Because The Sun Barely Shines in London

Depan pertigaan Abbey Road
Dulunya aku menganggap bahwa cuaca di Indonesia itu sangat menyebalkan, terutama Malang di musim hujan. Ketika musim hujan tiba, rasanya tiada hari tanpa hujan. Mendung sejak pagi, udara dingin, bahkan gerimis yang tak kunjung usai, tak jarang pula terjadi badai jadi cuaca yang paling aku benci. Ya, aku benci hujan. Langit yang gelap dan suasana yang dingin tersebut seolah menyedot seluruh energi dari tubuhku. Padahal meski tidak hujan pun aku juga berdiam di rumah saja, seharusnya hujan tidak berakibat signifikan dong?

Entahlah, pokoknya aku tidak suka cloudy, rainy, and storm weather. Nah, seolah Tuhan tahu apa yang kubenci dan membuatku untuk jadi makin terbiasa olehnya, Tuhan memberiku jalan untuk kuliah di Inggris, London lebih tepatnya. Dulunya kukira London akan selalu punya cuaca cerah seperti yang sering aku tonton di film, makin dewasa aku jadi tahu kalau cuaca London itu semuram itu.

Berawal dari 9gag, para pecinta 9gag pasti tahu betul kalau London selalu diasosiasikan dengan hujan dan mendung, bahkan ada frase yang terkenal, "It's not going to be raining in London everyday but it does seem it's going to rain every day." Intinya, langit London itu hampir 80% selalu kelabu dan seolah-olah hujan akan turun tiap harinya. Oleh sebab itu, judul tulisanku kali ini 'Because The Sun Barely Shines in London'.


Cuaca cerah di London itu bisa dihitung dengan jari dan seringkali cuaca tersebut tiba ketika aku sedang sibuk-sibuknya. Entah ada kuliah dari pagi sampai malam atau ketika aku punya setumpuk tugas yang perlu diselesaikan. Tapi Jumat (16/02) lalu lain ceritanya. Cuaca cerah, tugasku sudah selesai kukerjakan, dan aku punya cukup waktu untuk jalan-jalan. YASS!

Berhubung aku sangat suka sunny weather, rasanya sayang aja gitu kalau aku mager (males gerak) dan mengurung diri di kamar. Akhirnya aku pun pergi tanpa tujuan, yang penting keluar rumah dan yang penting aku menikmati London saat matahari bersinar terang. Sebelum aku melakukan solo trip exploring London, seorang temanku sempat mengajak berpergian ke Richmond. Sayangnya karena ada satu dan lain hal, aku tidak bisa menyanggupinya dan rencana itu pun batal. Worry not, aku sudah punya rencana cadangan.

Hari itu aku pergi ke Abbey Road, lokasi zebra cross yang muncul sebagai sampul album The Beatles 'Abbey Road'. Sebenarnya aku sudah lama sekali ingin ke tempat ini tapi tak kunjung menemukan timing yang pas. Hingga akhirnya salah satu member grup favoritku yakni Chanyeol EXO mendahuluiku pergi ke Abbey Road dan berfoto di sana. Tahu Chanyeol telah berfoto di Abbey Road duluan membuatku makin ingin pergi dan aku pun sempat menyesal, 'Mengapa aku tak pergi saat dia masih ada di London?' kan kzl.
A post shared by EXO_CY (@real__pcy) on
Untuk menuju Abbey Road, dari rumahku aku hanya perlu naik satu kali tube jalur Jubilee. Ada sekitar 12 stop dari Stratford. Begitu sampai di stasiun tujuan, St. John's Wood, aku langsung mengecek peta dan kebetulan di depan stasiun ada peta yang menunjukkan arah dengan cukup jelas jadi aku tinggal mengikuti arahnya saja. Dan taraaa, setelah berjalan kaki tidak sampai 10 menit aku sampai di Abbey Road.

Begitu sampai, aku sebenarnya agak terkejut karena zebra cross legendaris tersebut below my expectations. Yang aku harapkan tidak sesederhana itu sebenarnya tapi kenyataannya ya itu memang zebra cross biasa. Terlebih lagi saat aku sampai, Abbey Road studios ternyata tidak dibuka untuk umum. Sementara itu, mereka menyediakan toko souvenir terpisah di Abbey Road 5 bagi kalian yang demen pernak-pernik The Beatles. Berhubung aku qismin ya aku tidak membeli pernak-pernik tersebut, lagian buat apa?? Duniawi.

Setelah memuaskan rasa ingin tahu tentang Abbey Road, aku tak langsung pulang melainkan menuju destinasi lain yang kupilih secara random dan spontan yakni The British Library. Jadi, aku pergi ke British Library sebetulnya karena ingin mengunjungi pameran Harry Potter: A History of Magic karena aku merupakan Potterhead. Dan kuliah di Inggris sangat mengakomodir diriku sebagai fans Harry Potter. Yha, di sini banyak sekali pernak-pernik Harry Potter. Sayangnya, lagi-lagi karena aku anaknya bodoh jadi aku tidak bisa masuk ke British Library untuk melihat pameran tersebut.


Masuk ke British Librarynya bisa sih tapi tidak ada kesempatan buatku untuk mendokumentasikan Pameran Harry Potter karena aku tidak punya tiket masuk. Sementara itu ketika aku cek lagi, tiket A History of Magic sudah sold out hingga akhir Februari nanti. Agista memang secerdas itu kok 😑

Mati rasa, akhirnya kuputuskan untuk mengunjungi Saville Row saja. Ada apa di Saville Row? Rupanya di jalan yang letaknya di sekitara Regent's Street, Central London, ini terdapat tailor jas para eksekutif muda 'HUNTSMAN'. Tahu tidak? Tailor ini merupakan toko asli yang dipakai sebagai lokasi syuting KINGSMAN. Iya, si Taron Edgerton dan Collin Firth dalam film mata-mata Inggris yang super kocak itu.
 
Toko HUNTSMAN ini juga sudah lama jadi incaranku tapi aku tak kunjung mendatanginya karena terlalu mager. Padahal aku sering sekali ke daerah Regent's Street ini untuk jalan-jalan bersama Yuli tapi kami tidak pernah melaluinya. Besides, seperti yang aku bilang aku tidak terlalu suka nge-vlog apabila sedang berjalan bersama teman.


Kalau dilihat-lihat lagi, rasanya aku tidak yakin kalau toko HUNTSMAN ini benar-benar jadi lokasi syuting Kingsman. Pasalnya ada lagi spot lain yang berada di Porter Street dibangun dengan properti yang betul-betul mirip dengan yang ada di film. Ditambah lagi di sebelahnya terdapat toko tailor lain yang punya bentuk jendela mirip dengan yang ada di film Kingsman. Namun keraguan tersebut terhapus saat ada plakat emas di depan pintu bertuliskan KINGSMAN. Google pun menyatakan bahwa toko HUNTSMAN inilah yang dijadikan lokasi syuting.

Well, mungkin segini saja ceritanya karena kalian juga bisa menonton videonya langsung di bawah ini. Semoga konten-konten yang ku-upload dan tulis menarik bagi kalian. Annyeong!🙋