Unconditional Support System

Lagi-lagi karena galau dan lagi alergi serbuk bunga musim semi, alih-alih belajar serius untuk exam Jumat ini aku malah menuliskan postingan tidak berfaedah. Uniknya, meski tidak berfaedah masih ada yang membaca postingan blogku yang kebanyakan isinya meracau nggak jelas ini. Ku merasa sangat terharu. Thanks semua yang udah baca blog ini. Tanpa kalian mungkin aku tidak akan semangat menulis blog lagi #banjirhormonestrogen 😊. Anyway alergi serbuk bunga musim semi ini emang parah banget kok dan baru kerasa ketika aku berada di London. Pas di Indonesia mah mana ada.

Tulisan hari ini sebenarnya terinspirasi dari perbincanganku dengan Ron, blogger Kpop panutanque. Ron ini merupakan sosok yang selama beberapa tahun belakangan nggak berhenti bikin aku amazed. Soalnya jalan hidup dia tuh penuh keberuntungan aja gitu. Dia ke Korea buat liputan oke, ketemu artis KPop oke, nonton konser EXO selama 4 tahun berturut-turut oke, bahkan dia juga sampai ke New York dan London, ditambah lagi pernah diundang jadi duta Indonesia ke Youth Forum Korea. Gila sih, Ron ini emang anak yang hidupnya selow-selow wae tapi kasih impact gede ke orang lain dari tulisan doang. Gimana nggak jadi panutanque coba?

Dan beruntung, hari ini aku berkesempatan untuk ketemu dia (bahkan hingga dua atau tiga hari ke depan).

Sebelum ketemu Ron, aku sempat anxious gitu kan. Ron ini sebetulnya anaknya introvert ditambah lagi dia ini social media influencer, sementara aku? Cuma blogger pinggiran yang bahkan nggak ada adSense nyantol satu pun di halamannya. Dan tidak lupa, aku juga introvert. Sebagai seorang anak introvert, rasanya wajar kalau punya rasa cemas sebelum ketemu orang baru. "Kira-kira ini kalau ketemu orang yang baru aku kenal bisa nyambung nggak ya? Canggung nggak ya? Bisa berjalan lancar nggak ya rencananya?"

Everything turned out well afterall.

Yang membuatku sampai menuliskan postingan ini pasca menemani Ron jalan-jalan di London hari ini adalah obrolanku sama dia di Rotiking. Awalnya dia bertanya soal kesulitan yang kualami sebagai mahasiswa Inggris. Di situ pertahananku bocor, ku cerita padanya bahwa sebenarnya yang terasa sulit bagiku selama jadi mahasiswa di sini itu bukan culture shock atau banyaknya paper yang harus dibaca tapi tuntutan keadaan.

Jujur, selama beberapa minggu terakhir apalagi di masa-masa exam ini aku selalu khawatir dengan keadaanku, masa depanku, dan nilaiku. I don't think I've done enough. Kalau ditelusuri lagi, aku nggak belajar semati-matian itu. Karena aku memang bukan tipe orang yang bisa ngeforsir diri buat belajar terus-terusan atau tipe orang yang bisa memorizing something to details. Aku orangnya nggak detail, aku bisa memahami sesuatu dengan mudah tapi selalu melewatkan hal-hal yang kecil. Aku orangnya antisipan tapi sering sekali salah perhitungan. Bahkan aku sempat ingin nyerah ketika aku tahu bahwa aku akan gagal di satu mata kuliah karena aku salah antisipasi soal. Saat itu aku berada di titik, "Ngapain ku belajar mati-matian selama seminggu ini kalau ternyata yang kupelajari nggak keluar juga di exam dan pada akhirnya gagal juga?"

Di titik itu aku ingin menyerah pada keadaan.

Ditambah lagi pressure dari teman-temanku baik sekelas atau lingkungan sekitar yang khawatir pada nilai mereka. Lingkunganku di Indonesia nggak ada apa-apanya kalau dibandingkan lingkunganku yang sekarang. Dan sebagai anak yang ambisius (meski sekarang berusaha untuk jadi agak selow), tentu saja aku makin terbebani dong. Padahal sedari awal aku sudah tahu kemampuanku dan menyetel target yang sekiranya bisa kupenuhi. Hanya saja orang-orang di sekelilingku selalu beranggapan bahwa targetku itu terlalu rendah.

Sebenarnya aku bukan tipe orang yang peduli dengan apa kata orang tapi ada suatu titik dimana aku berpikir bahwa, "Iya juga. Negara sudah menyekolahkan aku jauh-jauh ke sini, kalau aku nggak ngasih yang terbaik gimana dong? Kalau aku pulang dengan gelar doang tanpa ada embel-embel di belakang gimana dong? Kalau temanku bisa, kenapa aku nggak bisa?" Aku selalu mengembalikan pertanyaan-pertanyaan itu pada diriku sendiri. Tapi karena itu aku jadi terbebani sendiri.

The fact is no matter how hard I tried, that's all my capability. I can not do more than what I've aimed. Mungkin iya, mungkin possible buatku untuk dapat nilai Distinction tapi aku nggak bisa. Sebanyak apapun aku berusaha, selalu ada yang missed. Dan kita tahu bahwa kita nggak bisa mengontrol agar hidup berjalan sesuai keinginan kita. Saat itulah Ron berkata padaku:
Kita tuh sebenarnya nggak butuh saran, kita tuh cuma butuh didengar dan dipuk-pukin. Disemangatin, disupport. Kita nggak butuh orang yang nyalahin kita karena dunia itu udah nyalahin kita. Kita cuma butuh dengar "Ayo kamu bisa kok!"
Nggak peduli targetku lebih rendah dari orang lain atau apa, Ron menghiburku dengan berkata bahwa aku sudah berada di titik yang lebih jauh dari orang lain. Aku sudah melangkah sejauh ini, jadi aku seharusnya tinggal menjalani aja dan fokus pada hal tersebut. Itulah yang kubutuhkan unconditional support system, sebenarnya ada orang-orang yang jadi unconditional support system-ku di sini hanya saja aku mungkin belum menyadarinya hingga Ron memberi tahuku hal tersebut.

Dan sebenarnya yang kubenci dari diriku sendiri adalah aku kerap membandingkan diriku dengan orang lain. Seperti yang sudah kusebutkan di atas, "Kalau temanku bisa, kenapa aku nggak bisa?" Padahal tiap orang punya pace mereka masing-masing. Aku tahu kalau orang-orang punya waktu dan rezeki masing-masing tapi bawaan membandingkan diri sendiri dan orang lain ini selalu ada. Mungkin memang aku cuma butuh a pat on my back dan perkataan, "Udah. Fokus aja, kamu pasti bisa."

Nah tuh Gis, yang penting sekarang kamu belajar yang rajin jangan ngeblog sama jalan-jalan aja. Exam tuh diseriusin. Kamu sudah berada sejauh ini dan tinggal sedikit lagi, nggak boleh nyerah. Semua akan terlalui pada waktunya. Jangan pedulikan nilai orang lain, yang penting fokus. Selesai kok, Lulus kok. Ayo kamu harus bisa!