lautan. Untuk menuju Brighton dari London, kami naik kereta Thameslink selama kurang lebih 1 jam 45 menit. Saat itu kami tidak bertujuan ke pantai Brighton saja, tapi kami juga hendak pergi ke Seven Sisters National Park. Katanya sih Westlife pernah syuting video klip di sini, kalau nggak percaya coba deh tonton MV My Love Westlife ini:


Pada menit ke 2:21, nampak di baliknya adalah Seven Sisters National Park. Lalu ada apa sebenarnya di Seven Sisters selain keistimewaannya tampil dalam video klip Westlife? Well, tempat ini tuh definisi dari padang rumput di Inggris Raya. Padang rumput yang biasanya cuma ditemui di film-film kolosal atau film horror slasher barat gitu. Tapi kamu yang ada di Indonesia nggak perlu kecewa, ada replikanya kok yakni bukit teletubbies di bromo hahaha. Selain Westlife, penampakan Seven Sisters National Park yang ada di Sussex ini juga mirip dengan background MV Taeyeon - I. Biccheul sodneun skaaaiiyaiyaiyaiyayai.


Perjalanan dari Brighton city center ke Seven Sisters National Park ini memakan waktu kurang lebih satu jam dengan naik bus nomor 12A. Transportasi di Brighton & Hove cukup murah, cukup berbekal aplikasi pula. One day travelcard untuk student hanya dipatok 3.3 pounds yang berlaku selama 17 jam! Dengan catatan kamu harus membeli paket network saver di aplikasi tersebut. Kalau beli secara 'manual' di konter tiket dekat train station, kamu harus membayar 5 pounds. Nah, begitu menginstall aplikasi, saat naik bus kamu hanya perlu menunjukkan tiket yang telah diaktivasi saja pada Pak supir. Dan tentu, harga one day travelcard ini jauh lebih murah ketimbang one day travelcard London.

Sementara itu, ketika sampai di Seven Sisters untuk menuju pantai kita diharuskan jalan kaki selama kurang lebih setengah jam. Nggak bisa disebut trekking juga karena medannya cukup nyaman untuk dilewati. Saran dariku adalah lebih baik mengenakan sepatu boots, pasalnya aku salah sepatu karena mengenakan sepatu putih dan kondisi tanah sedang lembek dan becek. Jadi sepatuku kotor semua deh.


Kalau mau melihat pemandangan yang jauh lebih indah, kalian bisa memilih untuk menaiki bukit yang nantinya berujung ke jurang yang cukup tinggi. Tapi karena waktu tidak siap untuk trekking berat menaiki bukit, akhirnya kami hanya jalan lurus ke pantai saja. Namun pemandangan Seven Sisters sebetulnya lebih indah kalau kami memilih jalan dari Cuckmere Farm, bukan di Seven Sisters National Park itu sendiri.

Pantai di Inggris tidak seperti pantai di Indonesia yang berisikan pasir halus. Pantai di sini berisi batu-batu kerikil dan karang yang agak besar-besar sehingga bikin kaki cukup sakit. Ombaknya cukup besar juga dan kalau seseorang mendekat ke bibir pantai bisa jadi dia terseret ombak. Agak ngeri juga sih. Meski demikian, orang sini tetap bersyukur kok punya pantai. Karena saat musim panas nanti di Brighton bakal ada festival pelepasan balon udara seperti yang sering ditemui di Cappadocia, Turki.

Setelah cukup lama berjalan-jalan dan menikmati Seven Sisters, kami berbalik arah ke Brighton Pier. Tujuannya sih untuk mengejar sunset, apadaya waktu itu mendung sehingga kami tidak bisa melihat atau bahkan mengabadikan sunset yang seharusnya indah. Brighton Pier sendiri berisi sejumlah wahana permainan yang didirikan di atas laut. Ada permainan arcade, ada juga wahana pemacu adrenalin. Jangankan di laut, naik wahana adrenalin di darat saja aku tak berani.

Masuk ke Brighton Pier gratis, masuk ke Seven Sisters juga gratis. Hanya saja kalau mau main arcade atau naik wahana harus bayar (yaiyalah). Yah, setidaknya kita bisa menikmati pemandangan indah tanpa harus keluar duit gitu lho. Di dekat Brighton Pier sesungguhnya ada British Airways i360. British Airways i360 ini sebetulnya direkomendasikan karena kita bisa menikmati Pantai Brighton dari ketinggian dan berputar 360 derajat. Apalagi tiketnya cukup murah, student hanya perlu membayar 12.15 pounds. Bisa dapat diskon kalau pesan online terlebih dahulu setidaknya 3 hari sebelum keberangkatan. Karena tidak mengetahui hal ini, kami urung menaiki wahana yang berjalan sekitar 25 menit tersebut dan menikmati Brighton dari ketinggian.


Ujung-ujungnya karena kami cuma student, kami jalan-jalan saja dan makan-makan saja. Kebetulan ada Wafflemeister di Brighton sehingga kami mampir sebentar. Setelah makan waffle, dua orang yang pergi denganku mampir ke sebuah cafe. Berhubung mereka pecinta kopi jadi mereka ingin mencobanya sementara aku yang nggak paham kopi ya nggak tertarik tapi tetap ngikut karena kami memang jalan bareng hahaha.

Saat datang ke Brighton, kesan pertama yang kutangkap adalah kota ini kecil tapi tidak sepi. Memang sih Brighton merupakan kota turis jadi masih banyak orang yang berlalu lalang. Jalanannya naik turun, bikin cepat lelah juga apalagi buat aku yang paling malas melakukan kegiatan fisik. Kalau kata salah seorang temanku sih, Brighton ini mirip Batu. Kalau dilihat-lihat benar juga hahaha. Dan bangunan rumahnya itu lho, 'desa' banget. Benar-benar mirip dengan yang sering ditemui di film-film. Bahkan Brighton pun punya palang kereta yang nggak pernah kutemui di London, jadi berasa pulang ke Indonesia. Ketemu hal-hal kecil seperti itu bisa membuatku amazed. Memang sih di sini tuh banyak sekali yang membuatku terkejut dan tertarik karena ada beberapa hal yang jarang ditemui.

Sayangnya, karena 'desa' ada cukup banyak hal yang bikin dahi berkernyit saking anehnya. Seperti keberadaan bus stop yang tidak di pinggir jalan, jadi bus harus memutar jalan dulu untuk mengambil penumpang lalu balik ke jalan raya. Hal ini sangat tidak efektif. Ada juga bus stop yang bentuknya seperti gubuk kecil, seperti yang sering ditemui di film horor slasher begitu. Jarak antara satu bus stop dengan yang lain pun cukup jauh, padahal di London jaraknya hanya dua blok. Kata salah seorang teman sih begini, "Hidup di sini tuh lamban dan selow banget. Mungkin karena yang tinggal memang para orang tua." Dan aku pun menyetujui pernyataan tersebut, terbukti dari trayek bus yang berputar-putar. Sangat tidak efisien.


Kunjungan ke 'desa' Brighton kemarin itu membuatku sadar dan bersyukur kalau aku dapat kesempatan studi di London. Aku tidak bisa membayangkan seandainya aku kuliah di Sussex, Leeds, Oxford, atau Manchester yang jauh berbeda dari London. Mungkin aku tidak akan betah? Atau mungkin aku akan semakin mager kemana-mana? Atau mungkin aku akan jadi anak yang kuper dan norak saat menginjakkan kaki di London?

Intinya perjalanan ke bagian lain Inggris itu membuka perspektif dan caraku berpikir sih. Terutama saat sepanjang perjalanan berdiskusi soal teknologi apa yang kira-kira bisa diterapkan di Indonesia dan kelemahan apa saja yang dimiliki oleh sistem pemerintahan Inggris. Perjalanan ke Brighton kemarin itu sarat dengan diskusi semacam itu. Dan entahlah, apakah kami para pemuda Indonesia bisa mewujudkan diskusi-diskusi demi kemajuan Indonesia tersebut di masa mendatang?