Review Film: Call Me By Your Name [2017]


Rasanya telat banget, sangat telat, untuk mereview film yang masuk sebagai nominasi best adapted screenplay dan best picture Academy Awards tahun ini. Tapi memang, film ini lagi banyak dibicarakan oleh para penikmat film. It's been a long time for me not to watch festival movie but then I started again since I found Popcorn Time. Thanks PopCorn! Little did you know, I even haven't watched Manchester by The Sea yet 🙈

Worry not, tahun 2017 sudah berlalu dan kini tahun 2018 telah tiba. Ada sejumlah film festival yang masuk nominasi Oscar dan sayang untuk dilewatkan, salah satunya adalah Call Me By Your Name. Film ini genre umumnya drama dengan topik LGBT, secara spesifik dan kalau mau mengingat sih sebetulnya genre Call Me By Your Name adalah coming of age. Artinya segmentasi penonton young adult dan filmnya bercerita soal kegalauan pencarian jati diri anak-anak remaja menuju dewasa, sekitar usia 18-20 tahunan. Tak cuma Call Me By Your Name, ada satu lagi film coming of age yakni Lady Bird yang juga masuk nominasi Oscar tapi aku belum sempat nonton #terkendalakoneksi.

Film yang dibintangi oleh Elio (Timothee Calamet) dan Oliver (Armie Hammer) ini diangkat dari novel berjudul sama karya Andre Aciman. Garis besar ceritanya adalah tentang seorang pemuda Yahudi berusia 18 tahun yang tinggal di Italia, jatuh cinta pada sang tamu, Oliver. Oliver ini digambarkan sebagai pemuda tampan berusia 28 tahun yang super cerdas dan bisa bikin siapa saja bakal mencintai dia, termasuk aku. Apalagi yang memerankan Armie Hammer, oke sip! 💕

Sama seperti film festival lainnya, Call Me By Your Name ini memiliki alur lambat. Namun jangan kecewa dulu sebab film independen ini dikemas dalam sinematografi yang bikin kamu terkagum-kagum sepanjang 141 menit. Setting tahun 1980-annya juga dapat banget, apalagi scene-scene musim panas yang tentu saja bisa bikin kamu gerah saat nonton film ini. Jujur sih, summer berasa banget dan aku merasa kepanasan meski aku nontonnya pas musim dingin. Tone warna yang digunakan hangat dan meminjam istilah Mbak Ayod, poetic. Ditambah lagi shot-shot di pantai Italia yang bikin ingin ke sana pada summer nanti. Well, kalau ada rezeki semoga aku bisa ke Italia betulan dan menyusuri pantai yang dikunjungi oleh Oliver dan Elio dalam film 🙏

Yang membuat film ini mendapatkan apresiasi tinggi adalah akting Timothee Calamet sebagai Elio. Well, couldn't agree more. Memang sih aktingnya engga se-suffering Leonardo DiCaprio di The Revenant tapi Timothee bisa membawakan sosok Elio dengan total. Ya total galaunya, total polosnya soal percintaan sesama jenis, total innocent love-nya pada Oliver, bisa dibilang Timothee ini ngeblend banget dengan karakter Elio dalam novel. 

Hebatnya lagi, sang sutradara Luca Guadagnino berhasil membawa penonton larut dalam emosi yang dirasakan oleh Elio. Rasanya ditarik ulur sama orang yang disuka, rasanya di-flirting sama si Oliver, rasa kecewa, rasa sakit, dan sebagainya. Emosinya benar-benar bikin penonton ikutan merasa gemas dan feel innocent yet intimate love-nya itu berasa banget. Meskipun secara plot ya hitungannya receh. Aku bisa menebak seperti apakah akhir film ini nantinya dan kebetulan beneran, jadi ya udah.

Barulah setelah menuntaskan nonton Call Me By Your Name aku memutuskan untuk membaca bukunya juga (mumpung diskon). Butuh waktu seminggu bagiku untuk membaca habis kisah Elio dan Oliver versi tulisan tersebut, ternyata nggak jauh berbeda. Aku sangat suka cara sutradara menjaga orisinalitas ide, scene, dan dialog dari buku ke film. Aku suka filmnya yang minim dialog tapi sarat makna seperti yang dituliskan di buku. Aku juga suka cara Armie Hammer membawakan karakter Oliver dengan baik terutama saat dia bilang, "Call me by your name, I'll call you by mine." Aku sangat suka karakter orangtua Elio yang educated, open minded, dan bahkan fully supporting their child to be whatever he wants to.

Sayangnya kalau kalian berekspektasi soal yaoi, buku ini tidak melulu soal seks dan hubungan sesama jenis kok. Baik buku maupun film mencoba untuk menyampaikan pesan bahwa cinta itu indah apapun bentuknya. Elio dan Oliver pun tidak digambarkan sebagai pure gay, bahkan mereka bermula dari sebuah rasa penasaran. Aku tidak bisa menjelaskan, yang pasti itu bukan cinta biasa gitu lho. It's not like Elio interested in man since long ago, it appears when Oliver came by to his life. Maka dari itu baik film atau buku sangat enak untuk dinikmati dan tidak membuat kita memandang sempit arti cinta sesama jenis.

To put it simply, love is beautiful to whomever we wants to love. Dan apakah film ini aku rekomendasikan untuk ditonton? Well sure, sudah sinematografinya menarik, emosi dibikin naik turun, alunan musiknya poetic, dialognya bermakna, dan yang terakhir Armie Hammer terlalu sayang untuk dilewatkan. Believe me, you will fall in love with him after watching the movie.


Plot★ ★ ★ ½
Akting★ ★ ★ ★☆
Musik★ ★ ★ ★ ☆
Grafis★ ★ ★ ★ ☆
Overall★ ★ ★ ★ ☆  

Comments