Move On


Seharian ini aku tuh ingin nulis blog tapi belum ada satu pun ide yang muncul dan menggelitikku untuk menulis. Pada akhirnya saat aku buka-buka Facebook, aku menemukan bahwa aku sudah di-unfriend oleh temannya mantanku. Disappointed but not surprised. Satu, orang tersebut memang merupakan salah satu orang yang 'toxic' di linimasa sosial mediaku. Dua, itu berarti bahwa lingkaran pertemananku dengan mantan sudah benar-benar berakhir. Tiga, aku senang juga tidak lagi terlibat di lingkaran pertemanan yang menurutku nggak bermanfaat tersebut.

Sebetulnya hubunganku dengan sang mantan (ketiga) ini cukup rumit. Ya kami sudah putus sekitar akhir tahun 2016 tapi kami tetap nyambung dalam konteks romansa selama tahun 2017. Hingga dia benar-benar mengakhiri hubungan denganku pada akhir 2017 lalu. Benar-benar berakhir kalau kubilang karena setelah dia minta untuk selesai aku mengiyakannya. Sempat sih protes sedikit tapi aku berpikir kalau sudah tidak ada kemungkinan bagi kami untuk bersama lagi. Mungkin karena aku bosan? Mungkin karena dia tidak cocok saja denganku? Aku tidak tahu.

Uniknya, sebelum dia minta kami untuk mengakhiri semuanya aku sepertinya sudah mengakhirinya duluan. Selama lebih dari dua minggu aku tidak menghubunginya. Saat itu memang aku merasa malas saja, aku bosan dengan rutinitas. Aku ingin mencoba banyak hal baru di sini. Menghabiskan waktuku untuk jadi lebih produktif dengan menghasilkan tulisan dan video.

Ya begitulah. Produktif dalam kamusku berarti menghasilkan sesuatu, meski kata temanku itu nggak ada gunanya karena tidak berhubungan dengan bidang ilmu yang sedang aku pelajari saat ini. Tapi kupikir yang penting aku bisa menyalurkan passionku, yang penting aku bisa menyalurkan ide-ide yang ada di kepalaku. Itu sudah produktif. Lebih baik menghasilkan tulisan di blog atau menghasilkan vlog daripada tak menghasilkan apa-apa bukan?

Karena aku jadi lebih produktif tersebut, aku lupa bahwa ada seseorang yang menungguku untuk meneleponnya. Sebenarnya produktifitas dan kesibukanku itu hanya excuse, alasan utamanya adalah aku malas menghubunginya duluan. Mengapa harus aku dulu? Mengapa bukan dia? Kan dia yang ingin dihubungi. Alasannya sih karena dia ingin memberi waktuku untuk sibuk dengan diriku sendiri. Well, aku ini orang yang egois dan tidak peka. Kalau tidak ditanya ya mana mau aku menghubungi duluan? Toh Youtube lebih penting baginya daripada menghubungiku meski sekedar lewat chat.

Karena dia malas mengirimkanku pesan via chat itu pula aku merasa bahwa dia sudah tak lagi berusaha. Dia menuntutku untuk menghubunginya tapi ketika dia kuminta untuk menghubungiku, dia enggan. Dari situlah akhirnya timbul rasa malas. Rasa-rasanya aku juga sudah bilang kalau aku ini anak yang akan memperlakukan orang sebagaimana orang tersebut memperlakukanku. Jadi ya bukan salahku dong kalau aku menghilang begitu saja. Lucunya dia yang marah dan tiba-tiba minta berhenti.

Ya sudahlah, toh aku juga sudah malas. Kami berdua sudah sama-sama malas dan tidak berusaha untuk memperbaiki hubungan kami kembali.

Sebetulnya jauh sebelum itu aku sudah memutus hubungan pertemanan dengan lingkaran pergaulannya. Pasalnya aku bukan tipe orang yang suka diurusi ataupun mengurusi orang lain. Tidak cuma satu kali, berkali-kali bahkan, temannya selalu men-skrinsut tweetku lalu dikirim ke grup. Atau mengunggah ulang apa yang aku unggah di sosial mediaku. Karena ranah pribadiku mulai diusik seperti itu, aku putuskan untuk memblok semua akun teman-temannya meski ada beberapa orang yang tidak bersalah sekalipun. Dengan begitu aku benar-benar memutus akses antara aku dan gengnya yang tidak berguna itu.

Sebenarnya aku menyisakan jejaring pertemanan Facebook agar tidak terlalu obvious gitu kan. Tapi pada akhirnya aku di-unfriend juga. Ini berarti bahwa aku memang harus move on dan menutup semua kenangan soal mantan ini. Well, pada akhirnya aku kembali ke titik dimana aku bertemu dengan jodohku. Aku kembali ke diriku yang sibuk menggapai cita-cita.

Ah, perkara jodoh memang misteri ilahi.