Belajar Mengapresiasi, Memahami, dan Bertoleransi



Hari ini sudah hari ke-21 Ramadan, itu artinya bulan penuh berkah ini akan segera berakhir dalam 9 hari ke depan. Itu artinya waktu keberangkatanku ke Indonesia pun makin dekat. Ya, aku berencana untuk pulang ke Indonesia lebaran nanti. Bukan karena rindu pada orangtua tapi karena sebenarnya aku hendak menonton konser. Dangkal memang tapi begitulah adanya. Kalau tidak nonton konser mungkin aku tidak akan pulang ke Indonesia.

Namun kalau dipikir-pikir bisa jadi aku mencari-cari alasan agar aku bisa pulang. Tidak, tidak untuk bertemu orangtua tapi untuk berkumpul kembali bersama teman-temanku. Yah, walaupun sepertinya mereka juga tidak kangen-kangen amat padaku. Semakin ke sini semakin ku berpikir kalau aku ini sebenarnya sendirian. Aku punya teman-teman dekat tapi jauh. Tidak ada seorangpun yang benar-benar menungguku untuk pulang atau merindukanku. Akupun begitu, tidak ada seorangpun yang kurindukan atau kuharapkan ada di sisiku. Ada satu tapi dia tidak di sana dan rindunya sudah jadi milik orang lain.

Aku bertemu banyak orang baik di Inggris, iya. Baik flatmate atau Mbak Ayodd, semua menerimaku dengan baik, menjaga serta merawatku dengan baik pula. Selama tinggal di Inggris, aku berasa memiliki tiga orangtua. Rasa kebersamaan dan perhatian itu sesuatu yang jarang aku rasakan di rumah, apalagi soal tindakan apresiatif. Entah mengapa aku bertemu dengan orang-orang yang lebih apresiatif di sini ketimbang di Malang. Dan lagi, aku masih merasa sendiri dan kupikir tidak seorang pun yang benar-benar berharap aku akan kembali ke Malang. Ada atau tidaknya aku di Malang sepertinya tidak signifikan. Well, I have to live my own life afterall.

Bicara soal apresiasi dan memahami, aku punya kisah menarik. Hal ini sebenarnya sudah kuceritakan di linimasa Facebook-ku. Yang pertama soal aku dan temanku yang kebetulan jalan-jalan ke Cambridge di awal minggu ini (04/06). Temanku ini, Rochelle, sebenarnya tidak pernah terlalu dekat denganku. Hanya saja ketika aku menghabiskan waktu jalan-jalan berdua dengannya di Cambridge aku jadi mengapresiasi perbuatannya. Sangat mengapresiasi.

Dia non-believer (atheist) dan aku baru tahu fakta itu ketika kami berkunjung ke St. John's Chapel demi bisa masuk gratis. Meski dia Atheist bukan berarti dia tidak bermoral, justru dia sangat menjunjung tinggi kejujuran dan toleran padaku. Sebenarnya aku tahu bahwa Atheist tidak sama dengan jahat/berakhlak buruk. Tapi baru di Inggris aku melihat contoh nyata. Banyak temanku yang Atheist tapi mereka justru yang paling menghormati keyakinan orang lain. Sementara di negaraku, banyak orang yang mengaku beragama, percaya pada Tuhan, religius, tapi malah menyerang orang lain. Malah mereka-mereka itu akhlaknya tidak bisa dibilang baik. Walaupun aku juga tahu sebenarnya religius tidak berkaitan dengan altruisme seseorang. Religius tidak sama dengan orang baik/berakhlak baik.


Tapi sebenarnya, dalam ajaran keyakinan yang kuanut (dan aku percaya ajaran lain juga begitu), kepercayaan apalagi kitab suci sebenarnya adalah panduan agar manusia senantiasa berbuat baik. Kalau para Atheist saja punya standar moral tinggi tanpa punya kitab suci, mengapa orang-orang yang sudah memiliki buku panduan tersebut tidak lebih baik? Bukankah agama itu mengajarkan kebaikan? Bukankah agama itu mengatur seseorang agar menjadi manusia yang lebih baik, menjadi khalifah di muka bumi?

Tindakan Rochelle sebenarnya sederhana, dia tidak makan daging babi ketika kami menyantap Korean Barbeque bareng. Dia paham kalau aku tidak diperkenankan makan babi. Dan yang paling membuatku tersentuh adalah Rochelle benar-benar menjaga ucapannya agar tidak mengumpat atau bahkan makan saat aku berpuasa. Kadang aku jadi merasa sangat bersalah. Saat jalan-jalan ke Cambridge kemarin, dia rela kelaparan dan kecapekan selama 7 jam. Padahal aku sudah bilang padanya untuk membeli makan kalau lapar.

"If you hungry, let's just go to the restaurant and you can eat. I will accompany you, I don't mind. I don't want you to starve, I know you're tired and hungry," ujarku pada Rochelle. Tapi gadis yang berusia lebih muda 3 tahun dariku ini menggeleng.

"No, I will just stop by McDonalds later. You're fasting, I think it's kinda unethical," tukasnya. Sebenarnya sudah berkali-kali aku menyuruhnya makan karena kasihan padanya tapi dia menolak. Bahkan dia tak mau makan Chelsea Buns yang kami beli di Fitzwillie meski aku menyarankannya untuk memakannya untuk mengganjal rasa lapar yang dirasakannya.

Pelajaran yang kudapat di kunjungan keduaku ke Cambridge adalah memahami dan bertoleransi. Sebenarnya pelajaran ini tidak hanya untukku saja tapi juga untuk banyak orang di luar sana yang masih suka salah mengartikan toleransi. Toleransi = memberi kebebasan, menghormati orang lain melaksanakan ibadah. Toleransi tidak sama dengan ikut-ikutan ibadah.

Sudah dua kali aku berkunjung ke dalam gereja selama di Inggris tapi aku tidak beribadah di dalamnya. Meskipun yang terakhir di Cambridge kemarin ada acara ibadah tapi niatku hanyalah untuk mendengarkan choir Gereja. Aku tidak tahu bahwa mereka benar-benar ibadah. Rasanya aku sedikit merasa bersalah dan geli ketika tahu bahwa saat aku masuk sedang diadakan ibadah. Mengapa demikian? Karena aku merasa tidak menghormati orang ibadah. Niatku masuk hanyalah untuk mendapatkan fasilitas gratisan yang seharusnya tidak aku dapatkan kalau aku tidak mendengarkan orang ibadah. Itu artinya aku menyalahgunakan kesempatan dan semacam "mengejek" ibadah orang lain karena niatku tersebut.


Tak cuma Rochelle, pernah suatu kali saat aku sedang menuju Korean Barbeque di Golders Green (bersama Rochelle juga) ada seorang bule yang bertanya apakah aku sedang puasa. Saat itu kujawab tidak karena aku memang tidak puasa (karena tidak sahur).

"Are you fasting?" tanyanya di dalam bus yang membawaku dan Rochelle ke Golders Green.
"Not today," jawabku. Bule tersebut manggut-manggut.
"Woman things?" lanjutnya dan aku mengiyakan.
"It's hot today," katanya. Hari itu memang cukup terik. Suhu mencapai 26 derajat celcius, mirip dengan suhu rumah (Indonesia).
"Yes it is, fortunately I'm not fasting," jawabku.
"Do you have to make up your fast in some other time if you're not fasting?"
"Sure, I have to. I might make it up on Winter since it would be beneficial."
"Ah, so I have to make it up. I am not fasting this year, I usually do before," ujarnya. Mendengar jawabannya itu membuatku terkejut. Jadi bule ini muallaf atau bagaimana?
"Umm, sorry to ask. Are you a Moslem?"
"Well, I'm both Christian and Moslem but I got more interested to Islam recently. So still I have to make it up?"
"I guess you don't have to since you're new. Or better ask somebody who knows better than me for that. I'm not in capacity to tell you whether you have to make up or not," lanjutku.
"It's fine. I usually fast but just not this year because this and that. But thank you for reminding me. I'll start fasting tomorrow and I will make it up later," sahutnya.

Setelah itu sang bule turun di beberapa stop selanjutnya dan mengucapkan "Assalamualaikum." Yang paling membuatku tersentuh di momen itu adalah si bule merasa diingatkan untuk berpuasa sementara aku hari itu tidak puasa. Saat itu aku benar-benar merasa bersalah karena tidak memilih untuk berpuasa meski melewatkan sahur. Dari situ aku belajar untuk memahami dan merasa diapresiasi. Padahal aku tidak melakukan hal yang besar yang patut untuk diapresiasi. Menariknya kultur di negara Barat yang apresiatif memang sangat baik. Tak heran bila mereka bisa jadi orang intelek karena lingkungan mereka sangat suportif.

Contohnya kemarin (05/06), tiba-tiba saja Departemen Keuangan tempatku melaksanakan volunteer selama 6 bulan belakangan memberiku kejutan. Mereka sudah menyiapkan cake sedemikian rupa lengkap dengan tea pot. Istilahnya mereka mengadakan afternoon tea party untuk merayakan Volunteering Week yang jatuh pada minggu ini. Ku terkejut, tersentuh, dan terharu. Sayangnya aku tidak bisa ikutan tea partynya karena sedang berpuasa. Meski demikian, mereka mengizinkanku untuk membawa pulang sebagian cakes sebanyak yang aku mau untuk dibagi bersama teman-teman saat buka puasa. How good they are!

Itu merupakan contoh betapa apresiatifnya orang Barat terhadap siapapun tanpa diskriminasi. Tak hanya tea party, aku juga mendapatkan hadiah dan surat yang mengatakan bahwa aku telah bekerja dengan baik selama volunteer. Sangat apresiatif!




Sebenarnya dalam sehari-hari pun mereka selalu mengapresiasi pekerjaanku padahal aku tidak melakukan hal yang berat atau sesuatu yang signifikan. Mereka terus memberiku semangat, seperti: "Thanks Agista, you are so quick!" atau "Your work is brilliant!" Bahkan saat aku bilang aku harus menghadapi exam, mereka bertanya apakah aku melaksanakan exam dengan lancar? Dan saat aku cerita bahwa aku tidak merasa cukup bagus di exam mereka memberi semangat. "Don't worry, you will do well. You are better than what you think!" Positif banget kan?

Tidak banyak lingkungan kerja di Indonesia yang apresiatif semacam ini, aku bersyukur pernah ada di salah satu tempat kerja yang leadernya apresiatif. Thanks Mas Eka! Di sejumlah perusahaan lain, aku jarang mendengar pimpinan yang mau benar-benar memuji karyawannya ketika mereka bekerja dengan baik. Bagi mereka itu sudah tugas karyawan karena mereka sudah menetapkan sejumlah bayaran. Sayangnya manusia tidak hanya butuh uang, mereka juga butuh diapresiasi dan butuh mengaktualisasikan diri seperti Teori Maslow. Seberapa banyak gaji pun, kalau load kerjaan banyak, usaha besar, tapi karyawan tidak mendapatkan dukungan atau paling tidak ucapan "Terima kasih, kamu sudah bekerja dengan baik hari ini," ya dia tetap tidak akan merasa diapresiasi. Apalagi kalau si karyawan sudah berinisiatif tapi tidak mendapat sambutan baik malah dapat cacian.

Berada di Inggris membuatku belajar begitu banyak hal hingga seringkali aku lupa mana yang harus kubagikan di blog ini. Pengalaman-pengalaman yang mendewasakan, orang-orang yang inspiratif, dan cerita-cerita yang kulalui semoga bisa membuatku jadi orang yang lebih mawas diri. Tentu aku tak ingin menyimpannya sendiri karena hal baik harusnya dibagikan. Aku percaya kok berbagi hal baik akan berdampak pada orang lain suatu saat nanti. Dan semoga tulisan ini pun begitu.

Semoga kisah-kisah pendek yang kualami tersebut membantu kita untuk lebih mencoba untuk belajar mengapresiasi, memahami, dan bertoleransi.