Hikmah di Balik Pulang ke Malang


Belum lama ini, lagi-lagi perilaku awardee LPDP disoroti oleh netizen. Isu #ShitAwardeeLPDPSays pun masih hangat di jagad jejaring mikroblogging Twitter. Coba deh kalian tengok tagar tersebut dan temukan opini-opini netizen soal perilaku so-called-awardee-LPDP yang tingkahnya bikin geleng-geleng kepala dan ngelus dada. Perilaku ini usut punya usut berkaitan dengan topik yang hendak aku angkat dalam postingan ini, yakni culture shock.

Tulisan ini pun turun tidak serta-merta karena aku ingin menulis tapi karena terpicu oleh tulisan teman sesama penerima beasiswa yakni Gadis, dalam postingannya ini dia menceritakan soal culture shock yang dia alami saat pulang ke Malang. Selain menulis, Gadis juga membuka diskusi soal culture shock tersebut di akun sosial medianya. Dari situlah aku merasa perlu juga untuk membagikan 'culture shock' or 'reverse culture shock' yang kualami saat pulang ke Malang kali ini.

Berbeda dengan Gadis atau #ShitAwardeeLPDPSays di Twitter, culture shock yang kualami lebih dekat dan spesifik. Dalam tagar #ShitAwardeeLPDPSays, seringkali diceritakan bahwa mereka yang sudah menerima beasiswa di luar negeri kerap membandingkan Indonesia dengan negara tempat mereka studi. Padahal perbandingannya sesungguhnya tidak relevan karena not apple to apple. Contohnya: "Di Indonesia tuh birokrasi ribet nggak kayak di Inggris." atau "Kalau di Inggris itu kita bisa bayar pakai debit card contactless jadi nggak perlu gesek." atau "Di Melbourne itu tata kotanya rapi nggak kayak di Indonesia, tanahnya sempit." Dan lain sebagainya.

Jangankan contoh yang demikian, masih banyak juga yang mengeluh soal orang yang buang sampah sembarangan, menyerobot antrean, atau mengambil jatah jalan orang lain. Ya, sebagai orang Indonesia dan hidup di negara itu selama 23 tahun aku paham betul bahwa ketertiban masih jadi PR besar di kehidupan bermasyarakat. Kalau ditanya apakah culture shock melihat hal-hal demikian? Jawabanku tidak. Karena aku tahu, Indonesia tidak akan berubah jadi lebih tertib hanya dalam kurun waktu 9 bulan saja.


Yang membuatku cukup kaget adalah basa-basi dan juga candaan yang dilemparkan teman terdekat. Saat pulang, aku punya begitu banyak jadwal bertemu dengan teman-temanku terutama teman-teman paling dekat dan kerap berkomunikasi denganku selama aku di Inggris. Ketika bertemu dengan teman dekat dan mengobati rasa kangen, aku berharap bahwa kami akan saling berbagi cerita dan membicarakan hal-hal produktif. Oh come on, we're already a quarter of the century. Jadi yang ada di pikiranku saat bertemu dengan teman-teman adalah aku berbagi pengalaman selama di London dan mereka berbagi keresahan dan juga perubahan yang mereka alami selama di Indonesia.

Tapi ternyata tidak. Ada satu dari segelintir teman yang langsung membuatku bad mood dan merasa bahwa hal yang dilakukannya itu tidak benar. Seperti apa? Basa-basi tipikal orang Indonesia, contohnya: mengomentari fisik atau meminta oleh-oleh. Awalnya aku berusaha memahami bahwa yang namanya kebiasaan dan juga budaya itu tidak dengan mudah diubah begitu saja, aku coba mengerti. Tapi lambat laun obrolan berputar di sekitar "Kamu kan dapat beasiswa banyak, kan uangmu banyak, belikan aku makan dong. Masa temannya nggak dikasih oleh-oleh? Eh jangankan teman, ortu aja nggak kamu kasih oleh-oleh." Di situlah aku merasa bahwa, no it wasn't right, this is not what I expected.

Kuakui memang susah mengubah kebiasaan minta oleh-oleh atau minta traktiran di kalangan masyarakat Indonesia. Tapi aku merasa sangat gagal ketika teman terdekatku sendiri berperilaku demikian. Mau memberikan respon savage itu tidak bisa, pergi begitu saja dicap sombong dan arogan, memberi pengertian baik-baik juga belum tentu diterima. Padahal aku sudah sering sekali membaca artikel ini dan itu di internet yang sedikit banyak (seharusnya) mengubah paradigma masyarakat Indonesia untuk minta oleh-oleh. Ya balik lagi, tidak semua orang yang mampu pergi ke luar negeri itu punya cukup duit. Toh mereka bisa pergi ke luar negeri karena jerih payah mereka sendiri kan? Kenapa kita harus menambahi beban mereka?

Saat itu aku langsung pamit pulang dan tidak kembali. Di satu sisi aku merasa sedih karena membatalkan secara sepihak appointment kami untuk berkumpul, di sisi lain aku merasa terlalu sensitif karena kembali ke lingkungan 'negatif' berbeda dengan lingkungan 'positif' yang selama 9 bulan kurasakan di London. Di waktu yang sama aku jadi menjustifikasi perbuatanku sebagai tindakan yang benar, kalau bukan aku yang memberi aksi tegas bahwa basa-basi 'negatif' itu tidak baik maka siapa lagi?

Namun setelah itu, aku bertemu dengan teman-teman lain tapi mereka tidak membahas hal yang sama. Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya bisa lho orang Indonesia itu tidak basa-basi 'negatif' seperti yang kuceritakan di atas. Buktinya aku dan teman-teman lain ini bisa bertemu dan berkumpul dengan bahagia dan saling membangun.

Jujur sekali seminggu pertama pulang ke Malang tidak membuatku cukup bahagia. Yang pertama adalah karena Ayahku memaksaku untuk mengunjungi saudara yang tidak aku kenal dan tidak aku sukai. Hal paling kubenci dari diriku adalah aku tidak bisa memalsukan ekspresi, aku ya begini adanya, suka ya suka engga ya engga. Paksaan Ayah tersebut membuatku mengingkari sejumlah janji ditambah lagi aku paling malas mengunjungi orang yang tidak aku sukai.

Ketidakbahagiaan itu berlanjut hingga aku bertemu dengan teman yang kumaksud di cerita sebelumnya. Kuharap dengan bertemu teman aku akan mendapatkan inspirasi atau berbahagia bersama mereka tapi aku malah mendapatkan humiliation.

Beruntung teman-teman yang kutemui setelah itu tidak melakukan hal serupa dan membuatku sangat bahagia. Yang membuatku makin bahagia adalah orang-orang yang kutemui setelah itu membicarakan hal-hal produktif dan membangun. Tidak melulu membicarakan orang tapi mulai membicarakan isu-isu sosial masyarakat dan bagaimana cara menyelesaikannya. Ada juga yang berbagi pengalaman hidup, berbagi progres pekerjaan dan impian, berbagi hal-hal yang positif lah intinya. Di situ aku jadi mulai menaruh harapan bahwa sebenarnya kita bisa lho menularkan hal-hal positif ke orang-orang di sekitar kita untuk membentuk Indonesia yang lebih baik. Dan ada baiknya kalau di usia seperti ini kita mulai mengeliminasi orang-orang yang sekiranya tidak membangun diri kita ke arah yang lebih baik.


Tentu sebagai orang yang 'educated', aku percaya bahwa hal-hal positif itu dimulai dari diri sendiri. Oleh sebab itu daripada sibuk mengeluh dan membanding-bandingkan London dan Malang, aku mulai menerapkan hal-hal baik yang selama ini kulakukan di London dan tak lupa mengajarkannya pada adikku.

Contoh sederhana adalah penggunaan eskalator. Di London, sebelah kanan diperuntukkan bagi mereka yang ingin berdiri saja sementara di sebelah kiri diperuntukkan bagi mereka yang hendak berjalan di eskalator. Sama, aku mencoba untuk melakukan kebiasaan tersebut. Kebiasaan lain yang otomatis aku lakukan adalah selalu bilang "Sorry" setiap menabrak orang lain. Adikku sempat bilang bahwa aku dianggap aneh oleh orang-orang saat bilang "Sorry" tersebut, mungkin aku harus menggantinya dengan "Maaf."

Maka dari itu rasanya cukup susah kalau kita ingin mengubah Indonesia dari hal yang besar karena budaya itu dilakukan sehari-hari. Kalau ingin mengubahnya ya bukankah lebih baik mengubah diri sendiri dulu? Aku percaya bahwa orang-orang 'educated' tidak hanya aku saja, apalagi yang sudah mengenyam pendidikan di luar negeri. Ketimbang mengeluh "Ah orang Indonesia buang sampah sembarangan." bukankah lebih baik kita membuang sampah pada tempatnya sebagai bukti kita pernah hidup di lingkungan yang beradab? Aku yakin, dengan memberi contoh maka orang lain akan perlahan mengubah kebiasaan buruknya.

Contoh sederhana lain adalah dengan membereskan sisa makan. Kita nggak harus kok ngepost di sosial media bahwa kita membereskan sisa makanan kita dan berharap orang lain mengikuti tindakan kita, yang penting kita tahu bahwa di luar negeri usai makan fast food maka tray diletakkan di tempat yang disediakan dan sampah dibuang di tempat yang disediakan. Usai makan piring dirapikan agar memudahkan waitress. Dan kalau boleh jujur, kita tidak perlu ke luar negeri terlebih dulu untuk melakukan hal-hal berada semacam ini. Aku sudah melakukan kebiasaan menata meja setelah makan bahkan jauh sebelum berangkat ke London dan saat aku melakukan hal itu di London teman-temanku malah heran. "Just leave it, they are going to do it for you," kata teman-temanku tapi aku tidak bisa begitu karena sudah kebiasaan.

The point is culture shock di bagian pertama adalah soal attitude.


Yang kedua, aku cukup bahagia bahwa Malang kini semakin modern. Untuk ukuran kota kecil, Malang sudah mulai mencicipi kecanggihan teknologi yang selangkah atau bahkan beberapa langkah lebih maju daripada kota kecil lain di Jawa Timur. Saat aku pulang, aku mulai menemukan mesin-mesin EDC contactless yang familiar dan sering aku temukan di London. Meski kasirnya tidak tahu cara menggunakannya kurasa hal ini merupakan sebuah progress dalam membentuk Cashless Society (GNNT). 

Kemudahan lain yang kutemukan saat pulang adalah kini pesan tiket bioskop sudah bisa dilakukan online. Dibandingkan dengan kota besar lain, Malang termasuk terbelakang dalam urusan jual beli online tapi hal ini membuktikan bahwa kini Malang mulai melek teknologi dan in the mean time semua urusan bakal jadi cepat dan mudah seperti yang sering aku lakukan di London. Well you know, for a lazy moviegoers like me the online ticket purchasing is really helpful! Bless you M-TIX!

Lalu ada kabar baik juga yang mungkin akan membuatku sangat bahagia dalam beberapa tahun ke depan yakni bocoran bahwa salah satu bank swasta akan mulai menggunakan kartu ATM debit yang CVC-nya bisa digunakan untuk transaksi online dalam jaringan Visa/MasterCard. Jadi untuk bertransaksi online, dalam beberapa waktu ke depan tidak akan dibutuhkan kartu kredit cukup dengan kartu debit saja seperti kartu debit yang kugunakan di Inggris. Ini berarti bahwa sistem perbankan di Indonesia mulai mengadaptasi sistem perbankan negara-negara maju. Dan harapannya, lambat laun jaringan VISA/MasterCard benar-benar diadaptasi betul sehingga muncul frictionless market (pasar tanpa biaya transaksi) pada perbankan Indonesia. Trust me, it is really helpful!

To sum up, hikmah pulang ke Malang bagiku antara lain: tidak membandingkan Indonesia dengan Inggris, mulai meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk, menerapkan kebiasaan positif selama di London di Malang, dan mulai mengurangi interaksi dengan lingkungan yang negatif tapi menambah koneksi yang membangun secara positif.

Aku tidak tahu soal apa yang dipikirkan teman-teman dekatku soal aku setelah pulang dari London, apakah berubah ke arah positif atau sebaliknya. Yang jelas salah seorang rekan yang kutemui berkata padaku bahwa aku yang sekarang berbeda dari aku 10 tahun lalu. Dan tentu saja, 10 tahun bukan waktu yang singkat untuk berubah. Selama 10 tahun itu aku mengalami banyak hal hingga membentuk siapa aku sekarang, bukan hanya London yang mengubahku tapi lingkunganku selama 10 tahun itulah yang mengubahku dan kebiasaanku.