Serunya Nonton Semi-Final Piala Dunia di Negara Sepak Bola


The Changcuters pernah menyinggung fanatisme warga Inggris dalam lagu mereka yang berjudul Hijrah ke London, salah satu liriknya adalah "Kau berkelana ke negara sepak bola, bukan Italia bukan juga Argentina woho woho~". Negara yang dimaksud adalah Inggris, negara tempat aku menimba ilmu di jenjang Master saat ini. Keberuntungan yang kudapatkan tahun ini adalah Piala Dunia 2018 sedang berlangsung. Bayangkan, bagaimana rasanya berada di negara yang fanatisme sepak bolanya tinggi saat perhelatan akbar Piala Dunia berlangsung? Bakal seru banget kan?

Inggris memang dikenal sebagai tanahnya sepak bola. Liga sepak bola paling bergengsi (Premiere League) ada di Inggris, pemain-pemain kelas dunia awalnya merumput di liga Inggris, bahkan kompetisi antar klub pun paling panas ya di Inggris. Tidak seperti liga spanyol yang hanya didominasi Barcelona atau Real Madrid dan tidak seperti liga Jerman yang cuma jadi milik Bayern Munich dan Borussia Dortmund. Liga Inggris cukup susah ditebak karena klub-klub papan atas ada di sana, tak heran bila warga Inggris lebih doyan main ke pub nonton pertandingan bola ketimbang nonton bioskop saat akhir pekan.

Kebetulan selanjutnya adalah timnas Inggris di Piala Dunia 2018 ini cukup bikin warga bangga. Sudah dari sananya cinta bola, timnas Inggris tahun ini bisa melaju hingga babak semi-final. Maka dari itu warga Inggris dengan senang hati dan berbondong-bondong ikutan nonton bareng di manapun mereka sempat, ya di pub, di taman-taman, di market, dimana-mana pokoknya. Akibat kesuksesan Harry Kane cs pun muncul tagline "Football's coming home." yang artinya setelah sekian lama timnas Inggris gagal terus di ajang kompetisi internasional, kini saatnya timnas Inggris comeback besar-besaran dan berkesempatan membawa pulang piala dunia.

Yah walaupun pada kenyataannya timnas Inggris keok oleh Kroasia di babak semi-final 😜😌

Sesungguhnya aku cukup terlambat merasakan gegap gempita perayaan warga Inggris di Piala Dunia tahun ini. Itu karena saat babak penyisihan grup hingga babak enam belas besar aku berada di Indonesia. Barulah saat babak perempat final aku datang ke Inggris, itupun tidak langsung ikutan nobar dimana-mana. Aku baru ikut noba setelah Piala Dunia masuk ke babak semi-final.

Semi-final pertama yang dihelat pada hari Selasa (10/07) merupakan pertandingan Perancis vs Belgia. Aku janjian dengan seorang teman untuk nobar di Camden Market. Dari Stratford, aku menempuh perjalanan yang cukup jauh ke Camden. Ditambah lagi, meski nobarnya gratis harus tertib, harus menunjukkan ID, dan harus antre sebelum masuk ke venue nobar. Berbeda dengan di Indonesia yang kalau nobar ya udah nobar aja.

Keunikan nonton bareng orang sini adalah mereka enggan duduk. Ya, di Camden Market memang disediakan kursi pantai gitu tapi harus bayar 5 GBP untuk duduk di kursi yang disediakan di bagian depan dekat layar. Sementara di bagian belakang diisi dengan penonton yang enggan banget duduk selama pertandingan berlangsung.

Sesungguhnya, sebagai orang dengan ukuran tubuh kecil, itu menyusahkanku. Layarnya gede sih, tapi lawannya juga tinggi-tinggi sehingga selama babak pertama pertandingan Perancis lawan Belgia kemarin aku dan temanku mondar-mandir mencari posisi yang pas buat nonton. Agak tidak nyaman meski tetap bisa nonton ke layar, ya separuh layar sih karena separuhnya tertutup oleh kepala bule-bule yang tinggi itu.

Baru di babak kedua aku dan temanku bersyukur dan mendapatkan spot nonton yang enak. Kami melaju ke depan saat orang-orang keluar venue untuk membeli bir atau makanan. Berhubung aku dan temanku adalah orang Indonesia yang tinggi badannya sedang-sedang saja, kami memutuskan untuk duduk bersila saja di depan bule-bule tersebut. Di babak kedua, kami bisa menikmati pertandingan dengan aman, nyaman, tenang, sambil makan kwetiauw.


Semi-final hari kedua, Rabu (11/07) adalah yang paling seru. Karena yang bertanding adalah Inggris, maka animo masyarakat jauh lebih terasa ketimbang semi-final Perancis vs Belgia. Ditambah lagi, temanku beruntung sekali karena bisa mendapatkan tiket nonton bareng di British Summer Time, Hyde Park. Konon katanya tiket event gratis yang disediakan oleh Mayor of London ini dibagikan pada 30 ribu orang. WOW!

Sebelumnya pun aku dan Mbak Ayodd sudah berencana untuk beli jersey Inggris di Primark kalau Inggris lolos perempat final, ternyata kejadian betulan. Berhubung di Primark sudah tidak ada jersey lagi, akhirnya aku beli kaos yang bertuliskan "It's Coming Home". Aku mengenakan kaos tersebut saat nonton dengan temanku satu PK LPDP kemarin di Hyde Park.

Nobar Inggris vs Kroasia di lapangan gede tersebut tak serta merta dilakukan secara slengekan lho teman-teman. Sebelum masuk, kami harus menunjukkan tiket yang harus di-print di gerbang pertama. Setelah itu kami harus antre lagi untuk menjalankan pemeriksaan tas dan badan. Kami harus melewati metal detector seperti yang sering kalian temui di bandara gitu. Baru di gerbang kedua tiket kami di-scan dan kami diperbolehkan masuk. Saat masuk, match sudah hampir dimulai dan orang-orang sudah berkumpul sedemikian rupa. Tak lupa mereka menenteng bir baik dalam gelas atau botol. Yah nonton tanpa minum rasanya bagai sayur tanpa garam bagi warga sini.

Lagi-lagi karena bertubuh kecil, agak susah mencari spot nonton yang nyaman. Mau ke kanan ketutupan kepala orang, ke kiri juga ketutupan kepala orang. Mau ke depan eh yang dilawan besar-besar. Jadi aku dan Wian berusaha memposisikan diri agar bisa melihat ke layar lewat sela-sela kerumunan orang. Beruntung layar tancap yang ada di Hyde Park jauh lebih besar dan tersedia tiga sekaligus jadi setidaknya masih bisa mengikuti jalannya pertandingan.


Babak pertama, Inggris melakukan permainan yang cukup agresif dan bagus. Tak heran, timbul gol cepat di menit ke-5 oleh Trippier. Begitu gol yang disarangkan dari tendangan bebas tersebut tercipta, para warga bersorak gembira dan tidak sedikit dari mereka yang ikutan menumpahkan bir di angkasa saking girangnya. Hasilnya? Tubuh tersiram bir dan alkohol sampai masuk ke mata. Gobloknya, air tersebut kukira air biasa.

"Mataku perih nih Wi, padahal cuma kesiram air doang."
"Lah Gis, itu alkohol."
"..."

Usai kebobolan satu gol, pertahanan Kroasia makin menjadi. Babak pertama jadi begitu menggemaskan karena Inggris tak kunjung memperkuat kedudukan dengan menjebloskan gol tambahan. Padahal ball possession di babak pertama didominasi oleh Inggris. Yang bikin makin gemas lagi adalah para pemain Kroasia sering melakukan foul tapi tak dihiraukan oleh wasit. Di saat itulah aku berpikir bahwa, "Okay, England won't make it this time."

Nonton bareng masyarakat Inggris menarik karena mereka tak berhenti ber-chant. Tak sedikit yang berteriak "Come on England!" atau menyanyikan lagu "It's coming home, it's coming home. It's coming oh it's coming home." Tidak hanya para pria saja yang seru nonton pertandingan bola ini, ternyata para British ladies juga gila bola (maklum ya negara sepak bola emang). Para ladies ini pun nonton tidak cuma untuk gaya-gayaan, narsis, atau mejeng dengan cat bendera Inggris di pipi mereka,  para ladies ini memiliki pengetahuan mumpuni soal bola. Saat terjadi pelanggaran pun mereka tak segan mengumpat, "Oh fuck off!" atau "That's so fake!" ketika pemain Kroasia sok-sokan terluka. Sementara para British gentleman terdengar membahas jalannya pertandingan dengan aksen mereka yang seksi abis itu.

Meski para penonton ini meminum alkohol dan tak lupa merokok ganja, orang-orang ini tetap bertanggung jawab. Tidak ada yang namanya kerusuhan, crowded sih memang tapi tetap teratur dan tidak liar. Bahkan meski Inggris permainannya jadi sedikit menurun dan kekurangan stamina di babak kedua, para penonton yang frustasi tidak serta merta marah-marah atau membuat keonaran. Yah walaupun ada seorang penonton yang tiba-tiba naik ke atas panggung hingga diseret oleh pihak keamanan untuk turun panggung sih.

Sama seperti di Camden Market kemarin, waktu turun minum membuatku bisa menyelinap dan menemukan spot yang nyaman buat nonton. Bedanya adalah aku tak bisa duduk, jadi selama 90 menit penuh ditambah 15 menit istirahat dan 30 menit perpanjangan waktu, aku dan Wian berdiri. Nggak bisa dibayangkan rasa capek kaki seperti apa saat itu. Aku pun sempat bilang ke Wian, "Ini kalau sampai penalti gimana ya? Kaki udah sakit banget nih." Lalu dia bilang, "Nggak, nggak ini mereka bakal ngegolin lagi kok."

Wian benar, Kroasia yang bikin gol bukan Inggris HAHAHAHAHAHA


Ketika kedudukan sudah 2-1, semangat penonton untuk menyanyikan lagu It's Coming Home belum surut. Mereka masih positif bahwa Inggris akan mampu menyamakan kedudukan padahal faktanya tidak. Apalagi saat pemain Inggris mempenetrasi wilayah garis penalti. Fanchant dan juga semangat masyarakat makin membara. Namun upaya-upaya Inggris untuk mencetak gol tak kunjung berbuah manis. Harry Kane yang sedang panas-panasnya dibahas media Inggris pun tak berkutik. Padahal Jamie Vardy juga sudah dimasukkan. Well, langkah Inggris untuk membawa pulang Piala Dunia pun dihentikan oleh Kroasia. Dan terbukti Modric cs bisa membungkam tagline "Football's coming home" dan menggantinya dengan "England's coming home."

HAHAHAHAHAHA

Sejak awal memang aku bukan fans Inggris sih. Seperti yang sering aku bahas dalam blog ini (dan siapapun yang sudah mengenal aku sejak dulu) aku adalah fans Jerman sejak masih SD. Begitu Jerman tersingkir di Piala Dunia, sebenarnya aku sudah agak malas-malasan mengikuti jalannya pertandingan. Tapi ucapan salah seorang teman bikin aku agak sedikit bersemangat lagi, "Ya kita doakan saja agar Inggris masuk final dan jadi juara Piala Dunia. Kan asyik toh kalau ikutan selebrasi waktu kita masih di London?" Kupikir benar juga. Tapi yah ternyata memang belum rezeki Inggris dan belum rezekiku juga untuk merasakan euforia Inggris jadi juara Piala Dunia 2018.

That's fine. That's life. Sometimes it doesn't go like we expected it to be. Toh, bisa melaju hingga semi-final aja sudah jadi pencapaian yang bagus banget buat Inggris. Karena ingatkah kalian bahwa timnas Inggris di era Wayne Rooney, John Terry, dan Frank Lampard bahkan tak bisa mencetak prestasi yang sebagus ini?

It's coming home! Not this year, maybe later!