Postingan ke-600: Nama Tengahku adalah 'Kegagalan'


Tidak terasa tahun ini sudah 9 tahun aku resmi mengelola blog random yang dulunya berdomain sangat alay (tapi aku lupa namanya). Tak terhitung jumlahnya aku gonta-ganti template hingga template terkini yang terlihat lebih sleek, elegan, dan pas di hati. Tak terhitung berapa topik yang telah aku tuangkan dalam bentuk tulisan dalam blog yang sebenarnya isinya tidak berfaedah-faedah amat ini. Sayangnya selama 9 tahun itu pula, blogku belum tembus adSense seberapa keras pun aku mencoba. Tapi ya sudahlah lah ya, yang penting kan hobi tersalurkan, monetisasi itu bonus.

Sebenarnya untuk memperingati postingan ke-600 ini aku ingin sedikit cerita soal perjalanan hidupku. Kesannya sedikit humblebrag sih sebenarnya jadi kalau kalian tidak terlalu penasaran lebih baik di-skip saja. Mengapa tiba-tiba aku punya ide untuk menulis artikel HUMBLE BRAG? Well, karena aku sering sekali membaca kisah-kisah awardee LDPD di Instagram. Rata-rata kisahnya dramatis banget gitu dan kalau dipikir-pikir ceritaku tidak se-dramatis itu tapi semoga cukup inspiratif. Selama 24 tahun aku hidup di dunia ini ternyata aku mengalami banyak hal yang sedikit banyak membentuk siapa aku sekarang.

Teman-temanku menyebutku ambisius. Aku sempat heran saja karena kurasa aku ini tidak se-ambisius itu dan menurutku kata 'ambisius' ini terlalu ekstrem untuk disematkan padaku karena aku telah menyaksikan seseorang yang jauh berambisi daripadaku. Hari ini aku kembali memikirkan kata tersebut, kalau dipikir-pikir memang zaman sekolah dulu aku se-ambisius itu.

Aku ini anak pekerja keras, untuk memenuhi keinginan atau ambisiku aku akan melakukan usaha sekuat tenaga. Aku sadar betul ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar, aku rajin belajar tiap pagi sebelum berangkat sekolah, mengaji, lalu sepulang mengaji aku mengerjakan PR lalu belajar lagi dan tidur pukul 8 malam. Untuk memenuhi ambisiku jadi seorang dokter (cita-citaku dulu adalah dokter anak), aku sangat menyukai pelajaran IPA. Karena aku bisa dibilang mahir dalam mata pelajaran tersebut, aku pun dikirim sebagai utusan sekolah untuk lomba mata pelajaran. Dari situ sudah terlihat aku ambisius.

Terlebih lagi saat ada pemilihan perwakilan siswa teladan. Ada seorang teman yang sampai sekarang aku tetap berhubungan baik dengannya, bisa dibilang kami rival di bidang akademis. Kalau temanku yang bernama Mayang ini mendapatkan peringkat satu, aku dapat peringkat dua, begitupun sebaliknya. Pemilihan perwakilan siswa teladan adalah puncak rivalitas kami. Di situ aku rela menginap di rumah wali kelasku, aku rela ikut les bersama teman-temanku lain di tempat itu. Padahal aku tidak les di wali kelasku tersebut. Entah karena ketidak adilan karena aku berasal dari keluarga yang kurang mampu atau memang karena kemampuanku tidak mencukupi, aku gagal jadi perwakilan sekolah untuk lomba siswa teladan.

Lucunya, saat itu aku berpikir kalau dunia tidak adil. Hanya karena aku anak seorang supir taksi dan karyawan pabrik. Hanya karena orangtuaku tidak punya cukup biaya untuk 'menyogok' wali kelas tersebut, hanya karena orangtuaku bukan tipe orang yang suka berbasa-basi dengan wali kelas, aku tidak mendapatkan kesempatan untuk jadi perwakilan sekolah. Naif memang, hingga saat ini pun aku tidak tahu mengapa bukan aku yang diloloskan jadi perwakilan sekolah saat itu. Tapi hidup harus move on kan?

Kalau kalian pikir aku berasal dari keluarga yang kaya raya atau setidaknya cukup, kalian salah besar. Aku berasal dari keluarga yang tidak berada. Orangtuaku menikah muda dulunya, usia Ibuku 22 tahun saat beliau menikah sementara pekerjaannya belum mapan-mapan amat, tidak punya rumah, gaji hanya puluhan ribu rupiah. Sementara Ayahku dulu bahkan bekerja serabutan sejak masih remaja, Ayah seorang putus sekolah beliau tidak tamat SMA. Kehidupan pernikahan orangtuaku tidak seindah itu, saat baru pertama kali menikah mereka harus menumpang di rumah Budheku. Lalu Ayahku bekerja sebagai sales keliling sementara Ibuku karyawan pabrik rokok. Baru beberapa bulan setelah itu Ibu dan Ayah baru bisa mengontrak rumah.

Kakek Nenekku pun demikian, mereka bukan orang kaya. Kakek-Nenek dari Ibuku, yang terhitung sangat dekat denganku bukanlah orang yang punya warisan cukup untuk diberikan pada anak-anak mereka. Kakekku dulunya bekerja sebagai PNS, tukang listrik di instansi militer sementara nenekku Ibu rumah tangga biasa yang punya 9 anak. Kakek dan Nenekku hidup di bawah garis kemiskinan, untuk makan saja Nenek harus memasak, mencuci, dan bersih-bersih untuk orang lain (kasarnya jadi pembantu). Ibuku jarang sekali makan di rumah, jarang membeli sepatu baru, karena hidup miskin tersebut Ibuku jadi sedikit kuper dan enggan bersosialisasi dengan teman. Beruntung Ibuku cukup pintar sehingga beliau mendapatkan beasiswa semasa sekolah tapi beliau tidak cukup beruntung untuk tahu bahwa ada beasiswa baginya untuk melanjutkan sekolah di perguruan tinggi.

Sementara Kakek dan Nenek dari Ayahku, keduanya bercerai saat Ayahku masih kecil. Ayah merupakan korban keluarga broken home yang tidak mendapatkan kasih sayang cukup. Sedari kecil, Ayah selalu dibandingkan oleh Kakekku dengan para keponakannya yang dianggapnya 'sukses'. Kalau dipikir, bagaimana Ayahku bisa jadi anak pintar kalau keluarganya sendiri sudah rusak dan dia tidak mendapatkan perhatian yang cukup? Tentu saja kondisi Ayahku tidak bisa dibandingkan dengan para sepupunya yang mendapatkan perhatian dan pengawasan dari orangtua mereka. Hubungan Ayahku dengan Kakek tidak pernah baik. Sementara Nenekku menikah lagi dengan orang yang tidak tepat. Karena kondisi keluarga yang carut marut tersebut, Ayahku harus bekerja menghidupi dirinya sendiri sebagai loper koran, penjaja aqua di stadion, dan tumbuh jadi remaja yang terjerumus pergaulan kurang baik.

Dibandingkan kedua orangtuaku, sebenarnya hidupku terhitung sedikit lebih beruntung. Meski kedua orangtuaku tidak punya warisan, hidup pas-pasan, hutang sana-sini, aku masih bisa sekolah. Karena kisah kedua orangtuaku itulah aku bertekad ingin jadi seperti Ibu. Sebagai anak pertama, tentu aku menyandang beban ekspektasi yang berat, memberi contoh pada adik-adikku, menjadi tulang punggung keluarga nantinya. Oleh sebab itu yang bisa kulakukan hanyalah jadi anak yang pintar. Ayahku selalu berkata kalau, 'Orang pintar itu pasti dibutuhkan di mana saja. Jadi orang pintar itu akan menjamin hidupmu jadi lebih mudah.' Kenyataannya tidak begitu, saat ini.

Aku cuma bisa jadi anak yang pintar untuk dapat beasiswa, setidaknya aku bisa meringankan beban orangtuaku soal biaya sekolah. Jadi bagi kalian yang bertanya-tanya kenapa aku ambisius dan kenapa aku terlihat 'pintar' itu karena aku hanya ingin mendapatkan beasiswa. Sesederhana itu. 

Sejak SD, aku jarang membayar sekolah dalam nominal yang mahal. Bahkan di SMP aku hanya perlu membayar Rp 25.000 dengan uang gedung Rp 300.000 saking 'kere'-nya keluargaku. Dibandingkan teman-temanku yang lain, uang SPPku itu sangat murah. Meskipun sangat murah, aku masih sering telat membayar SPP dan aku pun jarang membeli buku karena orangtuaku tak punya cukup uang untuk itu. Beruntung dalam beberapa waktu aku sempat mendapatkan beasiswa BKM sehingga aku tidak perlu membayar SPP untuk beberapa bulan. Dan karena kondisi seperti itu pula, aku jadi gemar menabung.

Uang saku aku sisihkan sebagian untuk membeli peralatan tulisku sendiri, membeli sepatu, membeli tas, atau bahkan membeli komik. Aku rela berlapar-lapar, tidak jajan, agar aku bisa menabung. Jaga-jaga apabila orangtuaku tidak punya uang sepeser pun untuk aku berangkat sekolah. Dan hal itu pun kejadian betulan saat aku duduk di bangku kelas 3 SMP.


Adikku lahir pada tahun 2006, saat aku masih belajar sebagai siswi kelas 3 SMP. Jarak antara rumah dan sekolahku cukup jauh, aku harus ganti angkutan umum dua kali setiap pulang dan berangkat sekolah. Suatu kali, Ayahku mencoba peruntungan untuk membuka bisnis travel. Sayangnya bisnis tersebut mengalami hambatan saat mobil yang disewakannya dirampok oleh orang. Karena insiden tersebut, Ayahku terlilit hutang dan hampir tidak pernah pulang ke rumah demi mencari hutang lain untuk menambal hutang tersebut. Ibuku waktu itu sudah dipecat dari pekerjaannya sebagai karyawan pabrik rokok. Ibu harus menghadapi para debt collector yang datang ke rumah dengan menjaga adikku yang masih bayi. Untuk beli susu pun orangtuaku tak punya uang, adikku harus meminum air putih atau teh sebagai pengganti susu formula. Sementara aku bergantung pada uang tabunganku untuk biaya transportasi dan uang saku selama orangtuaku tak punya uang. Dan adikku yang laki-laki harus berbuka di masjid karena kami benar-benar tidak punya uang untuk makan saat buka puasa. Ditambah lagi kondisi saat itu kami mengontrak rumah.

Ya, aku hidup nomaden. 17 tahun aku berpindah-pindah rumah. Maka dari itu sebelum menikah aku berpikir untuk membeli rumah dulu. Berpindah-pindah rumah itu tidak mengenakkan teman-teman, lelah, capek, apalagi keluargaku senantiasa dipandang sebelah mata karena status mereka sebagai 'warga kontrak'. Sampai di sini, aku menangis mengingat masa itu hahaha.

Mungkin kalian tidak akan menyangka kalau aku berasal dari keluarga yang semiskin itu kalau melihat apa yang kutulis dalam blog ini atau dari persona yang terlihat di sosial mediaku. Tapi itu kenyataannya, aku berasal dari keluarga miskin pada awalnya. Makanya kadang aku sebal kalau aku dianggap berasal dari keluarga yang berada dan bahwa Ayahku punya uang yang sangat banyak, padahal tidak demikian saudara-saudara. Aku ini sobat qismin kalian hahaha.


Kondisi keuangan keluarga yang tidak memungkinkan tersebutlah yang membuatku masuk sebagai seorang siswa SMK. Saat itu aku hanya berpikir kalau sesudah lulus SMK aku akan langsung kerja demi membantu Ayah dan Ibu. Sayangnya aku masuk ke sekolah yang salah. Kupikir di SMK-ku aku akan lulus lebih cepat (hanya dua tahun) karena dulu janji sekolah seperti itu. Ketika sudah masuk, peraturan berubah, aku baru bisa lulus tiga tahun normal. Ditambah lagi sekolah SMK yang kumasuki menarik biaya yang sangat mahal. Sejak SD hingga SMK, biaya sekolah SMK-ku lah yang paling mahal. Ditambah lagi tuntutan ini itu yang tak bisa dipenuhi karena lagi-lagi kondisi keuangan keluargaku yang tidak mumpuni.

Namun hidup itu memang sudah digariskan, mau tidak mau, suka tidak suka, aku mendapatkan teman-teman yang hingga kini ada di sisiku sejak SMK. Di SMK itu aku belajar banyak hal, di SMK banyak hal pula yang perlahan mendewasakanku. Bisa jadi aku menganggap keputusanku masuk SMK itu salah tapi berkat sekolah di situlah aku jadi Agista yang sekarang ini.

Seperti judul postingan ini, 'Kegagalan' adalah nama tengahku. Artinya aku sudah cukup kenyang makan asam garam kehidupan dan mengalami banyak kegagalan dalam hidup. Di SMK mungkin aku dikenal (lagi-lagi) sebagai anak yang pintar, di sana aku bertemu dengan Mami, rivalku dalam bidang akademik. Tapi tahu tidak, aku bukan peraih NUN tertinggi di zaman sekolah lho bahkan ranking satu pun tidak. Padahal aku sudah jelaskan kalau aku ini anaknya ambisius bukan?

Tidak mendapatkan NUN tertinggi merupakan kegagalan pertama untuk seorang anak ambisius sepertiku. Kegagalan berikutnya adalah SNMPTN. Saat itu, jalur PMDK berganti nama sebagai SNMPTN Undangan dan banyak sekali rumor yang membuatku urung melalui jalur tersebut. Kadang aku merasa sangat bodoh karena termakan rumor belaka tanpa mencoba peruntungan jalur SNMPTN Undangan. Aku sangat buta akademik soal universitas waktu itu dan cenderung ikut-ikutan temanku. Padahal aku sebenarnya bukan orang yang seperti itu. Dalam hidup, aku selalu menekankan untuk mencoba terlebih dahulu bukan kalah sebelum berperang. Dan aku tahu betul kalau aku adalah anak yang berprinsip teguh, mengenai hidup aku tidak suka ikut-ikutan teman-temanku. Tapi bodohnya aku melakukan hal itu saat kelas 3 SMK.


Ada alasan aku tidak mengikuti SNMPTN Undangan yakni karena aku berambisi masuk STAN. Aku belajar mati-matian soal USM STAN dan turns out, memang aku lolos USM STAN. Sayangnya aku tidak lolos tes olahraganya. Bodoh kan? Silahkan tertawa. Agista memang jago soal urusan akademik tapi dia sangat cupu soal urusan fisik. Kegagalan USM STAN di fase tes olahraga adalah kegagalan berikutnya.

Lalu ada juga gagal SNMPTN tulis karena aku terlalu idealis (dan lagi-lagi ikut-ikutan temanku). Aku benar-benar tidak tahu passionku di mana, tidak tahu passing grade itu apa, tidak mempersiapkan diri dengan matang sehingga aku gagal mengambil jurusan Teknik Industri dan Teknik Kimia di kampus ternama. Kupikir aku bisa menaklukkan tes tersebut, faktanya tidak. Begitulah teman-teman, jadi lebih baik jangan muluk-muluk bercita-cita kalau kalian belum tahu medannya. Pahami dulu, persiapkan, baru berperang.

Kegagalan selanjutnya adalah beasiswa ke Malaysia. Ada sejumlah teman-temanku yang mengikuti seleksi beasiswa ke Malaysia yang disediakan oleh sebuah bank swasta ini. Dari sejumlah teman tersebut, hanya aku dan Icha (salah satu sahabatku juga) yang lolos hingga wawancara tahap akhir. Pada saat itu, bahasa Inggrisku masih sangat jelek. Bahasa Inggrisku pasif, aku tidak terbiasa berbicara dalam Bahasa Inggris. Itulah yang membuatku gagal dalam tes terakhir untuk mendapatkan kesempatan kuliah di negeri seberang ini.

Kalau dipikir-pikir, semua kegagalan itu ada artinya lho. Coba kalau aku lolos STAN, mungkin sekarang aku akan bekerja jadi pegawai pajak dan mungkin baru bisa melanjutkan kuliah D3. Ada begitu banyak jenjang pendidikan yang harus kutempuh hingga S2, sangat tidak efisien. Coba kalau aku lolos SNMPTN di percobaan pertama, mungkin sekarang aku bekerja untuk industri dan tidak pernah berpikiran untuk melanjutkan sekolah S2. Coba kalau aku lolos beasiswa kuliah di Malaysia, mungkin sekarang aku duduk di kursi manajer bank tersebut dan berpikir nanti-nanti saja S2-nya. Aku juga bisa jadi tidak punya cukup banyak kesempatan untuk berpikir dan mensyukuri hidup seperti yang aku lakukan sekarang.


Oh ya, yang perlu kalian tahu aku ini punya dua sifat yang sangat buruk yakni sombong dan kurang bersyukur. Mungkin kegagalan-kegagalan itu yang membuatku sedikit banyak jadi lebih bersyukur. Untuk sifat sombongnya, rasanya masih ada deh sampai sekarang. Dan semoga segera terobati.

Kegagalanku tak berhenti dari situ teman-teman. Mungkin tahun 2012 adalah tahun yang baik bagiku, aku mendapatkan kesempatan kuliah S1 karena lolos SNMPTN, menang lomba blog dua kali, mendapatkan galaxy tab, dan lain-lain. Justru di tahun 2012 inilah titik balikku, dari Agista yang lama menjadi Agista yang baru. Dari Agista yang super egois jadi agak kalem, dari Agista yang super self-centered jadi agak meredam, dari Agista yang ekstrovert jadi Agista yang introvert, dari Agista yang seenaknya sendiri jadi Agista yang mulai berpikir.

Memulai kehidupan baru sebagai mahasiswa S1 di tahun 2012 aku mengubah diriku jadi orang yang tidak mempedulikan urusan orang lain. Bahkan aku cenderung menutup diri dan tidak mau punya terlalu banyak teman. Saat itu aku berpikir kalau aku bisa mengatasi hal-hal berat sendirian ya mengapa harus berteman? Jujur aku sempat trauma dengan pertemanan pasca tahun-tahun akhir masa SMK-ku. Di masa studi S1, aku bertemu dengan dosen-dosen inspiratif. Dosen-dosen inilah yang membuka pikiranku untuk mulai melanjutkan sekolah padahal sebelumnya aku sama sekali tidak terpikir untuk melanjutkan sekolah hingga S2 atau S3.

Ada sejumlah masalah dan konflik yang lagi-lagi terjadi di periode S1 tapi masalah itu sekarang sudah lewat, masalah tersebut yang mengubahku jadi sosok yang tidak terlalu ambisius. Seperti yang kusinggung sebelumnya, aku memang ambisius tapi ternyata ada orang yang jauh lebih ambisius daripadaku. Sejak kuliah ini aku jadi berpikir, "Ya kalau rezeki ya dapat kalau engga ya udah." tanpa mengurangi usahaku untuk mendapatkannya. Perbedaan ambisius dan bekerja keras adalah AMBISIUS berarti kamu harus mendapatkan apa yang kamu mau no matter what even if you don't have enough resource and capabilities to do that. Meanwhile BEKERJA KERAS artinya kamu usaha semaksimal mungkin, ikhtiar, dan ikhlas kalau memang tidak mendapatkan apa yang kamu mau. Kalau tidak dapat ya berarti jalanmu bukan di situ. Di sini Agista yang ambisius berubah jadi Agista yang lebih selow menghadapi kegagalan.


Terbukti dari kegagalan LPDP yang dialaminya di awal tahun 2016, dari kegagalan tersebut aku berusaha untuk mengevaluasi kembali apa yang kurang dalam usahaku. Tidak menyalahkan orang lain atau keadaan tapi aku mengintrospeksi diri. Membenahi apa yang salah dan berkonsentrasi untuk menyajikan yang terbaik serta lebih rileks. Toh akhirnya aku mendapatkan LPDP juga. Lagi-lagi ada hikmah di balik kegagalan. Kalau aku lolos LPDP di batch 2 2016, mungkin beasiswaku akan dicabut karena aku tak kunjung mendapatkan LoA. Beruntung aku lolos di batch selanjutnya sehingga aku punya cukup waktu untuk mendapatkan LoA dan berangkat sekolah.

Tidak cuma gagal LPDP lho teman-teman, perjalananku sangat panjang hingga aku ended up di London seperti ini. Dan semua cerita soal kegagalan tersebut bisa kalian temukan di blog ini juga. Kalau males membaca ya udah, I don't have any obligations to tell you. CAPEK NULIS WOI!

Jadi yha, kalau flashback ke masa lalu. Mungkin diriku saat ini akan berbangga dan harusnya diriku di masa depan akan lebih bangga lagi. Aku ingin bilang ke diriku yang dulu, yang masih cupu, ambisius, tidak bersyukur, "It's okay. Everything's gonna be okay. Kamu memang berasal dari keluarga yang tidak mampu dan mungkin kamu benci dilahirkan di keluarga itu. Tapi kamu tahu tidak, kamu bisa mewujudkan cita-cita yang nggak pernah kamu bayangkan sebelumnya lho. Tetaplah bekerja keras tapi jangan lupa bersyukur."

Intinya sih, apa yang kualami sekarang itu bukan sebuah pembuktian kalau Agista, anak yang sempat dipandang sebelah mata oleh wali kelas SDnya. Agista yang tidak dapat NUN tertinggi. Agista, anak yang lahir dari Ayah dan Ibu dengan latar belakang sengsara, bisa sekolah di luar negeri. Bukan pembuktian semacam itu yang aku ingin tuliskan.

Tapi aku ingin beritahu pada kalian kalau sebesar apapun mimpi kita pasti bisa diwujudkan. Kuncinya adalah kerja keras, jangan cuma bermimpi tapi usahakan. Karena hidup itu sejatinya adalah berusaha, apalah artinya nikmat diberi kehidupan kalau tidak dimanfaatkan dengan baik kan? Jadi bisa kubilang kalau tidak ada mimpi yang tidak mungkin, semuanya mungkin asal kamu mau usaha aja.

Salam!