Liverpool dan Penghargaan Pada Waktu


Bulan April ini seharusnya jadi bulan yang paling selow dan santai. Pasalnya selama satu bulan penuh aku libur (spring break). Sayangnya, seperti yang sering disinggung oleh senior-senior yang sudah kuliah di Inggris duluan, tidak ada "libur" bagi mahasiswa Master Inggris. Liburan pun diisi dengan belajar, gimana nggak belajar wong bulan Mei nanti langsung final exam?

Sebenarnya paragraf pertama tersebut sedikit pencitraan, niatnya sih memang meluangkan waktu untuk belajar tapi kenyataannya tidak sama sekali. Oleh sebab itu, judul tulisan ini adalah 'Penghargaan Pada Waktu'. Semakin ke sini aku merasa bahwa aku kurang menghargai waktu yang kupunya. Atau sebaliknya, aku terlalu menghargainya hingga kuhabiskan dengan melakukan hal-hal yang kuanggap penting tapi nyatanya tidak berhubungan dengan studi di Inggris.

Dalam kurun waktu satu minggu rasanya tidak ada satu hari yang kuluangkan penuh untuk belajar (unless today). Dan sekarang April menuju akhir saja, aku baru belajar setidaknya tiga hari terakhir atau mungkin seminggu terakhir sementara aku harus menghadapi final pada awal Mei hingga akhir Mei nanti. Bagaimana? Bunuh diri bukan?

Seperti yang kalian tahu, aku pergi ke Birmingham dan Oxfordshire di bulan April ini. Tak hanya dua kota itu, aku juga pergi ke Liverpool minggu ini. Di luar plesiran ke luar kota ini, aku juga terlibat dalam sejumlah kegiatan volunteer serta tak lupa bersosialisasi dengan teman-teman. Kalau aku boleh mengeluh, rasanya 24 jam dalam sehari tak cukup untukku. Namun kalau dikembalikan lagi, masalahnya ada pada diriku yang tidak menghargai waktu dan memanfaatkannya dengan baik.


Pada saat aku pergi ke Liverpool kemarin pun begitu, di situlah aku sadar bahwa aku harus menghargai waktu lebih baik lagi. Sejak awal temanku sudah mempertanyakan rencanaku, "Kamu ngapain di Liverpool cuma lima jam?" tanyanya saat aku berkata padanya bahwa aku akan berangkat jam 11 siang dari London dan pulang jam 6 sore dari Liverpool. Kalau dihitung-hitung, aku cuma berada 5 jam di kota yang berdekatan dengan Manchester tersebut.

Ucapan temanku itu menyadarkanku, "Oh iya, kenapa aku beli tiket kereta yang siang ya? Apa yang akan kulakukan di sana?"

Aku tidak ingat apakah aku benar-benar sadar membeli kereta pukul 11 siang itu atau tidak. Bagaimanapun, sebelumnya aku berpikir bahwa aku akan pergi ke sana sendirian saja dan aku sudah menyimpan daftar tempat yang hendak aku kunjungi di otakku. Kupikir aku tidak butuh waktu lama sendirian di kota orang. Toh waktu aku pergi ke Manchester, aku juga hanya berada di sana sebentar. Berangkat jam 11 siang dan pulang jam 6 sore juga.

Bila pergi bersama teman aku lebih memilih untuk berjalan tak tentu arah dan tidak punya itinerary, aku melakukan hal yang berbeda saat melakukan solo trip. Tidak ada itinerary tertulis tapi aku sudah punya rencananya dalam otak jadi tinggal dijalankan saja. Alasannya mengapa, sebenarnya aku tidak terlalu paham. Mungkin karena aku ingin lebih bebas mengunjungi tempat-tempat yang aku inginkan kalau sendirian atau mungkin karena aku ingin menikmati waktu jalan-jalan sama teman tanpa itinerary. Yah beginilah Agista, tidak pernah punya tujuan hidup yang jelas.

Agenda pertama yang kulakukan begitu sampai di Liverpool Lime Street adalah berjalan menuju bus stop terdekat, menuju Anfield stadium. Salah satu motivasi terbesarku berkelana di berbagai kota di Inggris sebenarnya adalah stadion. Niat ini sudah kukumpulkan sejak aku berada di Indonesia (visioner sekali). Dan uniknya, setiap kali jalan sendirian aku tidak takut memegang GPS atau kesasar. Aku tahu bahwa kemampuan navigasiku ini rendah sekali, maka dari itu aku lebih nyaman berjalan sendiri agar tidak malu saat jalan dengan teman tapi kesasar. Biasanya ketika jalan sama teman, aku membiarkan mereka yang mencari jalan. Sementara kalau jalan sendiri, aku kesasar sendirian pun nggak papa, nggak malu-maluin.


Untuk menuju Anfield, dari Liverpool Lime Street harus berjalan sekitar 5-7 menit menuju ke London Road. Tunggu di bus stop C untuk bus nomor 17 menuju Anfield. Sama seperti Birmingham, Liverpool menyediakan one day travel bus pass seharga 4 GBP saja (murah banget kan?). Daily cap bus di London saja 4,5 GBP. Jadi kalau seharian itu jalan-jalan dengan naik bus jatuhnya lebih untung gitu teman-teman. Nah, bus ini tibanya sekitar 10-15 menit sekali jadi memang agak lama nunggunya. Dan untuk menuju Anfield, dari bus stop C London Road tadi dibutuhkan waktu sekitar 30 menit (11 stop). Yang bikin agak sebal adalah, bus di luar London jarang memberi aba-aba di setiap stop jadi kalau nggak aware turunnya di mana ya alamat kebablasan.

Cuaca Liverpool saat itu sangat berbeda dari London dan sempat membuatku sebal. Pasalnya London sangat cerah sementara Liverpool mendung serta hujan gerimis cukup deras, bukan drizzle lagi. Worry not, hujan tak menghentikanku untuk menyambangi stadion yang jadi markas musuh bebuyutan Manchester United tersebut. Di Anfield aku tidak melakukan stadium tour atau masuk ke museumnya ya karena buat apa? Toh aku bukan fans. Rugi aja gitu bayar sekian GBP untuk mengunjungi sejarah klub yang bahkan aku tidak ingin tahu. Beda cerita kalau misalnya aku dibayarin teman buat masuk ke stadionnya hehehe.



Usai dari Anfield, aku sempat gamang hendak melanjutkan perjalanan ke Beatles Story langsung atua bagaimana. Tak lama, aku menyadari bahwa di dekat Anfield ada stadion klub EPL lain yakni Everton, Goodison Park. Awalnya aku tidak tahu kalau jarak Anfield dan Goodison Park itu bisa ditempuh dengan jalan kaki, aku memilih naik bus sesuai instruksi Citymapper. Begitu sampai di Goodison Park, lah ternyata kedua stadion ini hanya dipisahkan oleh satu taman besar. It's okay tho, kan aku sudah beli one day bus pass buat di Liverpool. Malah sayang kalau misalnya tidak digunakan.

Mungkin karena penggemar Liverpool lebih banyak dan tentu saja klub yang didirikan pada tahun 1892 tersebut lebih terkenal dari Everton, Anfield terlihat lebih terawat dan megah. Mereka pun punya toko merchandise official yang lebih sistematik dan nyaman buat dikunjungi. Sementara itu Everton selalu dianggap sebagai kuda hitam, kasarannya tim medioker lah. Padahal Wayne Rooney juga berasal dan kembali dari klub di daerah Merseyside tersebut.


Goodison Park, saat aku pergi ke sana, tidak dibuka untuk umum. Aku tak bisa menemukan pintu masuk atau petunjuk stadium tour. Yang kutemukan hanyalah tumpukan karangan bunga di depan stadion. Apakah ini berkaitan dengan tragedi Hillsborough? Sepertinya tragedi tersebut merupakan sejarah kelam MU dan Liverpool deh.

Nah, di seberang Goodison Park ada Everton One yaitu toko merchandise official Everton. As expected ya, barang-barang yang dijual oleh Everton harganya jauh lebih terjangkau daripada jualan merchandise Liverpool. Jersey (yang bukan buatan negara-negara SE Asia) saja dihargai 25-30 GBP saja. Seingatku, apparel Everton diproduksi oleh Burou (asumsiku sih pabrikan Inggris). Lalu souvenir seperti boneka dan syal dihargai 10-12 GBP saja. Murah banget kan? Saking murahnya, aku hampir kalap memborong souvenir di Everton One. Tapi kesadaran mengontrolku, sehingga aku hanya membeli titipan seorang teman yakni syal Everton yang berbahan super lembut seharga 12 GBP dan boneka koala seharga 5 GBP. Thanks Everton!


Setelah itu barulah aku putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke The Beatles Story, The Albert Dock, dan Museum of Liverpool. Sayangnya waktuku sempit sekali sehingga aku tak sempat mampir ke Museum of Liverpool. Aku menghabiskan banyak waktu di jalanan selama menuju The Beatles Story.

The Beatles Story ini merupakan museum komersil yang memajang memorabilia band Inggris 1960-an tersebut dengan tiket masuk sebesar 16++ GBP. Berhubung ada admission tiket masuk, aku mengurungkan niat dan hanya berfoto di depannya saja. Last admission The Beatles Story adalah pukul 6 sore. Museum ini berada satu kawasan dengan The Albert Dock sehingga tak perlu keliling kota jauh-jauh untuk menuju destinasi berikutnya. Di kawasan The Albert Dock sendiri juga ada Museum of Liverpool dan Merseyside Maritime.

Yang paling kusayangkan saat itu adalah cuaca. Coba kalau aku ke sana ketika cuaca sedang cerah dan indah-indahnya, pasti bakal dapat banyak foto bagus. Langit abu-abu dan gerimis syahdu membuat Liverpool terlihat suram waktu itu. Ditambah lagi aku dikejar waktu karena jam 6 sore harus balik lagi ke London.


Setelah perjalanan 5 jam ke Liverpool itu, sejujurnya aku lebih menyukainya ketimbang Manchester. Sorry not sorry, kalau bicara soal tata kota, bangunan, kultur, dan sejumlah faktor lain, Liverpool lebih membuatku merasa nyaman ketimbang Manchester. It is a really nice city, kalau dulu aku jadi kuliah di University of Liverpool mungkin aku akan betah sekali tinggal di sana sama seperti aku betah tinggal di London. Tapi kalau dibandingkan London, aku masih akan memilih London. Aku cinta London dan isinya, meski cuacanya kadang bikin sebal bagaimanapun aku merasa sangat nyaman tinggal di Ibukota Inggris ini.

Nah begitulah teman-teman, selama aku mengunjungi Liverpool aku berkejaran dengan waktu. Ingin ke tempat lain yang agak jauh tak bisa karena keterbatasan tiket kereta. Mungkin lain kali aku akan kembali ke sana, kuhabiskan waktu di sana seharian di kota yang indah itu. Lain kali, kalau dapat tiket diskonan lagi 😆