Pilih Tinggal di Dorm atau Shared House (Flat)?


Bagi calon mahasiswa, akomodasi merupakan salah satu faktor penunjang lancarnya masa studi. Kalau lingkungan tempat tinggal nyaman dan kebutuhan terpenuhi dengan baik, pasti mahasiswa tersebut akan termotivasi untuk belajar dengan baik pula. Untuk aku sendiri, semasa S1 dulu tidak terlalu pusing soal urusan akomodasi ini karena aku masih belajar di Kota Malang. Tentunya karena aku tinggal dengan orangtua, masalah kendaraan, rumah, makan, dan lain sebagainya tidak terlalu kesusahan.

Barulah saat aku terbang ke Inggris untuk melanjutkan studi, aku merasakan jadi 'anak kos'. Yah walaupun taraf kesejahteraanku lebih bagus daripada anak kos 'asli' yang tinggal di Indonesia. Well, ngomong-ngomong soal kesejahteraan sebenarnya tidak jauh berbeda sih. Kadang aku juga heran, apa ya yang membuat stigma 'anak kos' di Indonesia hidup sengsara banget? Kalian tentu sering menemukan guyonan anak kos kan? Soal makan pas-pasan di akhir bulan lah, begini lah, begitu lah. Ujung-ujungnya kalau dipikir secara rasional, para anak kos juga masih tetap bisa hidup kok. Tidak seprihatin itu, agak lebay saja sih perumpamaannya.

Bicara soal tunjangan, sponsor beasiswaku memang terbilang dermawan. Living Allowance yang diberikan pada mahasiswa Inggris (yang tinggal di London) memang tidak besar tapi cukup. Dalam artian, kalau si mahasiswa pintar mengatur keuangan ya nggak bakal kekurangan (bahkan kelebihan). Kalau si mahasiswa boros ya tentu saja tidak cukup. Jadi memang taraf kesejahteraan itu sifatnya relatif, tergantung pada masing-masing orang.

Sebagai gambaran, Living Allowance dari LPDP adalah 1275 poundsterling (bisa naik sesuai dengan regulasi pemerintah Inggris tiap tahun). Dari jumlah tersebut, aku menganggarkan sekitar setengahnya untuk housing yakni 500-600 pounds. Aku tak ingin biaya sewa rumahku lebih dari setengah anggaran bulanan yang diberikan LPDP. Barulah sisanya yakni 500 pounds aku simpan sebagai tabungan bulanan dan sisanya aku bagi ke biaya transportasi 50 poundsterling per bulan, paket internet 20 pounds, belanja dan lain-lain.

Dari anggaran 500-600 pounds tersebut, timbullah pertanyaan "Manakah yang paling nyaman bagi mahasiswa? Dorm (asrama) atau shared house?"

Dulu banget, sebelum aku berangkat ke Inggris, aku berpikir untuk tinggal di dorm. Alasannya adalah aku ini anak yang cukup introver dan punya social anxiety. Jadi tidak terlalu suka berbagi kamar dengan orang lain atau bahkan berbagi space. Sayangnya, aku telat dalam melangkah. Aku baru meresmikan diri sebagai mahasiswa QMUL usai mengirimkan surat perpindahan Universitas di bulan Agustus. Tentu saja, di bulan tersebut housing QMUL sudah penuh dan aku tidak kebagian tempat di asrama.

Kelebihan asrama dibandingkan shared house antara lain: 1) akses ke kampus lebih mudah, bahkan asrama universitas berada satu kompleks di dalam kampus; 2) mendapatkan kamar privat, yang kalau beruntung bisa mendapatkan kamar mandi di dalam kamar juga; 3) lebih aman dan legal, karena urusan pembayaran dan lain sebagainya dilindungi oleh kampus; 4) lingkungan lebih majemuk karena bakal bertetangga dengan mahasiswa internasional lain.

Bagai dua sisi mata uang, tinggal di asrama kampus pun ada kekurangannya yakni: 
1) Harga sewa mahal, aku sudah melakukan survey ke sejumlah temanku yang tinggal di University housing dan mereka mengaku bahwa rata-rata harus membayar lebih dari 600 pounds per bulan untuk biaya sewa. Harga tersebut sudah termasuk bill sih tapi ... lanjut ke alasan berikutnya; 
2) Untuk harga 600 pounds, ukuran kamar cukup kecil. Dibandingkan dengan kamar yang kutempati sekarang, kamar yang dipakai temanku itu cukup sempit. Bahkan setelah aku teliti lagi, lemari yang disediakan juga kurang luas dan besar. Ditambah lagi ternyata kamar mandi dalamnya tidak terlalu nyaman untuk digunakan; 
3) Karena lingkungannya majemuk dan masih shared kitchen, kadang kita bertemu dengan orang-orang yang tidak higienis. Contohnya salah seorang temanku yang tinggal bersama mahasiswa internasional yang super jorok sehingga temanku tersebut merasa sebal tiap hari dan muak tinggal di dorm kampus;
4) Jarang berinteraksi dengan orang Indonesia 'senior' yang sudah tahu tips dan trik tinggal di London. Memang ada sih senior dari negara lain tapi tentu saja feelingnya berbeda ketika bertemu dengan saudara senegara kan?
5) Bakal kehabisan tempat kalau tidak gerak cepat. Karena housing campus itu diincar banyak orang, tentu saja kamu harus gerak cepat untuk booking tempat. Kalau tidak, nasibnya bakal seperti aku.

Aku sendiri merasa beruntung karena tidak jadi tinggal di asrama kampus. Aku tinggal bersama anak-anak Indonesia yang kebetulan juga awardee LPDP. Jadi kalau ada masalah LA belum cair atau begini dan begitu bisa kami diskusikan bersama. Dan kebetulan juga, flatmate-ku adalah orang yang sangat baik. Meski awalnya terasa asing, lama-lama kami jadi sebuah keluarga karena satu rumah. Kadang aku tidak bisa membayangkan kalau misalnya aku jadi berada di asrama, mungkin selamanya aku bakal jadi anti-sosial dan mager to the max.

Kamar flat yang kutinggali selama di Inggris
Aku tinggal di sebuah flat, flat yang mumpuni untuk ditinggali 5 orang. Di rumah, ada dua pasang suami istri dan aku jomlo seorang diri. Rumah ini kecil tapi nyaman dan bersih, maklum pemilik sebelumnya (landlord) memang merupakan keluarga kecil bahagia yang sangat peduli kebersihan rumah. Bagaimana tidak? Orang si landlord ini sudah menyediakan pembersih dalam berbagai jenis secara terpisah (pembersih kaca, pembersih mezanin, pembersih kayu, pembersih logam). Rumah yang kutinggali ini terdiri atas dua lantai, dia sendiri terletak di lantai 3 sehingga technically rumah kami berada di lantai 3 dan 4.

Ada tiga kamar, sebetulnya dua sih, karena yang satu sebetulnya living room yang dialih fungsikan sebagai kamar. Lalu ada dapur modern yang bikin betah masak, dan ada dua kamar mandi. Saat pertama kali masuk rumah ini, aku langsung suka. Memang agak mahal sih tapi kalau dilihat dari ukuran kamar, kenyamanan, dan dekat dengan berbagai macam hal (terutama mal besar yang bernama Westfield itu), aku jadi oke-oke saja. Meski terbilang cukup mahal, harga sewa rumah ini belum melampaui bujet bulananku untuk housing kok.

Nilai plus saat aku memilih untuk tinggal di flat adalah: 
1) Bisa memilih teman tinggal, jadi calon mahasiswa bisa memilih untuk tinggal bareng orang-orang Indonesia atau orang bule. Pastikan saja calon flatmate-nya orang-orang yang tidak merepotkan dan baik hati seperti para flatmate-ku; 
2) Memiliki kamar yang lebih luas, kalau yang ini sudah tentu sih tapi tergantung ukuran rumah juga ya; 
3) Bila flatmate adalah orang-orang yang bersihan, kamu tidak akan khawatir soal higienitas atau kebersihan rumah. Tapi jangan lupa untuk menyamakan visi saat pertama kali bikin perjanjian ya; 3) Kalau sewa rumah melalui agen, pasti legal dan aman. Jadi tidak perlu khawatir diusir mendadak oleh landlord atau apapun; 
4) Memiliki keluarga di negara asing, jadi tidak merasa terlalu sendirian sehingga jarang stress. Kalau ada masalah pun flatmate kadang siap membantu. Tak jarang juga flatmate yang sudah lama tinggal di Inggris (biasanya anak PhD) ngasih tips-tips murah bagi para mahasiswa master.

Kekurangannya kalau memilih akomodasi tipe flat antara lain:
1) Jauh dari kampus. Biasanya sih yang memilih untuk tinggal di flat harus mau berkorban (trade off) dengan jarak tempuh ke kampus. Beruntung aku tinggal di Stratford yang bisa ditempuh dengan satu kali naik bus 25 atau satu kali naik tube tapi untuk menuju stasiun tube harus rela jalan kaki selama kurang lebih 15 menit. Ini artinya ada pos pengeluaran tambahan untuk transportasi selama studi.
2) Cari teman flat yang tepat itu susah-susah gampang. Namanya juga manusia ya, pasti punya karakter yang berbeda-beda. Jadi untuk mencari flatmate yang benar-benar pengertian, sama-sama bersih, atau baik hati itu agak susah juga. Sekalinya ketemu bisa langsung klop, kalau sudah tidak cocok bakal ada konflik yang justru mengganggu periode studi.
3) Bills tidak inklusif. Jadi, bicarakan dulu permasalahan bills ini dengan flatmate agar tidak timbul konflik di kemudian hari. Pasalnya bills memang dibayarkan terpisah dari biaya sewa rumah dan pembagiannya pun disesuaikan dengan perjanjian masing-masing penghuni.
4) Pengeluaran bengkak di awal. Saat baru pertama kali datang, tentu saja tidak ada perabotan di dalam rumah alias kosong melompong. Sebaga penghuni flat, mau tidak mau harus belanja keperluan bersama untuk rumah seperti kitchen utensils, duvet, meja, kursi, dan lain sebagainya yang tidak disediakan landlord. Kalau masalah kulkas, kompor, dan mesin cuci sih ada. Tapi kan wajan, piring, gelas, dan lain-lain tidak disediakan. Saat pertama kali pindah, masing-masing penghuni flatku harus merogoh kocek lebih dari 100 pounds.

Tips dalam mencari akomodasi selama tinggal di Inggris adalah banyak-banyak join grup. Biasanya informasi soal sewa flat, sublet, dan lain sebagainya itu disampaikan dari mulut ke mulut via grup. Aku sendiri mendapatkan informasi dari salah seorang teman satu angkatan PK. Karena waktu itu memang aku baru join grup LPDP Jerman saja, bukan grup LPDP Inggris. Begitu mendapatkan informasi, aku langsung menghubungi kontak yang tersedia.

Berhubung iklan yang ditawarkan sudah cukup lengkap yakni berisi luas kamar, jumlah kamar, fasilitas yang disediakan, aku tidak terlalu banyak bertanya. Aku hanya bertanya apakah slot untuk penghuni baru masih tersedia atau tidak dan permasalahan biaya. Sebetulnya jangan ditiru karena pola pikirku ini terlalu sederhana. Tapi jangan terlalu banyak tanya juga karena kesannya akan berlebihan, tanyalah dengan wajar mengenai hal-hal yang kamu rasa belum dijelaskan di iklan flat.

Yang terakhir, pastikan kalau biaya akomodasimu jangan sampai lebih dari setengah bujet bulanan yang telah kamu alokasikan. Lalu pertimbangkan juga jarak tempuh dan fasilitas yang ada di sekitar tempat tinggal. Selebihnya semua tergantung selera masing-masing. Jadi, semoga beruntung dan semoga postingan ini membantu. Annyeong~ 🙋

Comments