Kota-Kota Yang Kucintai

cr: vebma.com

Sebetulnya aku ini anak rumahan yang jarang sekali travelling. Paling banter selama di Indonesia aku pergi ke Jakarta (ya mungkin itu kota terjauh yang pernah kukunjungi). Dan selama 23 tahun aku tak pernah jauh dari Malang, paling jauh merantau itu ketika aku magang di OJK Surabaya. Itupun hanya berlangsung selama satu bulan. Nah, kalian pasti sudah punya bayangan kalau kota yang paling kucintai adalah Malang bukan? Ya gimana tidak cinta wong aku tinggal di sana selama lebih dari dua dekade.

Ditambah lagi, darah arek Malang yang mengalir dalam tubuhku juga sangat kental. Kedua Ayah Ibuku orang Malang asli, bahkan sampai generasi kakek nenekku (atau bahkan sampai buyutku), tidak ada campuran dari ras manapun dan kota manapun. Keluarga besarku asli Malang. 

Kebetulan, pada tanggal 1 April ini Kota Malang sedang berulang tahun. Aku ingat betul kala aku masih duduk di bangku SMP selalu jadi petugas upacara memperingati hari lahir Kota Malang, sekalian merayakan harlah gugus depan SMP tempatku menimba ilmu. Maka dari itu, aku berkeinginan untuk mengawali bulan April dengan postingan yang gak jauh-jauh amat dari kecintaanku pada kota apel ini. Yes, for you who doesn't know my hometown is popular because of the apple.

For me Malang is the first one and everything, sebagai kota kelahiranku, rasanya kurang ajar kalau tidak mencintai Kota Malang. Meski yah semakin ke sini Malang semakin panas dan macet. Tapi ya namanya juga sudah cinta, gede di sana, dan keluarga di sana semua, rasanya terlalu sayang untuk meninggalkan Malang. Kalau ditanya, manakah kota favoritku? Sudah pasti jawabannya Malang. Sejauh apapun aku merantau. Tapi kalau ditanya apakah aku ingin tinggal di sana selepas ini? I don't know, Malang tidak punya cukup banyak lowongan pekerjaan bagiku unless I decided to be an entrepreneur. Mungkin aku akan tinggal di Malang tapi nanti, kalau aku memutuskan untuk pensiun dan menghabiskan masa tuaku di sana.

cr: exploreindo.com

Kota kedua yang paling aku cintai sejauh ini adalah Jogja. Entah berapa kali aku menyebut Jogja sebagai kota yang membuatku senantiasa rindu. Mungkin beberapa temanku atau kalian yang mengikuti sosial mediaku bosan akan hal ini. Tapi ini fakta, aku mencintai Jogja hampir sama besarnya dengan caraku mencintai Malang. Mengapa demikian? Aku tidak tahu. Padahal tidak banyak kenangan indah yang kuukir selama pergi ke Jogja. Dan speaking of environment, Jogja tidak senyaman Malang buatku. Jogja lebih panas, lebih padat, dan lebih tradisional. Tapi aku selalu ingin kembali ke kota gudeg itu. Dan selalu ada saja yang membuat hidupku berhubungan dengan Jogja.

Apakah itu artinya aku akan berjodoh dengan orang Jogja? Atau akan tinggal di Jogja setelah kuliah dari sini (London)? Aku tidak tahu. Sama seperti Malang, sebetulnya Jogja tidak memberikan banyak peluang bagiku untuk berkarya, kecuali aku berniat jadi entrepreneur. Jogja bukan business city, bahkan upah di sana tidak setinggi Malang. Jadi ya rasanya kurang realistis kalau tinggal di sana untuk berkarya dan memupuk banyak pundi-pundi tabungan. 

*) Agista anaknya kapitalis maksimal

Dari sekian banyak kota yang aku kunjungi di Indonesia (Surabaya, Jakarta, Denpasar, Mataram, Sumenep, Bandung, Semarang, Tulungagung, Blitar) dan di Inggris (Manchester, London, Cambridge soon Birmingham, Oxford, Liverpool) kota ketiga yang paling kusuka adalah London. London merupakan pengecualian, sebuah anomali.

Malang hanyalah kota kecil, sementara London merupakan kota besar. Metropolitan bahkan. London merupakan Ibukota yang menyediakan segala hal tapi anehnya London memberikanku kenyamanan yang tidak pernah aku bayangkan. Dan kalau kalian tanya apakah aku betah di London? BETAH, BETAH BANGET!

Selama 24 tahun mungkin kota yang paling kucintai dan kusukai adalah Malang. Aku tidak pernah bisa jatuh cinta sedalam itu selain pada Malang dan Jogjakarta. Kini aku berada di London, kota yang telah kutinggali selama 6 bulan belakangan. Siapa yang menyangka aku akan mencintai London sebesar aku mencintai Jogja dan Malang?

dokumen pribadi

Aku bisa saja lho membenci London karena cuacanya yang selalu sendu, muram, dan membuatku tak bersemangat. London langitnya selalu abu-abu (bahkan tak jarang hujan) dan aku benci hujan, tapi aku mencintainya. Aku benci hujan, aku benci mendung, tapi aku cinta London. Kalau ditanya mengapa aku mencintai London, mungkin karena kota ini memberikanku tempat untuk lari dari rutinitasku yang sebelumnya. London memberikanku ruang untuk berkembang, memberiku kesempatan yang baru, menemukan orang-orang yang berbeda dan tentu saja mereka adalah orang-orang hebat. London itu membuka mataku bahwa dunia ini tidak sempit.

Aku makin menyayangi diriku sendiri sejak di London, kota yang sebetulnya muram dan terburu-buru. Aku menemukan kebahagiaan maksimal karena aku bisa bergerak bebas dan bisa melakukan apa yang aku mau tanpa ada batasan. Aku bisa mengembangkan keinginanku dan ide-ide yang ada di kepalaku. Aku bisa membangun obrolan yang kelak mungkin berguna di masa depanku. Untuk itulah aku jatuh cinta pada Ibukota negeri Elizabeth ini.

London itu menarik, setiap sudutnya membuatku seolah ditarik ke masa lalu. Setiap sudutnya selalu membuatku terpana dan takjub. Aku jatuh cinta pada kota yang kejam bagi sebagian orang ini. Aku jatuh cinta pada setiap ruas jalan yang kulewati dengan bus merah. Saking sukanya dengan London, rasanya aku tak mau pulang. Aku ingin tinggal di kota ini sedikit lebih lama. Pasalnya hidup di London itu terlalu cepat, layaknya mimpi. Hingga aku menuliskan postingan ini pun rasanya aku tidak seperti tinggal di London.

Mungkin tahun ini aku berkata bahwa kota-kota yang kucintai hanya Malang, London, dan Jogja. Siapa tahu di masa depan aku mencintai kota-kota baru yang belum pernah aku kunjungi?

Comments

Post a Comment

Thank you for visiting my blog, kindly leave your comment below :)