12 Kebiasaan Yang Berubah Setelah Tinggal di Inggris



Bulan depan, genap setengah tahun aku merantau sebagai seorang mahasiswa postgraduate di Inggris. Banyak orang yang bilang untuk beradaptasi butuh waktu sekitar satu tahun. Tapi mungkin waktu adaptasi bagiku lebih cepat, selain karena keadaan yang memaksa, waktuku di Inggris juga tidak lama. On the top of them all, aku memang bisa dibilang sebagai seseorang yang cepat beradaptasi pada lingkungan baru.

Seperti yang berkali-kali aku tulis dalam blog ini, aku cuma butuh waktu dua minggu untuk beradaptasi jadi orang London. Mulai dari menghapalkan jalan, membiasakan hal-hal baru, dan memahami hal-hal yang cukup berbeda dari Indonesia (Malang pada khususnya). Sebagai penanda bahwa kini aku agak nge-blend jadi Londoner, aku ingin membagikan pada kalian perubahan-perubahan yang kualami selama 5 bulan belakangan ini.
  1. Lebih sering jalan kaki
  2. Poin pertama tentu saja lebih sering jalan kaki. Harapannya sih aku bisa menurunkan berat badan dengan sering jalan kaki tapi kenyataannya nol besar, aku masih gendut-gendut aja dan tidak kunjung kurus. Kelebihannya, aku jadi lebih sering jalan kaki dibandingkan dengan di Indonesia. Memang sih daridulu aku doyan jalan kaki, namun sejak beberapa tahun terakhir aku jadi jarang melakukannya. Di Inggris, karena keadaan, lokasi, dan berbagai faktor aku kembali melaksanakan kebiasaan sehat tersebut. Ditambah lagi, jalan kaki di Inggris super nyaman sebab pedestriannya lebar, minim polusi, dan udaranya tidak terlalu panas. Meski demikian saat udara sedang super dingin, aku lebih memilih untuk tinggal di rumah dan nonton variety show. Yah, siapa sih yang mau jalan tapi membeku kedinginan?
  3. Lebih sering minum air putih
  4. Di Indonesia, aku lebih sering minum air berwarna dan berasa seperti susu kalengan, jus, minuman bersoda, dan lain sebagainya. Sebetulnya perubahan yang ini tidak sepenuhnya kulakukan di Inggris sih, beberapa bulan terakhir sebelum berangkat yakni ketika aku masih bekerja sebagai seorang editor di KapanLagi.com aku sudah membiasakan diri untuk banyak minum air putih. Sebelum itu, dalam sehari aku hanya minum 2-4 gelas air putih saja. Di Inggris, setiap hari aku membawa tumbler berisi air putih 600 ml dan selalu habis, di rumah aku masih minum air putih dalam tumbler berisi 2L air. Jujur, sejak di Inggris aku sangat jarang minuman berwarna dan berasa seperti yang kulakukan di Indonesia.
  5. Lebih sering tidur malam
  6. Teman-temanku pasti paham betul kalau aku ini anaknya selalu tidur cepat. Dibandingkan dengan teman-teman seangkatanku yang lain, aku tidur paling sore yakni jam 8 malam. Sejak di Inggris, aku tidak pernah tidur jam 8 malam. Aku baru bisa tidur jam 10 malam atau kadang paling cepat jam 12 malam. Padahal di musim dingin seperti ini, jam 4 sore itu langit sudah gelap dan jam 12 malam itu sudah terhitung sangat larut. Aku sendiri juga tidak tahu, bisa jadi pola tidurku seperti ini disebabkan oleh kesibukan yang selalu kujalani hingga jam 10 malam. Dan karena hal ini pula aku agak tersiksa sebab keesokan harinya tubuhku masih bangun pagi yakni jam 5 pagi. Paling telat jam 7 pagi dan itu pun langit masih gelap hahaha. Salah seorang temanku sempat kaget ketika mengetahui jam bangunku ini, "You got up so early, why did you do that?". "Well, because I usually wake up at 5 in Indonesia and it's considered 'late' by my parents."
  7. Lebih sering membayar cashless
  8. Berhubung aku merupakan pengguna ATM Contactless alias tinggal tempel kartunya langsung terbayar, aku jadi makin cashless. Sejak di Indonesia pun sebetulnya aku sudah membiasakan diri jadi manusia cashless alias tidak perlu bawa uang kas kemana-mana, cukup bawa kartu ATM. Di Inggris, kebiasaan ini semakin menjadi. Saat makan di luar tinggal tap kartu ATM, beli sesuatu tinggal tap kartu ATM. Untuk mencegah pemborosan, biasanya aku membatasi jumlah saldo yang ada di ATM sehingga tidak belanja-belanji terus. Mungkin suatu saat masyarakat Indonesia akan se-cashless ini kalau Bank Indonesia berhasil menyukseskan program GNNT. Dan aku merupakan salah pendukung program GNNT garis keras tersebut. Menjadi cashless itu banyak untungnya kok, lebih aman, lebih cepat, lebih efisien. Sangat cocok bagiku yang pemalas seperti ini.
  9. Lebih sering membaca
  10. Di Indonesia, rasanya aku tidak punya waktu untuk membaca tapi di Inggris aku punya lebih banyak waktu untuk melakukannya. Salah satu kesempatanku untuk membaca adalah saat commute alias berada dalam perjalanan. Satu kali naik bus menuju kampus, aku menghabiskan waktu sekitar 45 menit. Waktu yang sangat cukup untuk membaca reading list atau catatan mata kuliah atau bahkan novel. Apalagi saat di tube, karena di dalam tube jarang sekali terdapat sinyal internet mau tidak mau aku harus membunuh waktu untuk membaca. Tak heran kalau orang sini tuh literasinya tinggi wong memang mereka punya waktu untuk membaca kok.
  11. Lebih sering naik transportasi umum
  12. Di Indonesia, aku jadi tipe orang yang meletakkan 'Naik Transportasi Umum' di daftar paling terakhir. Satu, karena aku bisa mengendarai motor sendiri. Dua, karena transportasi publik di Indonesia itu kurang memadai. Sementara di Inggris aku dipaksa untuk membiasakan diri naik transportasi umum. Well, aku tidak protes sih sebab transportasi publik di sini super nyaman, convenient, cepat, dan terjangkau. Harganya boleh dibilang tidak terjangkau tapi tetap saja cukup murah bagi student yang pandai memanfaatkan diskon. Kereta di Inggris pun berbeda dengan kereta di Indonesia dari segi kenyamanannya. Bus pun sangat oke kalau dijadikan sebagai commuting line tiap hari. Meski berdesak-desakan, jumlahnya tidak se-jahanam di Indonesia. Dan tiap waktu selalu ada kereta atau bus yang jalan, tidak perlu ngetem lagi. Super membahagiakan deh.
  13. Lebih sering pakai sepatu
  14. Mungkin kalian agak kaget dengan poin ini tapi percayalah aku lebih sering mengenakan sepatu saat di Inggris daripada di Indonesia. Karena Indonesia adalah negara panas dan aku bukan orang yang ribet, aku lebih suka mengenakan sandal kemanapun aku pergi. Oleh sebab itu, kakiku sering banget belang saat aku masih berada di Indonesia. Berhubung udara di Inggris ini dinginnya jahanam, mau tidak mau aku harus mengenakan sepatu. Kalau tidak mengenakan sepatu, dapat dipastikan kalau kakiku bakal membeku. Kadang aku jadi penasaran bagaimana dengan musim panas nanti? Mungkin aku akan kembali mengenakan sandal kesayanganku. Kita tunggu saja tanggal mainnya.
  15. Lebih sering memanggang makanan bukan menggorengnya
  16. Di Indonesia, banyak sekali masakan yang diolah dengan cara digoreng. Tentu saja bagi kesehatan ini tidak baik karena terlalu banyak lemak serta kolesterol yang dikonsumsi. Di Inggris, kebanyakan hidangan diolah dengan cara dipanggang atau direbus. Dan karena beberapa waktu terakhir aku agak malas masak, aku pun jarang makan masakan yang digoreng. Bahkan memasak ayam pun sekarang aku menggunakan oven lho saudara-saudara bukan digoreng pakai minyak. Yah semoga saja tubuhku di sini makin sehat karena gaya hidupku yang cukup berbeda dari Indonesia.
  17. Lebih jarang makan nasi
  18. Karena di rumah hanya ada dua rice cooker dan keduanya bukan milikku, aku jadi jarang memasak nasi. Kalaupun ingin makan, aku minta pada flatmate-ku (tidak modal, jangan dicontoh). Oleh sebab itu asupan karbohidrat aku ganti dengan makan pasta atau roti, itupun tidak setiap hari. Kadang aku hanya makan protein saja yakni ayam yang kupanggang dengan telur tanpa nasi. Jadi, saat aku makan di luar dan kebetulan sajiannya adalah nasi, aku merasa sangat bahagia. Sayangnya, meski aku jarang makan nasi dan karbohidrat badanku tetap saja subur dan segar. Ya udahlah ya, nasib.
  19. Lebih sering minum susu
  20. Di Indonesia setiap hari aku minum susu tapi produk susu olahan bukan susu murni. Di Inggris, susu murni tanpa gula dijual dengan harga sangat murah yakni 1 pounds saja dan yang membuat susu tersebut seketika jadi bahan makanan pokok adalah susu tersebut siap minum. Dibandingkan minum susu Milo, aku lebih sering minum susu murni SKM tersebut. Tak heran bila pertumbuhan anak-anak di negara Western lebih cepat, sebab mendapatkan susu murni di sini sangat mudah dan tinggal *cleguk* saja.
  21. Lebih jarang nonton film
  22. Kesibukan mahasiswa master sangat tidak manusiawi. Memang sih tidak ada coursework atau deadline menulis paper tapi materi yang diberikan di kampus buatku itu terlalu banyak sehingga aku harus meluangkan banyak waktu untuk mencatat ulang (meski kadang-kadang juga timbul malasnya). Ditambah lagi, semester ini aku terlibat dalam kegiatan volunteering yang cukup mengurangi waktu leyeh-leyehku. Saat musim dingin tiba, malam datang lebih cepat dan membuatku tak produktif lagi. Maka dari itu rasanya setiap hari jadwalku padat sehingga tak ada waktu untuk nonton film seperti yang sering kulakukan di Indonesia. Jangankan nonton film, menelepon keluargaku dengan VoIP saja aku tidak sempat (apalagi pacar eh tapi ternyata dia tidak mengerti dan aku diputuskan, ya sudahlah #lahkokcurhat).
  23. Lebih sibuk
  24. Seperti yang kubilang di poin sebelumnya, aku sangat sibuk sehingga tidak punya banyak waktu untuk santai. Sebagai contoh, Hari Senin aku mulai volunteer pukul 2 siang hingga 6 sore. Bangun jam 7 pagi lalu membuat sarapan dan mengerjakan tugas yang belum selesai. Pulangnya sudah lelah, masak sebentar, lalu mengerjakan tugas lagi. Selasa aku harus kuliah jam 9 pagi hingga tak sempat menyiapkan bekal atau sarapan, dilanjut volunteering dan baru pulang jam 6 sore lagi. Rabu aku punya jadwal kuliah yang padat dari jam 1 siang hingga jam 8 malam, pulang sudah capek lagi. Kamis aku libur tapi tetap harus mengecek tugas, mencatat ulang, belajar sedikit, mengedit video, atau ngevlog, dan ada pekerjaan yang harus kulakukan. Jumat sama seperti Kamis, Sabtu kuliah dari jam 10 pagi hingga jam 3 sore lalu harus belajar untuk kuis dwimingguan. Minggu waktunya bersih-bersih rumah, mencuci baju, menyetrika baju, dan lain-lain. Yang membuatku makin tidak punya waktu adalah di sini waktu berlalu begitu cepat sehingga kalau tidak digunakan seefisien mungkin akan membuat banyak hal terlewat. 
Nah begitulah perubahanku selama tinggal di Inggris ini. Kadang aku juga heran kenapa sih waktuku di London lebih sedikit daripada saat di Indonesia, it seems like I have lots of things to do but so little time. Sementara di Indonesia aku punya banyak waktu untuk menghibur diriku sendiri dan tidak mengkhawatirkan hal-hal yang lain. Di Indonesia tuh rasanya waktu berjalan begitu lambat sementara di London pace hidupnya sangat cepat.

Terlebih lagi, meski aku meluangkan waktu untuk belajar lagi dan lagi aku masih belum bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Di satu sisi aku agak sedih, di sisi lain ya mau tidak mau aku harus memacu diriku untuk berusaha lebih keras lagi. Kalau nilaiku belum bagus itu berarti aku belum berusaha semaksimal mungkin. Dan mungkin kalian juga berpikir kalau aku terlalu banyak main, memang benar. Beberapa waktu belakangan ini aku lebih banyak hang out bersama teman-temanku daripada belajar dan aku sendiri agak keteteran membagi waktu. Tapi yah semoga aku bisa pulang dengan hasil yang memuaskan dan menjadi pribadi yang baru.