Pengabdi K-Pop dan Kafir


Beberapa waktu ini, aku sering sekali baca curhatan anak-anak remaja (penggemar K-Pop) di twitter. Dan kisahnya pun mirip-mirip. Yang pertama berasal dari seorang remaja yang tinggal di Aceh, dia dimarahin bahkan diintimidasi oleh sang guru karena dia jadi fans K-Pop. Hal serupa juga terjadi pada seorang remaja yang tinggal di Jakarta. Bedanya, anak yang dari Jakarta ini lebih berani menentang sang guru timbang si anak dari Aceh. Tau gak sih apa yang dikatakan si guru pada remaja-remaja fans K-Pop ini? "Kamu ini orang Islam apa bukan sih? Ngefans kok ke orang kafir? Udah gitu banci lagi."

Well, tidak ada hinaan yang lebih menyakitkan dari banci, plastik, dan homo selain Kafir. Yah, I mean I know that they are atheist but you don't have any rights to say that to your student. Mereka (para pelajar) itu masih muda lho, masih muda tapi kebahagiaan mereka direnggut gitu aja. Situ guru yang merasa manusia atau bukan sih?

Disclaimer: Mungkin postingan ini agak berat sebelah karena aku pribadi juga fans K-Pop. Tapi kuusahakan untuk menulis dengan penuh kebijakan dan kewarasan tanpa justifikasi.

Jujur, sebagai orang Islam dan juga penggemar K-Pop aku merasa sangat sedih. I mean, we (K-Pop fans) endures a lot of hardship. Nggak cuma kasus Uus saja yang menghujat kami waktu itu atau sejumlah orang yang memandang kami sebelah mata. Yet we're still strong, kami nggak patah semangat dan kami tetap menyalurkan cinta pada orang butuh energi kami di panggung.

Kadang aku suka heran aja sih, kenapa sih yang diceng-cengin selalu fans K-Pop? Apa karena idola kami itu cantik-cantik dan menurut kalian nggak macho? Well, standar orang kan beda-beda ya. Menurut kalian mungkin para idola cowok dari Korea tersebut cantik dan nggak macho tapi kami mengidolakan mereka karena mereka adalah orang-orang yang bekerja keras.

Jadi idola K-Pop itu nggak mudah lho saudara-saudara. Para idola ini mulai audisi di usia yang masih sangat muda, belum sampai 11 tahun malah rata-rata. Sejak SD hingga baru bisa debut (sekitar SMA), mereka menghabiskan waktu mereka buat latihan dance, vokal, akting, dan keahlian entertain lainnya. Mereka ngorbanin waktunya buat main, ngorbanin masa kecil mereka, harus kerja keras siang malam buat nyeimbangin waktu sekolah dan trainee, jarang makan, harus diet ketat, dan belum lagi tekanan soal kepastian mereka debut. Beda dengan kultur entertainment Indonesia yang bisa bikin seseorang jadi selebritis dadakan, industri hiburan Korea Selatan nggak begitu. Industri mereka sangat keras! Ditambah lagi ketika mereka sudah debut, mereka nggak dijamin bakal terkenal secara instan. Segede-gedenya agensi tempat mereka bernaung, mereka mulai dari nol untuk menjaring fans! Berawal dari fansign yang cuma dihadiri belasan orang, dikejar fans fanatik, dihujat haters, hingga mereka bisa bertahan selama lebih dari 7 tahun bareng dalam satu grup dan menorehkan ratusan prestasi. Keras bung, keras!


Tapi kan yang ngata-ngatain fans K-Pop itu nggak tahu kenyataan itu. Ya menurut mereka, kami 'menghamba' pada para Oppa dan Unnie. Well, define 'menghamba' itu kayak gimana? Apakah dengan membeli album pakai tabungan sendiri? Apakah dengan mengumpulkan duit sedikit demi sedikit buat datang ke konser bias? Apakah dengan pasang avatar dan poster para favorit? Define 'menghamba' dalam arti yang negatif, apakah semua tindakan tersebut merugikan kalian? Tidak kan?

Yang bikin aku makin sedih adalah para orangtua (guru) yang punya pemahaman agaman lebih tinggi daripadaku dengan mudah menjustifikasi para idola tersebut dengan predikat Kafir. Menanamkan predikat tersebut seolah mereka (para guru) sudah jadi orang yang paling bener dan masuk surga sementara para idola itu dosanya gede banget. I mean come on, kami tahu kok yang seharusnya kami idolakan itu Rasulullah yang akhlaknya super budiman tapi apakah pantas seorang guru marah-marahin siswanya hanya karena mereka suka Korea? Bukankah itu hak murid ya? Kalau pun memang ingin mengarahkan murid ke jalan yang benar ya nggak pakai ancaman dan intimidasi kan bisa. Ini lho yang bikin orang-orang Islam semakin dianggap buruk oleh keyakinan seberang, ini lho yang bikin Islam dianggap sebagai agama yang tidak rahmatan lil' alamin. Ya itu semua karena manusianya.

Ditambah lagi, para guru ini tidak sadar bahwa murid mereka itu masih remaja yang masih belum menemukan jati diri mereka, masih labil, masih butuh diarahkan dengan baik, rebellious. Bukannya pakai cara yang baik eh malah mengintimidasi seolah mereka punya kendali penuh atas hidup si murid. Sekarang jadi makes sense kalau banyak kasus pembunuhan guru di Indonesia kan? Hush, Agista nggak boleh bilang gitu.

Kegantengan Njun yang Hakiki adalah Rahmatan Lil Alamin
Coba deh kita telaah lagi, kasus-kasus pembunuhan guru tersebut mungkin menimpa guru yang baik hati dan memang berniat untuk mendidik putra-putri bangsa. Tapi berkaca pada curhatan-curhatan ini, ada kemungkinan si guru juga tidak mengingatkan muridnya dengan baik. Jadi siapa yang salah? Alangkah baiknya untuk sama-sama introspeksi diri. Apakah si guru sudah melakukan cara yang benar dalam menasihati murid? Dan apakah murid sudah bisa mendengarkan nasihat tersebut dengan baik? To be honest, everything in Indonesia is so problematic.

Kalau dipikir-pikir, Indonesia itu memang kekurangan orang yang meng-encourage tapi lebih banyak orang yang men-dicourage. Contohnya ya ke anak-anak remaja (fans K-Pop) ini. Coba deh kalau si guru bilangnya, "Hai Fulan, kamu tahu kan daripada kamu menghabiskan uangmu untuk beli album idola lebih baik ikutan proyek fans buat nyumbang ke Palestina? Ibu tahu kok ada fans baik hati yang suka bikin charity kayak gitu." atau "Wah, kamu suka artis Korea ya? Coba deh ceritain ke Ibu bagaimana kamu bisa suka mereka? Apa yang kamu sukai dari mereka? Kalau ada sisi positifnya cerita deh ke Ibu." atau "Kamu tahu kan idola Korea Selatan itu pekerja keras, kamu juga harus sama bekerja kerasnya seperti mereka. Coba deh lihat Changmin TVXQ dan Kyuhyun Super Junior, mereka sudah S2 lho. Apalagi Xiumin EXO, kamu juga harus punya cita-cita buat ngelanjutin sekolah setinggi itu ya."

Labelling someone as 'Kafir' won't solve the problem yet it makes worse. And forcing your student to burn the album also unwise as well. Ya kan itu mereka beli album pakai duit mereka sendiri. Dan oh ayolah, kita semua pernah berada di masa rela nggak jajan demi beli barang yang kita suka. Taruhan deh, pasti guru tersebut juga pernah rela gak jajan demi beli sepatu baru atau buku baru kan? Nah, kalau kebutuhan si anak terpenuhi di zaman sekarang ya mereka tentu mau dong trade off rasa lapar mereka untuk membeli hal yang mereka sukai?

And anyway, tidak cuma fans K-Pop yang fanatik. Ada banyak fans di luar sana yang juga sama-sama 'nerd' tapi mereka tidak mendapatkan perlakuan seburuk fans K-Pop di Indonesia yang lucu ini. Well, everybody has their own favorite right? Can't we just live with that?


Sebenarnya aku ingin mention salah satu fans K-Pop yang 'sukses' di mataku dan dia senantiasa menebarkan positivisme. Dia adalah Ron, anak Lombok yang sudah lama merantau di Jakarta. Berkat 'kegilaan'-nya jadi fans K-Pop, dia sampai diundang oleh pemerintah Korea untuk jadi pembicara di sebuah acara pemuda menjelang Pyeongchang Winter Olympic. Si Ron ini juga punya banyak kesempatan untuk wawancara langsung idola dia, ketemu langsung idola dia, punya penghasilan juga dari hobinya sebagai fans K-Pop. Hidupnya mungkin kelihatan melulu soal K-Pop but he can live with that, I mean he successfully fulfilling his dream both as how-you-see-normal-human and as a K-pop fans. See? Semua hobi dan kegemaran itu pasti hasilnya positif kalau diarahkan ke jalan yang benar.

Instead of mocking those K-Pop fans, bukankah lebih baik encourage mereka untuk jalan ke arah yang positif? Dan aku yakin sih sebetulnya anak-anak K-Pop ini lebih mature karena mereka udah makan pahit manis sebagai fans. Oh ya jangan ragukan keahlian bahasa mereka juga. Mereka pasti jago bahasa Korea dan Inggris karena dunia yang mereka tekuni menuntut demikian. Dan jangan salah, anak-anak ini juga berhati murni karena mau berteman dengan siapapun dari seluruh dunia tanpa ngeliat ras. Karena mereka disatukan oleh musik yang kalian anggap sampah itu, K-Pop.

Yah segala di dunia ini bagaikan dua sisi mata uang, ada baik dan buruknya. Terlepas dari semua hal positif fans K-Pop, aku pun mengakui kalau kadang adu argumen dan immature behavior saat fanwar itu adalah sisi buruk menjadi penggemar dunia yang fana ini. Dan ketika seseorang sudah terjun ke K-Pop maka sudah dapat dipastikan dia tak akan bisa menemukan jalan keluar.

Lalu buat kalian yang masih menganggap musik K-Pop itu sampah, coba deh dengerin dulu lagu Heize dan Bobbalgan4. Atau mulai saja dari Hyukoh buat kalian yang suka musik band indie ala-ala dan antimainstream. Thank me later!

I actually don't want to insist you to like K-Pop nor I can't prevent you to hate it. I just want to ask you (whoever read this) to be considerate. We are human, we are mere human, we stand on the same ground, it's not hard to just let someone loves something. K-Pop is like everything in this world, it's universal and everybody could fall for it. So, stop judging us like we are sinner. Easy, innit? 😉

Dan buat guru-guru yang budiman. Sebagai pahlawan tanpa tanda jasa (dan saya tahu gaji kalian nggak gede-gede amat), jangan tambahin problematikan para anak-anak sekolah itu lah. Mereka udah capek belajar, yang bikin mereka semangat belajar ya Oppa itu. Ketimbang sibuk ngurusin kegemaran si anak, bukankah lebih baik kalian mengembangkan diri kalian untuk jadi guru yang open minded dan mengayomi anak-anak? Masa depan Indonesia ini ada di tangan kalian lho. Kalau kalian salah mendidik, bisa jadi si anak makin bejat dan Indonesia makin gak maju pula. Jadi semangat ya Bapak Ibu guru, jangan sampai kalian jadi korban pembunuhan dan jadi viral di portal-portal berita nasional 😁