Menilik 'Kebun Raya London', Kew Gardens

Rose Garden, Kew Gardens - Richmon, London

Setelah cukup sibuk berkutat dengan berbagai macam hal serta mencoba untuk meluruskan pikiran yang semrawut, akhirnya postingan ini ditulis juga. Sebenarnya sudah hampir dua minggu sejak aku mengunjungi Kew Gardens dengan teman-teman tapi butuh waktu cukup lama bagiku untuk mengumpulkan mood menulis. Sangat bukan Agista yang biasa bukan? Biasanya sih, aku langsung menulis di blog apa-apa yang kualami hari itu terutama usai jalan-jalan. Bocoran saja, ada banyak hal yang membuat pikiranku agak tidak fokus beberapa waktu terakhir. Mulai dari kegelisahan tesis yang tak kunjung selesai (padahal deadline sudah minggu depan, deadline ketemu dosen pembimbing maksudnya), lalu urusan pekerjaan, resit ujian (yang ini pun aku belum belajar sama sekali), dan berbagai macam hal lain.

Nah, daripada memperpanjang keluh kesah mari segera simak kisahku jalan-jalan ke Kew Gardens bersama teman-teman.

Ide untuk pergi ke Kew Gardens tercetus ketika aku, Aimee, Rochelle, dan Cristina makan malam di restoran Korea langganan kami yakni Spicy Grill. Masing-masing dari kami bercerita sampai kapan akan tinggal di London. Rochelle bilang bahwa dia akan segera kembali ke US sekitar bulan September, sementara Cristina dan Aimee berencana akan tinggal sama seperti aku tapi masih belum jelas kelanjutan cerita kami pasca kuliah S2 ini. Apakah bekerja di Inggris atau tidak, mari kita serahkan pada Yang Maha Kuasa. Mengingat waktu kami di London makin sedikit, Rochelle bilang, "Bagaimana kalau kita main bareng? Ajak Lena dan Sharon juga. Karena masing-masing dari kita akan berpisah dalam waktu dekat."

Sedih, apalagi ketika kami pada faktanya harus kembali ke negara masing-masing tanpa tahu apakah kami akan ingat satu sama lain di masa depan nanti. Mungkin sekarang kami masih ingat karena sering makan bareng di Spicy Grill tapi siapa tahu nanti kan? Maka dari itu, Rochelle menyusun rencana untuk berkunjung ke Kew Gardens, kebun raya yang terletak di sekitaran Richmond. Kew Gardens sendiri juga menjadi salah satu destinasi wisata yang cukup populer di London. Mungkin orang Indonesia tak terlalu tahu soal hal ini karena bagi mereka London hanya di sekitaran Westminster. Tapi bagi kalian yang ingin benar-benar mengeksplor London, jangan lupa untuk mampir ke bagian Barat yakni Wimbledon dan Richmond.

Ki-Ka: Sharon, Aimee, Lena, Aku

Jadilah tanggal 17 Juli kami berenam yakni aku, Aimee, Cristina, Rochelle, Sharon, dan Lena berangkat ke Kew Gardens. Kami memutuskan untuk berkumpul di Mile End station pukul setengah satu siang, Rochelle menyusul karena dia mengaku bangun kesiangan. Kami naik kereta District Line jurusan Richmond dan turun di stop kedua terakhir, Kew Gardens. Perjalanan dari Mile End menuju Kew Gardens sendiri memakan waktu sekitar satu jam. Begitu sampai, Cristina mengaku kelaparan. Aku sempat mengecek aplikasi Zomato tapi tidak menemukan restoran yang cukup menggugah selera, jadi akhirnya kami memilih untuk nekad masuk ke dalam taman dan mencoba peruntungan siapa tahu ada kafe lumayan di dalamnya kan?

Kew Gardens tak seperti ruang terbuka hijau lain di London, taman ini menarik biaya masuk. Beruntung karena kami student kami hanya perlu membayar GBP 7 (diskon 50%). Tiket bisa dipesan online langsung di website mereka di sini, untuk masuk hanya perlu menyodorkan e-mail yang dikirim berisikan kode barcode.

Sebenarnya dekat dengan pintu masuk terdapat kafe yang dipakai untuk ngeteh cantik, sayangnya karena Cristina lapar dan butuh makanan berat kami memutuskan untuk jalan sedikit jauh ke The Orange, kantin yang terdapat di dalam Kew Gardens. Oh ya, setiap kali masuk ke Kew Gardens, petugas akan memberikan kita information map yang disajikan dalam berbagai bahasa mulai dari Inggris, Jepang, Mandarin, Rusia, Jerman, hingga Italia. Kami mengelilingi Kew Gardens juga berdasarkan peta tersebut termasuk saat menemukan The Orange.

Ternyata The Orange bukanlah kantin ala carte atau kita duduk terus disodori menu. The Orange merupakan kantin buffet yang mana pengunjung harus antre untuk mendapatkan makanan. Seru banget! Apalagi saat itu makanan yang disediakan bermacam-macam. Mau makan bubur saja oke, makan salad aja ayuk, makan makanan berat berupa ayam utuh juga boleh banget. Baru setelah antre, mengambil makan, dessert, dan minuman, kami membayar di kasir. Dan harganya juga terbilang cukup terjangkau. Setengah dari ayam utuh yang kumakan (besar banget) harganya hanya 10 GBP! Makan tanpa nasi pun udah kenyang banget itu.


Yah bayangkan aja, ayam sebesar itu aku makan sendiri. Sementara temanku yang memilih menu sama denganku berbagi. Well, Agista memang nafsu makannya besar nggak heran kalau nambah berat 10 kilo sejak datang ke London.

Usai mengenyangkan diri, kami cuss ke destinasi berikutnya yakni Kew Palace. Di Kew Gardens sebenarnya ada titik-titik yang jadi main attraction. Mulai dari Kew Palace, High Forest Walk Way, Japanese Getaway, The Great Pagoda, hingga The Temperate House. Tapi tetap saja, atraksi utama Kew Gardens adalah taman-taman dan beraneka varietas tumbuhan yang dibudidayakan di sana, macam Kebun Raya Bogor gitu sepertinya (yah bilang begini karena memang belum pernah ke kebun Raya Bogor).

Kew Palace sebenarnya terbuka untuk umum, bila ingin berkunjung tak dimintai tarif masuk lagi. Berbeda dengan The Great Pagoda yang mengharuskan pengunjung membayar tiket tambahan. Sayangnya waktu itu, kami hanya jalan-jalan di bagian belakang Kew Palacenya saja dan tidak masuk ke dalam. Kami malah masuk ke dalam Royal Kitchen yang letaknya tidak jauh dari Kew Palace. Di Royal Kitchen tersebut dipamerkan dapur ala-ala zaman mediteranean, dapur zaman dulu punya berbagai ruang seperti yang sering kita lihat di film-film kolosal Western. Dan dapur itu sendiri dibangun dalam satu rumah tidak seperti dapur modern yang jadi satu dengan rumah. Ada juga staf administrasi, head of Kitchen, dan sejumlah petugas dapur lainnya yang mendedikasikan waktunya untuk menghasilkan makanan lezat yang siap disantap oleh Royal Family.

Kew Palace - Kew Gardens, Richmond
Setelah jalan-jalan di Royal Kitchen beserta kebunnya, kami rencananya hendak mengunjungi Rhodonderon Deli. Namun setelah berjalan cukup jauh ternyata kami mengambil rute yang salah dan sampai di King William's Temple. Sangat jauh dari tujuan sebenarnya. Karena sudah terlanjur salah, kami melihat lagi mapsnya dan mencari atraksi terdekat yakni High Forest Walk Way. Apalagi saat. itu Rochelle dan Lena memang ada jadwal sendiri juga untuk ngeteh cantik. Sebagian dari kami yakni aku, Aimee, Cristina, dan Sharon tidak ikut ngeteh cantik karena harganya cukup mahal yakni 40 GBP per orang. Daripada ngeteh cantik, kami memilih untuk mengitari Kew Gardens tanpa Lena dan Rochelle.

Awalnya Rochelle dan Lena sempat naik ke Walk Way tapi tak lama kemudian mereka turun untuk mengejar waktu ngeteh cantik tersebut. Sementara aku, Aimee, Cristina, dan Sharon tetap jalan-jalan di atas Forest Walk Way yang kadang bikin tangan berkeringat saking tingginya. Tapi yah, melihat Kew Gardens memang indah kok. Menarik banget!



Kami jalan-jalan berputar lalu setelah puas dan mengambil banyak foto, kami turun ke bawah dan menuju rute selanjutnya. Berhubung kami memang sudah tersesat dan tidak sampai ke Rhodonderon Deli, kami memutuskan untuk berkunjung ke wahana wisata utama Kew Gardens, The Temperate House.

The Temperate House itu sendiri merupakan rumah kaca yang di dalamnya berisikan berbagai macam varietas tumbuhan. Kalau di poster iklan Kew Gardens yang terdapat di berbagai stasiun tube, tampaknya bagus banget padahal aslinya ya Bagus tapi tidak semagical itu. Di lain kata, Temperate House mengingatkanku pada lokasi-lokasi syuting film Western terutama The Great Gatsby. Dan asyiknya, kita diperbolehkan naik tangga sehingga bisa memotret keseluruhan The Temperate House ala-ala anak estetik Instagram gitu.




Kami istirahat agak lama di Temperate House karena memang kami sudah lelah jalan-jalan mengitari taman. Lagipula kami juga masih menunggu Rochelle dan Lena selesai dengan jamuan minum teh mereka. Baru setelah energi agak terisi kembali dan langit sudah mulai cerah kembali, kami jalan-jalan ke Japanese Getaway yang tidak jauh dari The Temperate House. Kami berjalan sekitar 100 meter lagi lalu sampai di The Great Pagoda. Setelah melihat The Great Pagoda, yang mana kami tidak masuk ke dalamnya karena harus bayar tiket lagi, kami menuju ke taman Jepang. Di sana ada semacam kuil-kuil yang sering ditemui di anime itu. Taman Jepangnya pun memang punya vibe Jepang banget tapi tidak terlalu besar.



Sampai kami berputar-putar di Japanese Getaway pun, Rochelle dan Lena tak kunjung selesai dengan jamuan minum teh mereka sehingga kami memutuskan untuk duduk-duduk di depan kuil ini. Kami bercerita banyak hal termasuk apa yang akan kami lakukan setelah ini, bagaimana progres tesis, bagaimana progres resit, dan lain sebagainya. Rasanya sedih ketika tahu suatu saat kami harus berpisah. Jangankan dengan teman-teman internasional, dengan teman-teman di Indonesia saja kalau sudah pisah ya pisah.

Mengingat hal tersebut, aku jadi tidak yakin apakah di masa depan kami masih akan mengenal satu sama lain? Atau bahkan travelling bersama? Rochelle memang punya rencana untuk travelling di Asia Tenggara tapi apakah itu benar-benar terjadi? Dan apakah Aimee akan kembali ke Vietnam sehingga aku bisa mengunjunginya suatu saat nanti? Dan apakah kalau aku pergi ke China ada kesempatan untuk bertemu dengan Lena atau Sharon? Entahlah.

Yang jelas, aku bersyukur bertemu dengan mereka. Dan aku suka sekali makan dan jalan-jalan bersama mereka.