Jodoh


Di usia twenty something ini, dimana-mana pembicaraan tidak jauh dari jodoh. Yah, mungkin bagi sebagian orang usia 25 ke atas sudah waktunya memikirkan pernikahan dan jodoh meski bagiku tidak terlalu. Awalnya bahasan soal jodoh ini aku diamkan karena ya memang aku tidak ingin terlalu terburu-buru memikirkan atau membahas perihal pernikahan atau orang yang tepat buatku nanti tapi tulisan Ron dalam blognya yang berjudul "Converse Merah dan Jodoh" ini menggelitikku. Likewise, I agree with the point, somehow I still have my own opinion.

Dalam tulisan tersebut, Ron bilang bahwa sebenarnya jodoh itu dekat. It is just a matter of time or our effort, tergantung usaha ngedapetinnya atau waktu yang telah ditentukan. Karena memang life is not a race kan? Kita nggak berlomba dalam hidup ini kecuali berlomba mencari pahala. Hanya saja soal poin jodoh itu dekat, aku agak sedikit kontra pendapat.

Jodoh jauh dan dekat itu sebenarnya tergantung. Kalau menurutku pribadi, jodoh itu sebenarnya masalah kebutuhan. Ada sejumlah kasus di sekitarku yang membuktikan bahwa jodoh itu merupakan orang yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Aku jadi ingat tulisan salah satu istri temanku, Mbak Putri namanya, dalam tulisan beliau ini dijelaskan bahwa apapun yang kita miliki dan terima sekarang adalah yang kita butuhkan.

Kalau dipikir-pikir memang benar, yang menciptakan kita siapa? Allah. Yang memberikan kita takdir siapa? Allah. Yang mengetahui jalan hidup kita siapa? Allah. Maka dari itu yang Maha Mengetahui atas apapun yang kita butuhkan juga Allah, termasuk jodoh.

Bisa jadi aku ingin memiliki jodoh super ganteng seperti Heechul, super diam, sabar, dan sempurna seperti Kyungsoo, super imut seperti Xiumin, atau super menggemaskan seperti Youngjae. Pada faktanya, ya Allah akan menurunkan jodoh yang aku butuhkan. Ngomong-ngomong soal jodoh yang aku butuhkan, sebenarnya aku butuh sosok pria yang suportif. Itu saja. Tidak muluk-muluk. Kalau dia ganteng tapi tidak suportif juga buat apa? Kalau dia pintar tapi misoginis ya berarti aku bunuh diri dong?

Perbincangan soal jodoh inipun kemarin aku bahas lagi dengan Mbak Ayod. Aku bercerita pada Mbak Ayod perihal kegemaranku pada K-Pop dan lain sebagainya. Lalu aku mengungkapkan kekhawatiranku, "Mumpung aku belum nikah Mbak. Aku ingin membahagiakan diri sendiri dulu dan bersenang-senang dengan para bias. Kalau sudah menikah mungkin nggak bisa lagi."

"Ya, aku tahu aku bisa memilih pria seperti apa nanti. Kalau misalnya dia tidak mendukung hobiku ini ya mungkin tidak akan aku teruskan. Tapi lagi-lagi, who knows? Siapa tahu worst case scenarionya aku malah dapat suami yang nggak ngebolehin aku nonton konser?"

"Semua sebenarnya tergantung di seleksi awal sih. Kan bisa dibicarain dari awal." I know, I understand but still who knows?

Hal senada juga disampaikan oleh salah seorang temanku. "Kata siapa suami nggak ngebolehin istrinya nonton konser? Makanya cari yang mau kasih ijin," ujarnya renyah. Well, I wish I could but I don't know. I never know what the future brings.

Sebenarnya kalau ditanya apakah aku khawatir soal jodoh? Engga terlalu sih. Memang beberapa waktu terakhir ini aku merasa bahwa pria-pria yang memiliki kualitas bagus lebih cepat laku dan aku merasa tidak kunjung menemukan pria-pria langka tersebut. Tapi kalau dipikir-pikir, aku engga se-desperate itu juga. I mean, nanti pasti akan ketemu pada waktu yang tepat. Karena urusan jodoh ini lucu banget, bisa aja aku ketemu stranger yang tiba-tiba cocok atau bisa jadi aku malah bertemu kawan lama terus menemukan visi dan misi hidup yang sama?

Pasca hubungan terakhirku, aku benar-benar tidak ingin buru-buru menikah. Malah kadang aku merasa janggal dan takut. Melihat teman-temanku yang sudah menikah, dengan pacar mereka yang lama, dengan sahabat mereka. Aku kerap kali bertanya-tanya, "Apakah mereka sudah bahagia dengan menikah seperti itu?"

Aku kembalikan pertanyaan tersebut pada diriku sendiri, "Apakah aku akan bahagia kalau aku menyegerakan diri untuk menikah?" Rasanya tidak. Masih ada begitu banyak hal yang ingin kulakukan dan aku juga belum bertemu dengan orang yang sekiranya bisa mengakomodir visiku ke depan. Aku belum menemukan seseorang yang benar-benar aku butuhkan.

Kalau dipikir lagi, mantanku yang terakhir pun juga bukan sosok yang benar-benar aku butuhkan. Mungkin karena itu aku dan dia tidak berjodoh? Atau malah hidup memberikanku twist dengan cara berjodoh dengannya suatu saat nanti? I don't know.

Sekali lagi, aku tidak setuju kalau jodoh itu datang dari orang-orang terdekat hanya saja kita tidak mengetahuinya. Karena aku tahu kalau lingkup pergaulanku itu kecil sekali dan kalau pun jodohku berasal dari orang-orang yang dekat denganku, rasanya tidak ada peluang atau bahkan aneh. Karena orang-orang tersebut bisa jadi bukan orang yang kubutuhkan dengan tepat. Ada, satu orang. Tapi sudah jelas kalau perbedaan kami tidak akan membuat kami bersama. Dan sudah jelas juga dia menganggapku sebagai apa. Intinya meski ada satu orang itu, sudah jelas kami tidak akan berjodoh.

Yang ingin aku tekankan dalam tulisan ini sebenarnya adalah jodoh itu akan tiba pada waktunya dalam sosok yang benar-benar kita butuhkan. Karena seperti aku saat ini dan seperti jalan hidupku, semua datang sesuai dengan waktunya. Bila rezeki itu tidak datang sesuai waktunya, mungkin hari ini aku tidak akan menuliskan tulisan ini. Bila hidupku berjalan sesuai keinginanku maka mungkin aku lupa caranya bersyukur dan berkontemplasi.

Kalau kata salah seorang teman sih, "Tunggu aja, it's worth waiting for." Ya emang benar, ditunggu aja nanti juga pasti datang di waktu yang tepat kok.