Sepatu

Aku baru sadar kalau aku tuh sering banget posting foto sepatu di linimasa Instagram. Mungkin awalnya aku ingin bergaya sok-sok edgy begitu tapi kenyataannya tidak juga sih. Toh buktinya aku baru sadar kalau aku posting sekitar 7 buah foto sepatu di sosial media tersebut. Dan kalau dipikir-pikir lagi, unlike another girls or women outside yang lebih suka belanja pakaian atau aksesoris, aku adalah orang yang lebih tertarik untuk mengoleksi sepatu. I also wonder why? Why?

Kalau dihitung-hitung lagi, jumlah sepatu yang ada di rumah (Malang) ada sekitar 5 buah. Terdiri dari sepatu sneakers, sepatu kerja, sepatu wedges, sepatu sandal, sepatu main, dan ah entahlah bahkan aku sudah lupa sama bentukan sepatu yang kusimpan di rak rumah. Begitu sampai Inggris pun begitu, aku hanya membawa sebuah sepatu converse warna biru yang sering kupakai itu dan juga sandal. Turns out, sejak boxing day kemarin aku kerap kali beli sepatu baru hingga kini jumlahnya mencapai 7 buah! Gila gila gila.

So, in this post let me tell you a bit about my shoes and its history. Dimulai dari sepatu yang pertama yakni sepatu lukis ini (sekarang aku sudah tak tahu keberadaannya dimana).
A post shared by Agista Saraswati (@agistajung) on

Sepatu ini merupakan pemberian dari seorang mantan di hari ulang tahun ke-17. Sepatu ini selalu kupakai kurang lebih selama 4 tahun. Satu, karena sepatu ini diberi oleh orang yang 'berharga' buatku. Dua, karena sepatu ini nyaman. Prinsipku dalam memilih sepatu adalah yang penting nyaman dan enak dikenakan. Nggak ribet pula. Jadi ya sepatu ini memang menjadi salah satu sepatu favoritku.

Selanjutnya, ada sepatu sneakers ankle high. Karena aku ini memiliki kepribadian tomboy, aku suka banget sepatu sneakers. Apapun bentuknya. Bahkan dulu aku gila banget dalam mengoleksi sepatu basket padahal aku tak pernah bermain basket. Personally, aku memang suka ankle high shoes sayangnya sepatu model begitu tidak terlalu cocok buatku karena tungkaiku besar. Mengenakan ankle high shoes semakin membuat kakiku terlihat besar and yet, I still buy those kind of shoes.

A post shared by Agista Saraswati (@agistajung) on

Sepatu sneakers ini juga masih jadi favoritku. Sampai saat ini sepatu ini masih ada dan kondisinya bagus pula (usianya sudah lebih dari 6 tahun). Sayangnya aku tidak membawa serta sepatu ini ke Inggris, aku biarkan dia berada di rumah tersimpan di tempat yang semestinya. Beberapa tahun terakhir aku jarang mengenakan sepatu ini karena memang belum ada situasi yang pas bagiku untuk mengenakannya.

Selain mengenakan sepatu, aku juga tipe orang yang senang mengenakan sandal. Sudah aku jelaskan sebelumnya bahwa prinsipku adalah untuk tampil nyaman. Comfort is number one priority, jadi ya kalau aku malas ribet mengenakan sepatu, aku cukup memasukkan kakiku ke sandal jepit. Less effort yet comfortable.

Aku pun nggak pernah malu lho jalan-jalan ke mall cuma pakai sandal, nongkrong sama teman cuma pakai sandal. Ya karena aku malas banget jadi orang ribet apalagi takut kalau kakiku jadi belang. Well, selama di Indonesia kakiku selalu belang karena aku kemana-mana lebih memilih pakai sandal daripada pakai sepatu hahaha.

Sebelum Diana Rikasari hiatus dari usaha sepatu iwearUP-nya, aku merupakan pelanggan setia. Total sudah ada tiga pasang sepatu yang kubeli dari iwearUP dan salah satunya sudah kujual karena kesempitan di kakiku. Dan sepatu ini merupakan salah satu favoritku karena enak banget dipakainya. Kelebihan lainnya adalah, aku masih bisa tampil formal tanpa harus mengenakan sepatu perempuan yang ribet dan membuat tumitku kesakitan.


Salah seorang temanku pun naksir juga pada sepatu favoritku ini. Sayangnya berhubung iwearUP sudah tidak produksi lagi, aku jadi tidak bisa window shopping dan memesan sepatu lucu-lucu dari iwearUP. Sorry not sorry, desain sepatu iwearUP kini sudah tak menggiurkan lagi.

Selanjutnya ada sepatu converse biru yang suering banget nongol di feed Instagramku. Sepatu ini sering sekali kupakai karena sangat nyaman. Ya bisa dipakai ke gunung, pantai, jalan-jalan, segala macam situasi deh pokoknya. Bahkan sepatu inilah yang menemani hari-hari pertamaku sebagai mahasiswa Inggris.


Sepatu ini tuh dibelikan oleh Ayahku dan merupakan sepatu converse pertama yang pernah aku punyai. Aku pun baru punya sekitar tahun 2013 yang mana itu so out of date banget. Yaiyalah orang converse itu ibaratnya sepatu mainstream yang dipakai oleh anak-anak muda seangkatanku sejak aku masih SMP, eh aku baru punya ketika sudah berusia 20 tahunan. Beruntung aku adalah anak yang pandai memelihara keawetan barang, hingga saat ini sepatu ini terlihat seperti sepatu baru lho. Nggak buluk kayak sepatu converse anak-anak skater gitu.

Lalu selanjutnya ada sepatu sneakers (?). Bukan sneakers sih, lebih tepat disebut sebagai sepatu jalan-jalan. Harganya nggak sampai seratus ribu, dibeli karena emang pengen aja punya sepatu lain selain ankle high sneakers dan converse itu. Sayangnya aku salah beli sepatu karena ukurannya agak kekecilan. However, aku tetap sering pakai sepatu ini sih.



Selanjutnya ada lagi wedges dari iwearUP. Sebetulnya wedges ini nyaman dipakai, hanya saja ukurannya terlalu kecil buat kakiku padahal ukuran panjangnya sudah pas. Apakah ini memang karena kakiku yang terlalu besar dari kaki para wanita kebanyakan? Itulah sebabnya aku tidak terlalu suka sepatu perempuan. Sebab sepatu mereka itu berukuran kecil sementara kakiku ini besar banget.

Berhubung aku hanya membawa satu sepatu saja dari Indonesia dan tidak suitable dengan cuaca Inggris, aku beli sepatu baru dong. Harganya murah, hanya 15 pon (kalau dirupiahin nggak sampai 300 ribu) karena beli di Primark. Sepatu ini kubeli karena modelnya mirip dengan Timberland alias Timberland KW. Sebelum membeli yang asli seharga ratusan pon tersebut, aku ingin mencoba dulu KW-nya seperti apa. Hmm rupanya not bad tapi memang kualitasnya tidak bisa dibandingkan sih. Anyway, selama tiga bulan di Inggris sepatu ini jadi favoritku karena memang bisa menghalau hawa dingin alias bikin kakiku tetap hangat. Hanya saja dia tidak waterproof. Tapi nggak papa lah ya, saat pakai sepatu ini rasanya aku jadi sangat macho and that's what I like.
A post shared by Agista Saraswati (@agistajung) on

Sampai sepatu di atas, semua harga sepatuku tidak ada yang lebih dari satu juta rupiah. Paling mahal mungkin converse warna biru tersebut karena kalian tahu sendiri berapa harga converse di Indonesia bukan?

Mulai dari sini, harga sepatuku agak sedikit lebih mahal padahal sebagian besar atau bahkan semuanya aku beli dalam kondisi diskon. Satu, karena aku beli di Inggris yang mana kursnya jauh lebih besar dari Indonesia. Dua, karena harga sepatu di Inggris itu terlihat murah (kembali ke alasan pertama).

Yang pertama adalah sepatu adidas neo ini. Lagi-lagi aku melakukan kesalahan dengan membeli sepatu yang kekecilan. Itu semua disebabkan oleh ketidaktahuanku akan ukuran kaki yang berbeda. Ukuran kakiku di Indonesia berkisar 39-41 sama dengan ukuran Eropa, sementara kalau dikonversi ke ukuran Inggris seharusnya 8-9. Sayangnya karena aku mengukur kaki menggunakan penggaris dan mendapatkan angka 24,5 cm aku jadi memilih ukuran 6. Pas sih tapi sempit banget. Meski kekecilan, mau tak mau aku harus tetap memakainya karena aku suka sekali dengan desain sepatu ini.

Harga sepatu ini seharusnya 60 pon atau sekitar 800 ribuan kalau dikonversi ke rupiah. Berhubung aku ini adalah discount hunter, aku berhasil mendapatkan sepatu ini hanya seharga 40 pon. Yah lumayan lah ya.

Lalu tak berhenti dari situ, aku beli lagi sepatu karena sedang musim boxing day. Saat ini yang kuincar adalah Timberland asli (bukan yang KW lagi). Satu, karena timberland itu waterproof. Dua, karena timberland itu style yang aku banget. Biasanya harga sepatu boots Timberland bekisar 100-125 pon yang mana kalau dikonversi bisa berjuta-juta. Nah, kemarin aku membeli dengan harga diskon sehingga dapat hanya sekitar 70-80 pon. Masih mahal sih tapi cukup oke lah.

Biasanya sepatu Timberland berwarna cokelat gitu kan, nah kebetulan banget aku mendapatkan warna yang anti-mainstream yakni warna putih tulang. Biasanya sih orang sini kalau nggak beli yang warna cokelat ya warna pink gitu. Alasanku memilih warna ini adalah karena dia tidak mainstream dan warnanya pun masih netral bila dipadukan dengan baju apapun. Tidak terlalu norak juga. Bagiku pink Timberland bagus sih tapi agak norak aja kalau kupakai. Bukan styleku.

Kemudian, aku beli lagi dong satu sepatu (lagi-lagi karena diskon Boxing Day) yakni converse hi-top. Seperti yang sudah aku bilang, aku ini penggemar sneakers dan ankle high shoes. Jadi aku membeli converse ini. Yang makin bikin aku kepincut adalah bahannya leather, berbeda dengan converse-converse kanvas yang sering kutemui di Indonesia. Ditambah lagi harganya cuma 30 pon dari yang semula 65 pon. Betapa beruntungnya aku bukan?


Mungkin sepatu yang satu ini merupakan satu-satunya yang bukan styleku banget, imut dan soft. Tapi karena sudah kepincut pada modelnya dan warnanya akhirnya kubeli juga. Kemarin sempat bingung sih apakah aku harus membeli sepatu ini atau sepatu converse lain yang berwarna cokelat di belakangnya tersebut. Namun setelah meminta pertimbangan sejumlah orang, mereka menyarankanku untuk membeli sepatu yang ini. Alasannya adalah karena aku sudah punya cukup banyak sepatu yang 'macho' jadi sekali-kali bergaya 'manis' boleh juga. Kalau dipikir-pikir iya juga sih, aku belum pernah punya sepatu dengan warna soft pink seperti ini. Dan sepertinya bosan juga kalau aku selalu pakai warna 'cowok' di sepatu dan bergaya 'macho' terus. Keluar dari zona nyaman sebentar, tak ada salahnya kan?

Well, mungkin segini saja postingan soal sepatu-sepatu yang aku miliki. Sebetulnya masih ada sejumlah sepatu yang tidak aku sebutkan tapi ya udahlah ya. Postingan ini sebetulnya sangat tidak berfaedah karena tujuannya hanya pamer koleksi semata. So, thank you for wasting your time reading this. Bye~