Kontemplasi dan Cambridgeshire


Yang kusuka saat aku bertemu orang lain adalah pembicaraan yang timbul di antara kami. Tahu tidak, semakin banyak kamu bertemu seseorang maka akan semakin banyak cerita yang kamu dengar. Dan masing-masing individu tentu memiliki cerita yang menarik, bisa jadi salah satu dari kisah mereka memiliki nilai yang bisa kamu ambil dan kamu contoh dalam menghadapi masalahmu nanti. Salah satu orang yang paling suka kutemui adalah Mbak Ayod. Karena dia memiliki segudang cerita and that never fails to amaze me.

Minggu lalu aku dan Mbak Ayod pergi ke Cambridge, sebuah kota kecil di sebelah utara Inggris. Kota ini lebih dikenal sebagai kota pelajar karena yah you know about Cambridge University right? University of Cambridge merupakan satu dari sekian banyak universitas terbaik yang ada di Inggris. Namanya dikenal dimana-mana terutama di balai bahasa. Kepergianku ke Cambridge ini tak melulu untuk mengagumi keindahan arsitektur kolese Cambridge saja melainkan untuk berkontemplasi, berbicara banyak dengan Mbak Ayod, dan 'kabur' dari kepenatan London.

Awalnya aku ingin pergi ke Edinburgh karena banyak orang bilang kota tersebut sangat cantik, punya banyak bangunan bersejarah, dan faktor-faktor lain yang membuat diriku pasti bakal nyaman kalau berkunjung ke sana. Berhubung harga tiket kereta dan pesawat sedang tidak murah, ditambah lagi ini sedang musim dingin jadi rencana untuk pergi ke Skotlandia dibatalkan terlebih dahulu. Mbak Ayod menyarankan untuk pergi ke Cambridge karena memang dia belum pernah menginjakkan kaki di kota tersebut.


Bicara soal rencana, sebenarnya aku orang yang cukup spontan dan impulsif. Kalau ingin pergi ya tinggal pergi, kalau tidak ya tidak pergi. Tapi dibandingkan dengan tidak punya rencana sedikitpun, yah setidaknya untuk urusan transportasi dan akomodasi harus dipikirkan lah ya. Maka dari itu, aku sudah booking airbnb serta tiket kereta menuju Cambridge seminggu sebelumnya. Masalahnya hanya itinerary karena seperti yang sudah kubilang, aku ini orangnya spontan dan THE BEST PLAN IS NO PLAN.

Begitu sampai Cambridge, kami langsung pergi menuju ke airbnb. Padahal kami baru sampai sekitar jam 5 sore, masih ada waktu untuk jalan-jalan. Tapi kami berdua sama-sama tahu bahwa jam 5 sore itu di Inggris sudah tidak apa-apa alias banyak orang sudah balik ke rumah dan berkumpul bersama keluarga. Jadi begitu sampai di airbnb, kami mager dan ends up cerita soal banyak hal. Dimulai dari masa-masa muda Mbak Ayod yang ajaib hingga pembicaraan soal orangtua dan menjadi 'orangtua'.

Well, baru-baru ini topik parenting memang sedang hangat dibicarakan. Penyebab utamanya adalah Kei Savourie yang berbicara soal pentingnya kemapanan finansial sebelum seseorang memutuskan untuk jadi orangtua. Seperti biasa ada pro dan kontra, satu karena Kei Savorie menggunakan bahasa tajam yang tidak mudah diterima oleh netizen, dua karena budaya Indonesia yang meninggikan orangtua masih kental. Di satu sisi aku setuju dengan Kei, sama seperti pernyataan Mbak Ayod.


Bagi kami berdua, menjadi orangtua itu bukan masalah untuk jadi yang tercepat. Artinya, kita nggak berlomba bikin anak dalam hidup ini. Yang perlu dipastikan dulu adalah apakah kita bisa menjadi orangtua yang baik dulu bagi anak-anak kita? Apakah kita bisa menyediakan kecukupan pendidikan secara finansial dan mental bagi anak kita? Apakah kita bisa mendidik anak kita jadi orang yang bermanfaat ketika dewasa nanti? Apakah kita yakin bahwa kita membesarkannya dengan ikhlas dan tidak menuntutnya membahagiakan kita? Dude, being a parent doesn't mean our children have obligations to make us happy. Kita sudah bahagia dengan melahirkan dia dan membesarkan dia sebagai orang yang bermanfaat, masa sih kita mau merepotkan dia dengan meminta dia untuk menikah dengan orang yang kita pilihkan, pekerjaan yang kita pilihkan? Tentu saja tidak.

Menurut Kei, justru salah apabila orangtua meminta anaknya bekerja keras untuk menghidupi diri sendiri atau menanggung biaya pendidikan mereka sendiri. Sudah jadi tugas orangtua untuk menyediakan fasilitas terbaik dalam hal pendidikan dan semacamnya. Sayangnya banyak orang yang salah paham dengan hal tersebut. Bahkan banyak sekali social justice warrior yang menyerang Kei karena menganggap Kei tidak bersyukur dan menyalahkannya karena dia dianggap mengajak anak muda untuk 'menyalahkan' orangtua mereka karena tidak mampu membiayai sekolah hingga S2.

Padahal poinnya di sini adalah 'kalau belum siap jadi orangtua ya jangan jadi orangtua'. Well, argumen ini pun bisa dipatahkan oleh orang-orang yang nanti bakal bilang, 'Siap atau engga itu tidak ada ukurannya. Yang penting jalanin aja.' Ada lho pasti orang yang berpikir seperti itu, ada.


Sayangnya, karena aku ini anaknya visioner dan ambisius tentu saja aku tidak mau jadi orangtua asal-asalan yang tinggal bikin anak doang. Aku harus memikirkan dulu seberapa mampu aku mendukung anakku dalam mencapai cita-citanya. Aku juga harus menyediakan pembekalan mental yang cukup buatnya nanti, seperti orangtua Mbak Ayod. Orangtua Mbak Ayod adalah contoh orangtua idaman tapi memang agak susah untuk ditiru.

Pembicaraan soal parenting berakhir malam itu hingga kami terlelap dan bangun pada keesokan harinya. Mbak Ayod berulang kali bertanya "Kita mau kemana?" tapi aku tidak bisa memberi jawaban karena ya aku tidak tahu akan kemana. Beruntung ada trip advisor dan google maps jadi kami bisa melangkah kemanapun kaki kami melangkah dan berputar-putar di sekitaran Cambridge.

Tidak ada tujuan pasti saat itu, kami memilih untuk berkeliling sekitaran King's College dan St. John's College lalu pergi ke Market Square. Kami juga berkunjung ke Anthroplogy Museum yang jadi kegemaran Mbak Ayod. Sementara destinasi yang paling aku inginkan adalah American Cemetery karena penampakannya mirip dengan cover album Metallica 'Master of Puppets' #gagalmoveon.

Awalnya ada rencana untuk punting alias berkeliling kolese Cambridge dengan perahu kayu kecil, sayangnya kami tidak memiliki banyak waktu untuk melakukan hal tersebut. Sehingga kami melewatkan jembatan-jembatan ikonik seperti Bridge of Sighs, Mathematical Bridge, serta sejumlah bangunan lawas di dalam kolese yang bisa kamu temukan fotonya di Google. Worry not, meski kami berjalan kaki terus hari itu, kami sudah mendapatkan cukup banyak spot foto kok. Bahkan stok tersebut cukup bagiku untuk membuat sebuah vlog ala-ala video klip. Videonya bisa kalian temukan nanti di Youtube ketika sudah terunggah ya teman-teman 😍


Setelah puas berputar-putar di Cambridge, tibalah saatnya bagi kami untuk balik ke London. Di dalam kereta menuju London, lagi-lagi kami bertukar pikiran. Banyak kekhawatiran yang aku tumpahkan pada Mbak Ayod termasuk kekhawatiran soal masa depanku yang tidak tahu akan dibawa kemana? Apakah aku akan melanjutkan PhD atau pulang ke Indonesia tanpa jaminan pekerjaan yang pasti? Tapi aku ingin melakukan banyak hal dan salah satunya sedang aku usahakan yakni menerbitkan buku.

Mbak Ayod tumbuh di keluarga akademisi dan sang Ayah adalah seorang penulis. Dari Mbak Ayod aku belajar banyak bagaimana cara menulis yang baik dan semakin yakin untuk jadi penulis suatu saat nanti. Dalam perjalanan pulang tersebut aku juga mengungkapkan segala kekhawatiranku (lagi) sebagai seorang penulis. Maka dari itu aku menyebut perjalanan ke Cambridge itu sebagai kontemplasi. Karena berbicara dengan Mbak Ayod setidaknya membuka pikiranku soal apakah yang akan aku tekuni nanti saat pulang? Meskipun sebetulnya aku dan Mbak Ayod hingga kini masih dilanda existential crisis. Tapi yah, berbicara dari hati ke hati memang sedikit mengobati kekhawatiran itu kok 😊