Review Film: Black Panther [2018]


Tahun 2018, rangkaian Marvel Cinematic Universe dibuka dengan Black Panther. Spin off dari karakter yang muncul dalam franchise Captain America: Civil War. Sejak trailer film ini dirilis tahun lalu, banyak sekali yang berekspektasi tinggi pada film ini kecuali aku. Karena buatku pribadi berharap itu jangan pada manusia, sutradara, atau bahkan produser melainkan pada Tuhan #ciaa. Dan kebetulan sekali Black Panther ini dirilis tepat di hari Valentine (14 Februari) di Indonesia, sementara di London sudah dirilis sehari sebelumnya. Jadi aku berkesempatan lebih besar untuk memberi spoiler pada kalian semua 😈

Awalnya aku sempat tidak berharap kalau Black Panther akan tayang tepat di hari perilisannya di bioskop langgananku, bioskop yang harganya sangat terjangkau bagi mahasiswa. Kenyataan berkata lain, rupanya Black Panther dirilis tepat pada tanggal 13 Februari dan aku pun berkesempatan mendapatkan tiket yang murah yakni hanya seharga 5 pon (ditambah booking fee 1,5 pon). Padahal saat aku nonton Thor: Ragnarok di bioskop yang sama aku harus membayar 7 pon. Murah banget kan?

Usut punya usut, harga murah ini bisa jadi berkaitan dengan Black History Month. Jadi sejak di Inggris aku baru tahu kalau ada bulan yang dikhususkan untuk memperingati sejarah kaum kulit hitam. Di kampusku sendiri ada screening film Hidden Figures untuk memperingati Black History Month. Dan sebetulnya Black Panther ini terhitung cukup telat untuk dimasukkan ke dalam rangkaian peringatan Black History Month. Tapi tetap saja, ketika aku ke bioskop kemarin banyak sekali penonton berkulit hitam dan dekorasi bioskop pun didesain sedemikian rupa untuk menyambut penayangan Black Panther ini. Sesuatu yang sangat jarang aku temui di Indonesia.

Black Panther, seperti yang kita tahu, menceritakan soal kisah hidup Pangeran Wakanda yang hendak diangkat jadi Raja, T'Challa. Hal ini disebabkan oleh kepergian sang Ayah, T'Chaka, yang disinggung dalam Captain America: Civil War. Premis ceritanya sedikit banyak mengingatkanku pada kisah Lion King yakni pergumulan batin seorang pangeran yang hendak dimahkotai jadi Raja. Apakah dia bisa jadi raja yang baik? Apakah dia pantas jadi raja? Apakah ada rahasia tersembunyi di balik tahta yang hendak Ia duduki? Sesederhana itu.

Bahkan ramuan musik yang digunakan pun sangat mengingatkanku pada Lion King. Karena setting memang di Afrika, banyak sekali unsur budaya Afrika yang dimasukkan dalam film ini. Sayangnya, alunan musik ala-ala hutan sabana tersebut selalu membuatku ingin bernyanyi keras-keras 'NAAAAATTTS INGONYAMA BAGATHI BABA' 'NAAAATTSSSS INGONYAMA BAGATHI BABAAA!' ohhmmm~ 'THE CIRCLEEEE OF LIIIIFEEEEE'.


Namun seperti keahlian Marvel biasanya, meski plot cerita cenderung mudah ditebak dan 'sangat ringan', mereka bisa mengemasnya dengan apik dan serius. Sejujurnya porsi komedi dan drama dalam Black Panther bisa dibilang kurang berimbang. Komedi lebih sedikit, lebih banyak seriusnya, dan komedinya pun kurang lawak bila dibandingkan film-film Marvel sebelumnya. Tapi justru karena komedi yang disisipkan tersebut, adik sekaligus Putri Wakanda jadi stand out from the crowd. Mungkin kalau tidak ada karakter adik T'Challa ini, film akan jadi sangat membosankan.

Ekspektasiku saat menonton Black Panther adalah benang merah dengan Avengers atau film superhero lainnya. Ada sih yang ditampilkan tapi porsinya sangat sedikit, sehingga aku agak kecewa meski sepanjang film aku cukup menikmatinya. Hingga credit scene-pun, kaitan dengan Avengers sangat minim dalam artian tidak terlalu kentara. Coba kalian nonton sendiri dan buktikan bahwa opiniku tersebut benar.

Dan aku harus menyetujui pendapat seorang teman yang kebetulan nonton bareng denganku, tone warna yang digunakan dalam Black Panther mulai sedikit 'berani' seperti yang diterapkan Marvel dalam Thor: Ragnarok. Marvel yang sejak dulu memang dikenal sebagai film superhero 'full color' tidak 'dark' seperti DC, kini makin berani saja menggunakan warna-warna terang yang kadang mencolok mata. Black Panther pun demikian. Beruntung, soal kostum pihak Marvel memberikan warna yang lebih elegan dan kalem sehingga tidak terlalu norak. Personally, I like T'Challa's costume.

Soal visual sebenarnya ada beberapa bagian yang sedikit menggangguku karena terlihat banget efek CGnya. Ditambah lagi ada sebuah scene yang membuat alisku berkerut, 'Yha buat apa kamu bawa mobil tapi nggak kamu setirin sendiri?' lalu jawabannya adalah 'Oh, biar tampak keren aja to.'


Satu lagi karakter yang membuatku terpesona yakni karakter N'daka yang diperankan oleh Michael B. Jordan. Sekali lagi, Michael membuktikan frasa "I'd rather die as hero than live long enough as a villain." Seolah membayar tuntas flop-nya Fantastic Four, pemeran The Human Torch ini tampil sangat keren dalam Black Panther. Bahkan aku sangat terpesona dengan bentuk tubuhnya yang jauh lebih bagus daripada saat jadi The Human Torch. Dan dia tampak sangat charming dan 'ganteng' dalam Black Panther.

Yang menarik lagi adalah penggunaan setting Korea Selatan dalam film. Sebagai penggemar Korea, ketika nama Busan disebut aku langsung jadi excited dong. Ditambah lagi pemeran Nakia dapat berbahasa Korea dengan cukup baik, tidak terlalu bagus sih memang tapi tetap saja dia bisa berbahasa Korea tanpa terdengar terlalu medok aksen Western. Aku setuju dengan pendapat Ron bahwa salah satu cara untuk mempromosikan kota adalah membiarkan kota tersebut jadi setting film Marvel. Yah, siapa tahu suatu saat nanti Captain America ngopi-ngopi di kawasan Jabodetabek kan?

Kalau dilihat-lihat, semakin ke sini Marvel semakin 'dewasa'. Meski pada awalnya konflik terkesan receh, substansi dan latar belakang mengapa seorang villain tumbuh jadi jahat dijelaskan sehingga membuat penonton mengerti. Tidak ada orang jahat di dunia ini, yang ada hanyalah kondisi yang membuatnya jadi terlihat jahat. Kalau kita mau mencoba untuk memandang dari perspektif lawan, niscaya kita akan jadi orang yang lebih bijak.

Rasanya cukup sampai di sini aku memberikan review bagi film Black Panther. I can't say it's surprisingly good. It's good but not that good. Yang paling aku suka dan selalu membuatku terpana adalah Marvel selalu bisa menghadirkan cerita dan latar belakang yang solid di setiap franchise yang mereka buat, like how come? Oh ya, terakhir aku punya pertanyaan soal film ini (sedikit spoiler) 'Kalau Wakanda sengaja disembunyikan dari dunia luar, lalu bagaimana bisa Raja T'Chaka jadi perwakilan PBB di Captain America?'

P.S: Sebetulnya dalam komik, love interest Pangeran T'Challa itu Ororo Monroe alias STORM. Berhubung pihak Disney baru saja mengakuisisi 20th Century Fox, jadi kesempatan Storm muncul di Black Panther hampir tidak ada sehingga karakternya digantikan oleh Nakia.

Plot★ ★ ★ ½
Akting★ ★ ★ ★☆
Musik★ ★ ★ ☆ ☆
Grafis★ ★ ★ ★ ☆
Overall★ ★ ★ ★ ☆