Setengah Tahun di London


Tidak terasa aku sudah mau melewati dua semester alias setengah tahun di London. Itu artinya aku semakin dekat dengan kenyataan (re: balik ke Indonesia). Dengan kembali ke Indonesia, itu artinya aku harus berkutat kembali dengan urusan mencari pekerjaan dan kembali ke kampung halaman, Malang. Dan aku juga bakal kembali bertemu orang yang itu-itu lagi. Di satu sisi aku senang kembali ke Indonesia karena bakal ketemu makanan-makanan favoritku, di sisi lain aku tidak mau berada di posisi yang sama dan meninggalkan kebahagiaanku di London.

Boleh dibilang, pace waktu di London itu cepat. Seolah 24 jam tidak cukup dan seolah aku butuh satu hari tambahan dalam satu minggu. Semester lalu mungkin tidak sepadat semester ini sehingga aku merasa begitu santai tapi sejak menginjak semester dua, rasanya aku ingin sering-sering kabur ke kota di luar London dan libur sejenak.

Dari Senin-Minggu, mungkin satu-satunya hari dimana aku bisa 'menghindari' bertemu orang dan mengisi ulang energi adalah hari Sabtu dan Minggu. Malah sebelumnya aku hanya punya hari Minggu saja. Senin dan Selasa aku harus volunteer, Rabu merupakan hari dengan jadwal kuliah terpadat, Kamis dan Jumat aku harus berada di luar rumah lagi. Dan begitu seterusnya. Tapi sejak aku mengenal  seseorang dan kami jadi dekat, aku jadi ingin segera bertemu dengan Weekend dan menemuinya. Hmm sayangnya ...

Well, kalau ditanya sudah kemana sajakah aku selama 6 bulan di Inggris? Ada cukup banyak tempat yang sudah aku kunjungi. Semester satu, aku sering sekali menghabiskan weekend untuk hang out bersama temanku yang dari Ukraina, Yuli. Kami suka sekali jalan-jalan berputar-putar di kawasan Soho, Oxford Circus, Regent Street, dan lain sebagainya. Pertengahan semester, aku sering ikut Mbak Ima dan Mbak Ayod makan-makan di London. Akhir semester, aku menghabiskan waktu luang dengan makan-makan bersama teman-teman satu course-ku (Behavioral Finance). Winter Break aku memilih untuk mengurung diri di rumah selama dua minggu dan baru keluar kandang di minggu terakhir. Sekali keluar langsung ke luar kota yakni Manchester dan Brighton.

Semester dua lebih berwarna. Seperti yang telah kusebutkan sebelumnya, jadwalku dari Senin-Minggu cukup padat. Bahkan 5 minggu pertama semester dua aku harus kuliah di hari Sabtu dari pukul 10 hingga 3 sore. Barulah setelah reading week aku punya waktu santai di rumah dua hari. Tapi reading week kemarin tak lantas membuatku jadi introvert sepenuhnya. Aku malah lebih sering berada di luar rumah daripada di dalam rumah.

Beberapa minggu terakhir sejujurnya aku selalu pulang malam. Aku sendiri lupa apa yang kulakukan, yang jelas aku lebih jarang tidur jam 8 malam, jarang pulang tepat waktu seperti biasanya, dan lebih banyak bertemu orang lain. Sebagai seorang introvert, jujur aku merasa lelah karena terus-menerus berada di luar rumah. My room is my sanctuary but with you it's different. Cia cia cia. Yah, kalau kamu yang ngajakin aku main sih aku seneng-seneng aja 😊

Saat ditanya soal apakah aku sudah memanfaatkan waktuku dengan baik? Aku tidak merasa demikian. 6 Bulan ini terlalu banyak hal yang aku sia-siakan. Aku terlalu banyak main, tidak menghasilkan karya yang mumpuni. Maksud hati bikin buku soal Behavioral Finance tapi aku malah main sosmed terus setiap hari. Lalu aku juga tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam hal akademis, aku masih belum bisa menemukan cara belajar yang pas untuk menghadapi salah satu dosenku yang bikin aku super gemas. Pendek kata, I've done nothing useful. How awful.

Lucunya, aku tahu kalau aku tuh tidak produktif dalam kegiatan akademik tapi aku tidak berusaha untuk mengubahnya karena aku terlalu malas. Aku tahu bahwa sebetulnya aku harus mengalahkan diri sendiri untuk mengalahkan rasa malas itu tapi aku tak kuasa. Terus solusinya gimana dong? Ya kamu nggak boleh malas Agista. Kan tujuanmu ke sini untuk sekolah bukan yang lain. Ayo fokus dong! Udah dibayarin rakyat sekolah jauh-jauh masa nggak menghasilkan apa-apa? Rugi dong mereka.

Mengingat begitu banyak waktu yang aku sia-siakan tersebut pun akhirnya membuatku berpikir untuk tidak kembali pulang dalam waktu dekat. Aku masih ingin berada di sini untuk sekian tahun tapi ada banyak pertimbangan. Pekerjaan, pendidikan, usia, akomodasi, dan lain sebagainya. Seperti serba salah. Pulang nganggur, nggak pulang pun nganggur. Ditambah lagi sudah terlalu banyak penolakan lamaran pekerjaan yang aku terima di sini. Dan memang sih mendapatkan pekerjaan di sini tuh super susah. Either aku harus jadi orang yang benar-benar mumpuni atau aku harus mau bekerja sebagai 'kuli' dulu untuk memenuhi kebutuhan hidup. But who knows? I will never know.

Yang jelas selama setengah tahun tinggal di London, aku merasa nyaman dan betah. Ada suatu waktu aku tidak ingin pulang. Karena aku suka dengan orang-orang di sini. Karena nanti kalau aku pulang ke Indonesia pasti akan susah bertemu dengan mereka. Aku suka London dan sampai sekarang pun rasanya masih surreal, tidak nyata. Rasanya aku masih bermimpi saja dan tidak menjejakkan kakiku ke tanah. Melihat Big Ben di depan mata saja rasanya tidak nyata. Hidup di London itu terlalu cepat bergulir. Setengah tahun lewat begitu saja. Tinggal setengah tahun lagi. Bolehkah aku tinggal di sini lebih lama? Bolehkah aku bersamanya dulu lebih lama?