Keresahan


Bicara soal kepikiran sesuatu yang bikin galau. Ada banyak sekali fenomena yang bikin otakku berpikir keras sayangnya aku ini thinker bukan doer. Jadi jatuhnya cuma sampai dipikir aja, tidak ada aksi untuk menanggulangi fenomena-fenomena aneh tersebut. To put it simply, bacot doang bertindak kagak. Ditambah lagi aku ini bukan siapa-siapa, social media influencer bukan, penulis yang dikenal bukan, anak organisasi juga bukan. Somehow, kadang aku merasa nggak punya hak untuk berkomentar (kecuali lewat twitter).

Sebagai anak sosmed, beberapa hari belakangan ini terjadi begitu banyak hal. Seperti isu parenting yang sudah aku bahas di sini, isu Jokowi yang hendak nyapres pada tahun 2019 nanti, dan yang paling menyita perhatianku adalah isu Akhwat Hunter yaitu pria-pria brengsek yang punya fetish pada wanita bercadar dan satu lagi, isu pelakor yang disamakan dengan poligami. Ada juga ding, yang masih hangat berkaitan dengan isu tersebut yakni cuitan Jenny Jusuf soal ritual doa sebelum bercinta. Di sini aku ingin mengungkapkan keresahanku satu per satu karena kalau kupendam sendiri bikin jerawatan.

Yang pertama adalah isu akhwat hunter, fenomena ini aku temukan dua kali via sosmed. Yang satu lewat Instagram story salah seorang adik kelas dan yang lain kutemukan di lini masa twitter. Saat membaca tulisan itu pertama kalinya, aku lewatkan begitu saja dengan pikiran, "Ah, pasti nanti ujung-ujungnya si cewek tidak boleh selfie." Kedua kalinya aku temukan postingan yang sama akhirnya membuatku penasaran, seperti apa sih?

Dalam tulisan tersebut, terdapat pembicaraan antara seorang akhwat hunter dengan seorang wanita bercadar. Anehnya, si akhwat hunter blak-blakan dan terang-terangan menjelaskan soal fetishnya terhadap si wanita sampai pada taraf membayangkan tubuh si wanita bercadar. Penjelasan ini benar-benar bikin aku jijik karena bisa-bisanya si pria berpikir sejorok itu pada si wanita dan mengungkapkannya secara langsung. Saat membacanya aku berkata kasar dalam berbagai bahasa dan terheran-heran.

Setelah dipikir-pikir lagi, apakah fenomena ini nyata? Apakah screenshot itu benar adanya dan tidak dibuat-buat? Karena kita tahu teknologi sudah canggih hingga fakechat pun bisa dibuat kan? Kalau benar adanya, bagaimanapun perempuan itu berpakaian mereka tak akan lepas dari pandangan nafsu sang pria. Bagaimanapun wanita tidak akan pernah aman dong? Kalau wanita tidak aman, apakah mereka harus benar-benar ada di rumah dan tidak bersosialisasi? Apakah salah wanita mereka dilahirkan? Apakah sebaiknya tak ada wanita di dunia ini? Semakin dipikir membuatku semakin merasa ngeri.

Aku dilahirkan di keluarga Islam memang, tahu mana yang diperintahkan dan dilarang bagi wanita. Sayangnya aku belum hijrah untuk jadi wanita yang disyaratkan oleh keyakinanku. Karena aku berpikir, kalau aku hidup tapi tidak memenuhi mimpi-mimpiku ya buat apa? Aku tahu akhirat itu ada dan harus aku pertanggungjawabkan tapi rasanya sia-sia saja hidup kalau aku tidak keluar rumah, bertemu orang baru, menuntut ilmu, dan berkarya for the sake of my own safety from those hungry bastard eyes. Bukankah sesungguhnya soal nafsu itu merupakan tanggung jawab masing-masing ya? Bukankah bukan salah wanita saja dalam berpakaian tapi pria juga diharuskan berpuasa dan menjaga kemaluan ya? Sekarang gini deh, kalau pria gak bisa nahan nafsu pada wanita apapun pakaiannya apakah masih salam wanitanya? Engga kan? Ya dasarnya nggak bisa menahan hawa nafsu padahal ada solusinya dan jelas, PUASA.

Ada solusi lain yang bisa dilakukan seseorang biar mereka nggak nafsuan dan ini kentara banget para akhwat hunter tersebut merupakan pria tidak bermutu yang mau enaknya sendiri. Bekerja, menyibukkan diri, berkarya. Para pria yang kutemui, yang sibuk meniti karir dan masa depan tidak punya pikiran sejorok itu. Mereka mengalihkan energinya ke hal-hal yang lebih bermanfaat dalam hidupnya. Kalau kebanyakan nganggur, tidak berkarya, dan tidak melakukan apa-apa ya memang pikiran menjurus ke seks belaka. Jadinya apa? Ya bajingan-bajingan lapar mata tersebut. Sampai lihat mata cewek aja sange. Apakah kalian masih mau menyalahkan wanita karena cara berpakaian mereka? Tidak bisa begitu bung. Pria juga salah kok dan wanita juga nggak selalu benar 😏

Di satu sisi aku juga tidak bisa menjustifikasi pria-pria tersebut karena ya emang bawaan mereka begitu, seperti yang dijelaskan dalam tulisan ini. Ya memang fetish, ya normal tapi masih tetap heran aja kok bisa mereka ngomong langsung tanpa sensor begitu? Sengaja? Masokis? Tapi ada benarnya juga sehingga para wanita ini jadi lebih aware. Sungguh problematik namun bikin gemas.

Buat para wanita, kalau menurutku sih ya tetap berperilaku seperti biasa aja. Jangan buat para akhwat hunter itu punya kuasa atas kita, melarang kita mengunggah foto di Instagram. Itu bukan salah kita tapi salah mereka yang tidak bisa mengendalikan diri sendiri. Dan soal dosa serta lainnya serahkan saja pada Tuhan, toh kita sudah sebisa mungkin menjaga diri agar tidak membuat pria horny dengan menutup aurat. Kalau mereka punya fetish itu dan berimajinasi yang tidak-tidak ya itu kan urusan mereka. Kalau bisa tetap berkarya dan jangan takut karena wanita itu sungguh kuat, bahkan kalau bisa tangkap para brengsek itu lalu hukum mereka sampai jera. Ya, kalau aku sih bakal aku potong kemaluan mereka terus kujejalkan ke mulut mereka sendiri dan kubiarkan mereka mati kehabisan darah perlahan-lahan.

Yang kedua, pelakor dan poligami. Beberapa hari yang lalu, seorang teman mengunggah postingan berbalut dakwah yang menyatakan bahwa merebut suami orang (kalau fitrah) itu namanya bukan pelakor tapi poligami. Saat itu juga aku langsung berkata kasar. What the hell dude? Merebut suami orang dan poligami itu hal yang jauh berbeda. WAAAAAAY TO DIFFERENT! Inilah yang membuatku sebal pada akun-akun berkedok agama tersebut, belajar agama aja gak bener udah bikin postingan dakwah yang salah. Padahal sudah jelas apabila merusak rumah tangga orang itu dosa besar baik bagi si wanita maupun si pria. Dan poligami bukanlah excuse untuk membuat para pria bebas menyalurkan hawa nafsu mereka. Coba deh para pria, pikir, Rasulullah bakal senang atau sedih kalau kalian melegalkan syariat poligami hanya untuk menyalurkan hawa nafsu kalian? Rasulullah tidak mencontohkan demikian bajingan!


Dua hal di atas itu membuatku sangat sedih dan resah karena dalil-dalil serta sunnah-sunnah Islam disalahgunakan untuk hal yang sebetulnya salah. Itu baru dua contoh, di sosial media ada banyak sekali contoh penggunaan dalil yang ujung-ujungnya jadi excuse untuk berbuat kerusakan di muka bumi. Zaman sekarang memang sudah edan dan dekat kiamat sih jadi semua serba terbolak-balik. Naudzubillah. Sebagai seorang Muslim, jelas banget dakwah-dakwah berbalut kepentingan tersebut membuat orang-orang semakin berpikir kalau Islam itu bukan kepercayaan yang baik. Hasilnya? Pecah belah, fitnah terhadap sesama Muslim, perang argumen yang tidak habis-habis. Siapa yang membuat Islam terlihat jelek? Pemeluknya. Siapa yang kena dampak dari citra Islam yang buruk tersebut? Pemeluknya juga. Kok senang ya membuat kaum sendiri terlihat bodoh, barbar, dan tidak menggunakan logika begitu?

Bukankah Allah tetap menyuruh kita sebagai manusia yang berpikir? Dalil tak bisa ditelan mentah-mentah, belajar agama juga tidak bisa hanya dari internet saja. Maka dari itu, sebelum menguliahi orang lain dengan dalil lebih baik belajar agama yang benar kepada orang yang tepat dulu, jangan lewat internet cuy.

Kalau belajar agama lewat internet jadinya keblinger seperti postingan di atas, kok bisa-bisanya perebut suami orang disamakan dengan poligami. Lah mbok pikir bojone Rasulullah iku gatelen nang Rasul sampe njauk dirabi ngono ta? You guys are surely degrading woman's dignity. Anggapan secara tidak langsung tuh begini: Wanita itu butuh pria, jadi pria manapun boleh jadi suaminya bahkan yang sudah bahagia dengan sang istri sekalipun kan dibolehin tuh poligami. Mentolo taksaduk dapuranmu.

Tapi gimanapun juga yang namanya perselingkuhan itu tidak terjadi satu pihak saja. Yang wanita doyan, yang pria juga tidak bisa menahan selangkangan. Kalau sudah begitu kelihatan lah kualitas si prianya. Pria setia itu susah dicari lho, itu berarti pria yang suka selingkuh memang kualitasnya rendahan. Pria selingkuh ini berbeda dengan pria yang melakukan poligami atas dasar menolong orang lain. Lah wong Rasulullah aja nikah lagi karena memang niat menolong orang lain kok. Kadang suka heran aja sih, wong istri satu aja lho nggak bisa habis kenapa harus nambah istri lagi sih?

Solusi untuk permasalahan dakwah bodong begini mungkin ya stop bermain sosial media. Sebenarnya aku sempat berpikir untuk out dari sosmed tapi ada sejumlah faktor yang aku butuhkan saat berselancar di sosmed seperti update informasi, menjalin komunikasi dengan teman-teman lama, dan dulunya tuntutan pekerjaan. Namun semakin ke sini user sosmed semakin ngawur dan tidak jelas. Banyak sekali hal yang menggelitik dan bikin aku takjub, "Kok bisa zaman sekarang orang-orang jadi begini ya?"

Lalu apa yang bisa kulakukan untuk mengatasi pembodohan-pembodohan massal tersebut? Ya aku cuma bisa bikin tulisan semacam ini. Aku tahu tulisan seperti ini bakal jarang dibaca karena daya literasi masyarakat Indonesia itu rata-rata rendah. Tapi aku bisa apa? Mungkin cuma bisa bantu report akun-akun bodong juga, sedikit nyinyir di sosial media. Sekali lagi, aku cuma bisa bantu lewat tulisan karena aku tak bisa mengharapkan orang lain punya standar etika yang sama denganku. Setidaknya orang-orang di lingkunganku teredukasi lah. Ingin ku tak peduli tapi ku tak bisa membiarkan kebodohan merajalela di jagad sosmed ini.

Yang terakhir adalah soal Jenny Jusuf dan masih berkaitan dengan poin kedua di atas. Namun yang kukritisi dari Jenny Jusuf saat ini adalah blundernya. Selain menertawakan soal postingan di atas, yang mana aku juga tidak setuju dan ingin membakar admin Facebook tersebut hidup-hidup, Jenny menertawakan anjuran Rasulullah untuk berdoa sebelum berhubungan intim. Well, this is way too much for me.

Lagi-lagi ini salah siapa? Salah Muslim lah yang suka banget sok-sok alim dan dakwah di sosmed. Mengingatkan orang boleh sih tapi jujur sebagai Muslim, kadang postingan dakwah yang bertebaran di internet itu juga terlalu berlebihan. Memang benar kalau sebelum berhubungan intim itu disarankan berdoa, tujuannya agar setan yang selalu ada dalam hidup manusia diharapkan tidak ikut campur dalam urusan tersebut. Sayangnya penyampaian anjuran ini cukup menggelikan dengan tambahan kalimat setan akan masuk ke dalam pori-pori tubuh dan hormon. Dude, stop! Kalian cuma perlu bilang itu anjuran Rasulullah tanpa sok-sok ngasih argumen ilmiah itu udah cukup.

Iya kalau argumen ilmiahnya bisa dipertanggungjawabkan, kalau engga diketawain lah yan iya. Dan betul kan? Hal tersebut diketawain oleh Jenny Jusuf. Mungkin Jenny berniat untuk menertawakan poin 'bodoh' tersebut tapi cara Jenny juga salah sehingga sejumlah orang menganggap bahwa Jenny menertawakan anjuran yang sebenarnya baik tersebut. Blunder juga lah buat Jenny.

Jadi? Sama-sama salah dong. Yang Muslim dakwahnya gak bener, yang non-Muslim sok-sok kritis dan counter argument tanpa research memadai terlebih dahulu. Hasilnya? Disayurin lah bareng-bareng. Implikasinya lagi apa? Netizen yang menyerang Jenny bakal dibilang sumbu pendek dan bla bla bla. Lah kan serba salah kayak lagunya Raisa.

Solusinya apa dong? Lagi-lagi balik ke minimalisir penggunaan sosial media. Dan kebetulan sih aku tidak follow selebtwit-selebtwit demikian sehingga timelineku agak lebih kalem. Solusi lainnya adalah (dan harus kuulangi lagi) belajar agama itu para guru saudara-saudara, jangan belajar sendiri karena kita nggak tahu musabab turunnya ilmu dari Rasulullah itu terputus. Lalu buat orang-orang yang ngaku selebtwit, alangkah lebih baik kalau nggak mengomentari hal yang di luar kompetensi kalian. Maunya sih kelihatan benar dan pintar, jatuhnya malah jadi tidak berkelas dan modal nyinyir doang. Ekspektasiku sih para selebtwit tersebut teredukasi dengan baik karena mereka influencer eh ternyata masih offside juga. Yah, semoga fenomena-fenomena menggelikan ini semakin menyadarkan kita untuk jadi netizen yang bijak dan pintar memilah konten.

Aku bukan orang yang sempurna dan aku pun masih khilaf juga kalau main sosmed tapi setidaknya kita bisa lah usaha sama-sama untuk memusnahkan konten-konten berisi pembodohan publik dan penggiringan opini gitu. Isi timeline kita kan tanggung jawab kita, begitu pun isi otak kita. So, adios! Sekian dulu nyinyirnya karena udah capek. Yang penting lega karena udah ngeluarin uneg-uneg.