EXAM dan Segala Tetek Bengeknya


Untuk kesekian kalinya aku menulis di tengah gegap gempita exam. Well for me writing is such a remedy, artinya dengan menulis semua kegalauan dan hal-hal yang bikin aku stress itu bisa berkurang (walau sedikit). Even if I haven't studied for upcoming two exams, I have to write this post first. To relieve my stress and anxiety. Jadi sebelum aku belajar untuk mata kuliah selanjutnya, alangkah lebih baik kalau aku cerita pada kalian semua tentang exam alias Ujian Akhir Semester yang pada umumnya dilalui oleh mahasiswa master di Inggris. Dalam postingan ini, secara khusus aku menceritakan soal exam di Queen Mary University of London, bisa berbeda kebijakan di setiap Universitas. Bahkan ada juga universitas yang tidak mengadakan final exam.

Seperti yang sempat aku singgung dalam postingan di awal-awal aku masuk kuliah (klik di sini), ujian akhir di kampusku memang diadakan secara serentak di akhir semester dua. Istilahnya ujiannya dirapel gitu. Semua modul yang sudah diambil baik di semester A atau B akan diujikan pada bulan Mei 2018 ini. Sementara itu, di setiap akhir semester biasanya hanya diadakan midterm exam yang bergantung pada kebijakan masing-masing dosen.

Selama kuliah di jurusan Behavioral Finance QMUL, aku mengambil 9 modul dan dua di antaranya tidak memiliki final exam. Sehingga aku hanya akan menjalani 7 final exam sejak awal Mei hingga akhir Mei hari ini. Kalau kalian tanya apakah ujiannya mudah? Coba simak dulu penjelasan berikut ini:
  1. Ada mock exam (model soal ujian) yang bisa dipakai untuk latihan
  2. Model soal ujian ini bisa jadi acuan bagi mahasiswa untuk belajar. Jadi bisa memudahkan materi mana saja yang sekiranya akan keluar di exam sehingga belajar lebih efektif. Selain itu karena bentuknya soal latihan dan (biasanya) sudah ada kunci jawaban, mock exam ini bisa digunakan untuk mengasah kemampuan sebelum menghadapi exam sebenarnya. Walaupun kadang dosen lebih memilih untuk mengutak-atik model exam sebenarnya sehingga lebih surprising. Tapi setidaknya, ada satu atau dua soal yang bisa dikerjakan sesuai model mock exam ini.
  3. Harus mengikuti keinginan dosen
  4. Tiap dosen memiliki kriteria penilaian tersendiri, kurang lebih sama seperti di Indonesia. Hanya saja dalam mengerjakan exam kita harus benar-benar paham apa sih yang dosen ini mau? Jawaban yang ngeplek dengan materi yang beliau berikan atau boleh dimodifikasi? Atau mereka akan lebih menghargai proses daripada hasil atau tidak? Dengan mengerti keinginan dosen, kita bisa menyusun strategi yang tepat untuk menghadapi exam tersebut. Contohnya nih, di salah satu modulku ada dosen yang suka memberikan pertanyaan-pertanyaan unpredictable tapi jawabannya harus mirip dengan slide (materi yang dia ajarkan) kalau nggak, nggak bakal dapat poin. Untuk mengatasi hal tersebut, aku harus benar-benar menghapal ribuan slide yang dia berikan. Sadis dan nggak terlalu membuatku memahami maksud kegiatan belajar mengajar itu apa.
  5. Susah-susah gampang
  6. Kenapa ku bilang susah-susah gampang? Gampang karena materi telah diajarkan semua di dalam perkuliahan, ditambah lagi ada sejumlah modul yang memberikan Problem Sets hingga bisa digunakan sebagai acuan dan latihan soal. Susah karena kita tidak perna tahu soal yang mana yang akan keluar sehingga seringkali membuat kita salah mengantisipasi hal tersebut. Walhasil di masa exam, kita jadi tidak punya amunisi cukup untuk 'mengalahkan' sejumlah soal yang tersedia. Dalam kasusku, aku seringkali salah mengantisipasi soal yang akan keluar di ujian dan aku tidak bisa mengingat detil. Sebagai seorang anak yang intuitive, aku lebih mudah mengingat sesuatu secara general daripada spesifik. Sayangnya itu jadi kelemahan terbesarku, karena tidak ingat detil seringkali aku salah menulis dan kehilangan poin saat mengerjakan ujian.
  7. Tidak bisa ditebak
  8. Seperti yang kubilang di dua poin sebelumnya, exam tidak bisa ditebak. Ada suatu masa dosen kembali mengeluarkan bentuk soal yang sama selama dua tahun berturut-turut tapi bisa jadi mereka mengeluarkan jenis soal yang berbeda jauh dari ujian-ujian sebelumnya. Inilah yang jadi tantangan besar selama menjalani ujian di QMUL.
  9. Disiplin, ketat, dan tidak bisa curang sedikitpun
  10. Selama menjalani exam, aku belum pernah melihat kecurangan dan memang rasanya tidak ada celah untuk melakukan kecurangan. Pasalnya aturan exam di QMUL sangat ketat, bahkan tulisan yang ada di tubuh pun dianggap sebagai 'pelanggaran' exam. Kalau mau bawa botol air minum harus diletakkan di bawah bangku, kotak pensil pun demikian. Konsekuensi kecurangan di satu matkul bisa menggagalkan kelulusan, artinya bakal gagal di semua matkul dan harus mengulang kuliah. Yah walaupun menurutku sebenarnya ada celah kecurangan. Contohnya: menggunakan kacamata yang telah dimodifikasi sehingga dapat mengirim soal pada transmisi yang berbeda (ala-ala Kingsman/James Bond) dan menerima jawabannya lewat airpod yang nggak bakal diperiksa untuk cewek-cewek berhijab sepertiku. Kalau aku mau curang, aku bisa. Sayangnya aku tidak punya equipment secanggih itu dan aku masih punya standar moral. Well, aku nggak tahu sih kalau misal ada anak yang kecurangannya lebih jenius daripada yang aku pikir.
  11. Diadakan di venue yang berbeda
  12. Kalau di Indonesia yang namanya ujian biasanya akan diadakan di ruangan kampus tersebut, di QMUL tidak. Tak jarang QMUL menyewa venue di luar kampus seperti Sports Center atau Pavilion untuk mengadakan exam. Satu hal yang aku syukuri dari hal ini, suasana baru! Jadi nggak melulu terkungkung di lingkungan yang sama. Ditambah lagi penyelenggaraan exam juga cukup unik. Mahasiswa sebanyak 200-300 orang dikumpulkan dalam satu aula besar bersama dengan kursi yang ditata sedemikian rupa. Sepanjang exam, ada sekitar 5-10 pengawas yang berjalan ke sana kemari untuk mengawasi jalannya exam betul-betul, bahkan ke kamar mandi aja dianterin lho untuk meminimalisir kecurangan (padahal ya kalau pinter nyontek bisa aja sih). Tambahan lagi, pengawasnya galak-galak banget. Lebih galak daripada dosen dan aku sendiri tidak begitu paham apakah mereka staf QMUL atau external invigilator yang disewa oleh QMUL.
  13. Ujian tulis
  14. Kebetulan sekali di Fakultasku (dan fakultas temanku), final exam diadakan dalam bentuk ujian tulis bukan essay atau artikel/coursework. Kalau boleh memilih aku lebih suka coursework karena aku paham betul dengan kemampuan menulisku. Berhubung ujiannya tulis, feelnya mirip dengan ujian yang dilakukan saat masih sekolah dulu. Benar-benar mengerjakan soal yang telah disediakan. Bedanya, bentuk soalnya bukan multiple choice (meski ada satu matkul yang memberikan multiple choice) tapi esai. Dan karena aku mengambil cabang ilmu keuangan jadi aku harus banyak menghitung daripada 'bullshitting' all over the place. Tantangannya: harus memahami konsep dengan baik agar bisa menghitung dengan baik.
  15. Standar nilai berbeda dan susah mendapatkan poin sempurna
  16. Sejumlah temanku (mahasiswa Inggris native) bilang bahwa sistem penilaian di Inggris itu agak harsh dan kurasa memang iya. Untuk mendapatkan nilai 70-100 itu sangat susah, sementara standar nilai bagus di Asia adalah 80-100. Dapat nilai 60 di Inggris saja sudah bagus, nilai 60 itu setara dengan B atau B- kalau dikonversi ke standar IPK Indonesia (kalau tidak salah). Hal yang menjadi alasan mendapatkan poin itu susah adalah, masing-masing soal punya bobot. Contoh: soal nomor satu bobot poinnya 20. Kita bisa menjawab soal tersebut tapi bukan berarti kita bisa mendapat poin penuh. Pernah suatu kali aku tetap berusaha menjawab tapi tidak mendapat poin sedikitpun alias 0 atau malah aku hanya dapat poin 7 atau 4 dari bobot 10 poin. Hal inilah yang membuat nilai turun drastis. Berbeda dengan Indonesia yang parameter poinnya jelas, 10 kalau benar 0 kalau salah. Dan kita juga tidak pernah tahu jawaban seperti apa yang memiliki kemungkinan dapat poin atau tidak dapat poin karena itu semua tergantung kebijakan dosen.
Nah selama exam kemarin, aku merasa agak kecewa dengan diri sendiri di dua modul. Aku sampai merasa bahwa aku akan gagal di dua modul tersebut dan harus re-sit (alias remidi) pada bulan Agustus nanti. Jadi, apa yang terjadi kalau kita tidak lulus exam? Dan berapa standar nilai untuk lulus exam? Well, di QMUL standar nilai untuk lulus exam adalah 50 yang merupakan kombinasi (pada umumnya) 20% midterm dan 80% exam. Kalau gagal, harus re-sit (remidi) yang diadakan pada bulan Agustus nanti tapi sebaik apapun hasilnya, nilainya akan tetap ditulis 50 di transkrip (50 = C). Kalau masih gagal di re-sit harus mengulang modul tersebut tahun depan atau tidak lulus dengan gelar MSc.

Bagaimana standar gelar di Inggris? Dan berapa minimum nilai yang dibutuhkan? Menurut buku panduan QMUL (dan khususnya di QMUL), untuk lulus dengan predikat 'Merit' pada jenjang Master, mahasiswa harus lulus dengan rata-rata nilai exam (midterm + final) minimal 60 dan nilai tesis 60. Untuk lulus dengan predikat 'Distinction' mahasiswa harus lulus dengan rata-rata nilai exam (midterm + final) minimal 70 dengan nilai tesis minimal 60. Bila tidak memenuhi target tersebut, maka mahasiswa hanya akan lulus tanpa predikat apa-apa. Dan kalau gagal di dua modul atau lebih harus mengulang kuliah lagi tahun depan.

Predikat ini sesungguhnya membuatku sedikit stress karena ada salah satu temanku yang ingin sekali lulus dengan predikat Distinction, ada juga sejumlah temanku yang masih berpikir bahwa nilai 60 itu tidak bagus-bagus amat (standar mereka Asia). Padahal menurutku nilai 60 itu sudah oke karena aku setengah mati mendapatkan nilai 60 itu. Bayangkan saja, dari 5 soal exam, bisa mendapatkan poin sempurna di 3 soal saja sudah bagus. Iya kalau poinnya sempurna, kalau tidak??

Jujur aku sempat jadi seperti orang gila dan hampir depresi karena sebulan penuh menghadapi exam. Ditambah lagi ekspektasi sebagai seorang penyandang beasiswa. Seringkali aku dihantui oleh perasaan bersalah bahwa I haven't tried enough padahal faktanya aku sudah belajar mati-matian dan berusaha sama kerasnya layaknya teman-temanku yang lain. Bahkan aku sudah curi start dengan belajar sejak awal semester. Saking stress dan depresi akibat mengurung diri di kamar berhari-hari, memikirkan kemungkinan gagal di exam, dan memikirkan kemungkinan pertanyaan tak terduga yang mungkin bakal muncul di exam keesokan harinya, hingga memikirkan apakah aku akan lulus dengan predikat 'Merit' itu membuatku kehilangan nafsu untuk menulis. Padahal seperti yang di awal aku bilang, writing heals me. Saat itu aku benar-benar hilang fokus dan merasa tidak tertarik melakukan hal-hal yang aku suka. Ditambah lagi aku mengisolasi diri dengan tidak bertemu siapa-siapa.

Untungnya aku tidak sampai kepikiran untuk mengakhiri hidup.

Yah exam memang se-melelahkan itu. Makanya aku sempat kagum dengan seorang temanku yang rela tidak kemana-mana, benar-benar mengurung diri di rumah selama dua bulan dan belajar. Melihat dia seperti itu aku jadi merasa lemah. Dia saja bisa, mengapa aku tidak bisa? Tapi sekali lagi, tidak baik membandingkan diri dengan orang lain karena masing-masing orang punya cara mereka sendiri dalam menghadapi sesuatu.

Sekarang ini yang bisa kulakukan hanyalah menunggu hasil exam, apakah aku memang akan gagal di dua modul yang kuprediksikan gagal? Apakah aku harus re-sit? Saat ini aku tidak lagi memikirkan predikat 'Merit', lulus saja sudah syukur alhamdulillah.