Europe Trip Part 3: Transportasi di Eropa dan Tinggal di Hostel Bareng Bule


Selama tinggal di London, aku jadi belajar banyak soal moda transportasi. Karena memang sebelumnya aku tinggal di kota kecil yang relatif tidak memiliki variasi transportasi modern. Definisi transportasi modern menurutku adalah: subway, bus dalam kota, tram, atau transportasi publik sejenis yang dioperasikan oleh pemerintah dengan bantuan teknologi terkini. Karena ya, memang aku tinggal di Malang dan sebesar apa sih Malang sampai butuh subway segala? Ya kan?

Berbeda dengan masyarakat Jakarta mungkin, seringkali warga Jabodetabek commute dengan naik KRL atau TransJakarta, hal-hal yang nggak akan aku temui kecuali aku tinggal di Jakarta. Dan begitu aku sampai London, tentu saja aku berubah jadi commuters. Karena sudah pasti aku tidak bisa mengendarai sepeda motor kemana-mana dong. Lagipula, berapa sih duit beasiswa negara sehingga mampu untuk dibelikan motor di Inggris dan mengurus perizinan serta biaya parkir? Nggak nutup sis. Find more stories regarding London's transport here.

Akibat London merupakan kota commuters dan termasuk kota yang mempunyai teknologi transportasi publik yang paling memadai di dunia ini, dan jadi kota pertama yang menerapkan sistem kereta subway (tube) dalam tanah sejak tahun 1863 (source), maka dari itu mau tidak mau aku harus beradaptasi dengan gaya hidup commute Londoners dan perlahan belajar soal rute transportasi publik, jenisnya, dan tarifnya. Implikasi dari hal ini adalah aku jadi kerap membandingkan moda transportasi publik di tempat lain dengan di London, to put it simply: Underground train obsession.


Tibalah saat aku melakukan komparasi moda transportasi London di kota lain saat Europe Trip kemarin. Dimulai dari Paris, Perancis.

Menurut catatan sejarah (source), Paris mulai mengoperasikan Metro (kereta bawah tanah) sekitar tahun 1900-an, hampir empat puluh tahun setelah London sukses dengan proyek tube (London Underground) mereka. Mungkin karena London adalah kota pertama yang menerapkan sistem underground, banyak kota lain yang menjadikan London sebagai role model dan Paris salah satunya. Stasiun Metro di Paris sebenarnya tidak sedalam stasiun underground London, selain itu desain interiornya juga tidak terlalu modern. Sepertinya Stasiun kereta bawah tanah Paris masih mempertahankan peninggalan konstruksi zaman ia pertama kali dibangun. Berbeda dengan beberapa stasiun London yang sudah mulai di-redesign menjadi lebih minimalis dan futuristik.

Untuk menikmati kota Paris, kita bisa membeli one day pass seharga 7,5 Euro. Tentu saja angka ini lebih murah ketimbang membeli tiket satuan yang bisa mencapai 2,1 Euro sekali jalan. Dengan 7,5 Euro, kita bisa bolak-balik mengambil rute Metro yang berbeda. Dan sistemnya adalah contactless magnetic card. Kita bisa membeli tiket ini di mesin yang terdapat di tiap stasiun. Pembelian bisa dilakukan baik dengan pembayaran cash atau card. Menurutku, routing jalur Metro di Paris cukup mudah dipahami oleh pemula. Dibantu dengan aplikasi City Mapper, untuk menuju ke landmark-landmark tertentu tidak perlu susah gonta-ganti stasiun atau kereta. Bahkan rute yang ditempuh oleh masing-masing line cukup disajikan dengan garis lurus sehingga sangat mudah untuk dipahami.

Paris Underground Station

Bentukan kereta Metro yang digunakan di Paris pun sebenarnya agak lawas. Masih ada kereta yang tidak menggunakan tombol buka pintu otomatis, beberapa penumpang masih harus membuka pintu manual, ada juga yang menggunakan semacam gagang sebagai pembuka pintunya. Keretanya pun lebih mirip dengan kereta tram daripada kereta tube London. Uniknya lagi, Paris menyediakan kereta double decker bawah tanah, pertama kali melihatnya aku langsung terpana.

Hari berikutnya aku pindah ke kota kecil di bagian utara Perancis, Lille. Karena Lille sepertinya nggak seluas Paris dan bisa dikelilingi dalam waktu yang singkat, maka jarang sekali kutemukan stasiun Metro (underground). Dan menurut penuturan host airbnb-ku, hanya ada bus sebagai moda transportasi utama di Lille. Oleh sebab itu sepertinya ku tidak bisa membahas lebih lanjut soal transportasi publik di Lille. Selain itu, aku juga memang lebih banyak jalan kaki di kota tersebut.

Sorenya, aku bertolak ke Brussels yakni Ibukota Belgia. Sayangnya karena kebodohan satu dan lainnya yang sudah kuceritakan di Europe Trip Part 1, maka ku hanya bisa merasakan transportasi publik di Brussels selama 2 jam saja. Mungkin karena Brussels merupakan Ibukota, transportasinya terbilang cukup memadai dan oke. Sama seperti Paris atau London, Brussels sudah menggunakan tiket magnetik dengan NFC reader. Saat itu aku membeli one journey pass bukan one day pass karena memang ku tidak akan berada lama-lama di Brussels. Jalur kereta bawah tanahnya cukup mudah dimengerti, sama seperti di Paris. Keretanya cukup pendek, lebih mirip dengan tram, dan sayangnya stasiunnya bau pesing.

Brussels Underground Station

Kota yang menjadi destinasi selanjutnya adalah Antwerp, masih di Belgia, tapi sepertinya hanya di kota ini aku merasa sangat bingung dan kecewa dengan transportasi publiknya. Memang sih Antwerp memiliki Central Station paling indah sedunia (source) tapi kalau bicara soal jalur tram atau subway atau ntah apa itu namanya, Antwerp adalah yang paling bikin aku kesal. Mengapa demikian? Karena jalur yang terpampang di masing-masing station dan kereta yang datang nggak sama!

Contohnya nih: aku hendak menuju landmark Antwerp yang butuh waktu 30 menit jalan, aku harus mengambil tram nomor 5 jurusak Linkeroever, jadi aku harus berjalan ke stasiun terdekat yakni Diamant. Nah di stasiun bawah tanah Diamant yang kutuju tersebut punya sekitar dua tram yang lewat yakni tram nomor 3 dan nomor 5 jurusan Linkeroever. Sayangnya, ketika aku sudah berada di stasiun bawah tanah tersebut dan menunggu kereta, justru tram nomor 2 jurusan Meer yang datang. Dan jelas-jelas di peta, Meer itu jurusan yang bertolak belakang dengan jurusan Linkeroever.

Setelah cukup lama menunggu, aku pun nekat mencoba naik tram nomor 2 yang terus-terusan datang tersebut. Ku coba mempelajari jalur tram Antwerp dan tetap saja, tidak ada tram yang membawaku hingga ke Linkeroever. Bahkan aku sampai bergonta-ganti tram dan menghabiskan waktu sekitar dua-tiga jam untuk mempelajari jalur tram ini.

Antwerp Central Station: The Most Beautiful Station version Mashable. Bahkan emang lebih bagus dari King's Cross sih

Terlebih lagi, selain jurusan yang tidak sesuai, tram suka berhenti seenaknya saja. London misalnya, setiap tube pasti jurusan akhir, ambil contoh Central line dengan jurusan akhir Epping atau Bus 25 dengan jurusan akhir Oxford Circus, maka bus atau tube tersebut akan benar-benar berhenti di Oxford Circus atau Epping. Jadi, ketika seseorang hendak ke Stratford misalnya, maka dia akan keluar dari tube di Stasiun Stratford, jauh sebelum Epping. Berbeda dengan tram di Antwerp. Seperti yang kujelaskan di contoh sebelumnya, aku hendak menuju ke sebuah landmark yang kira-kira butuh tiga stop dari stasiun Diamant, sementara aku harus naik tram dengan jurusan akhir Linkeroever. Faktanya, tram itu bisa saja terminat di dua stop setelah Diamant meski jurusan akhirnya Linkeroever. Atau tiba-tiba saja dalam perjalanan, tram tersebut berganti jurusan tanpa ada announcement. Aneh banget sih.

Terlepas dari semua keanehan tram itu, transportasi publik via bus terbilang cukup oke dan sesuai jalur. Dan untuk naik bus, penumpang disarankan untuk mengunduh aplikasi DeLijn, DeLijn sendiri merupakan perusahaan yang mengelola transportasi publik di Antwerp, mirip dengan TfL yang mengelola seluruh transportasi publik London. Sekali naik bus, harganya 1,8 Euro via aplikasi dan berlaku selama sejam. Jadi mau naik berapa kalipun harganya akan tetap 1,8 Euro. Tiket yang dibeli via aplikasi ini ditunjukkan saja pada supir.

Maka dari itu selama di Antwerp akhirnya aku hanya berputar-putar di sekitaran Central Station saja. Karena: 1) sudah menghabiskan waktu berjam-jam di stasiun bawah tanah tram; 2) sudah nyerah nggak ngerti kudu gimana; 3) sepedaan aja di city center lebih sehat dan menyenangkan. Sayangnya keputusan ketiga kulakukan di akhir-akhir setelah menyerah mempelajari jalur tram. Kalau aku memilih bersepeda sejak awal mungkin ku sudah bahagia sejak awal. Ya, Agista memang masokis, suka merugikan diri sendiri dan menyakiti diri sendiri. Nggak papa sih, daripada menyakiti orang lain kan? hahahahaha.

Lanjut ke negara selanjutnya yakni Belanda. Sesungguhnya yang membuat waktuku terbatas di Antwerp adalah jadwal keberangkatan bus menuju Amsterdam. Dan aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan mengalami kebodohan parah akibat jalur tram Antwerp. Tapi terlepas dari semua hal tersebut, jarak Antwerp ke Amsterdam tak terlalu lama. Aku berangkat dari Antwerp sekitar pukul 16.50 dan sampai di Amsterdam Sloterdijk pukul 19.00. Jadi, begitu aku sampai di Amsterdam nggak terlalu malam berbeda dengan saat aku tiba di Lille.

Jarak antara stasiun Amsterdam Sloterdijk dengan tempatku menginap yakni WOW Hostel Amsterdam sebenarnya cukup jauh tapi hanya butuh satu kali naik kereta dengan satu stop saja untuk menuju hostel. Sangat mudah bukan? Barulah dari stasiun tempatku turun dari metro, butuh jalan sekitar 10-12 menit menuju hostel. Nggak jauh sebenarnya tapi karena baru pertama kali jadi terasa jauh banget.

Nah, sebelum menuju hostel ini sebenarnya lagi-lagi aku melakukan kebodohan. Apakah itu? Ternyata aku salah beli tiket kereta dong. Seperti yang kujelaskan di paragraf-paragraf sebelumnya, umumnya transportasi publik berupa kereta di negara-negara Eropa itu terbagi jadi beberapa tipe seperti tube/underground/metro/subway, overground/S-Bahn, dan juga National Rail/TfL Rail/Deutschebahn. Nah, begitu aku sampai di Amsterdam Sloterdijk, aku langsung menuju ke mesin tiket terdekat dong dan beli tiket. Usut punya usut ternyata mesin tersebut tidak menyediakan tiket terusan untuk naik metro melainkan tiket kereta (TfL Rail) bukan Metro. Hal ini baru ketahuan ketika aku mencoba untuk menempelkan tiket magnetik tersebut ke NFC reader, pintu Metro tak mau terbuka dong. Barulah setelah aku melihat di sekitaran pintu masuk Metro ada mesin tiket berwarna biru, berbeda dengan mesin tempatku beli tiket sebelumnya. Dan jeng jeng jeng! Justru mesin tiket berwarna biru itulah yang mengeluarkan tiket one day pass. Oke, duitku sebesar 3 Euro melayang untuk tiket yang salah kubeli. Dan aku harus mengeluarkan uang sekiar 7,2 Euro lagi untuk membeli one day pass yang berlaku 24 jam agar bisa menaiki Metro di semua bagian Amsterdam. Stupid Agista is Stupid!

Amsterdam Sloterdijk Metro station
Nah terlepas dari kebodohan-kebodohan tiada akhir itu, akhirnya aku sampai juga di Hostel. Pada awalnya, aku nggak ekspektasi apa-apa terhadap hostel yang akan kutinggali ini. Karena kupikir, yang namanya hostel pastilah begitu-begitu aja sebab aku harus berbagi ruangan dengan orang lain bukan kamar privat seperti hotel. Dan untuk kali pertama, aku harus berbagi ruangan dengan orang lain selain teman terdekat dan keluarga, benar-benar dengan orang asing dari bangsa lain. Sempat merasa insecure dan tidak aman, sempat berpikiran bahwa fasilitas hostel pastilah kurang oke (karena harganya murah), sempat merasa kecewa duluan karena keberadaan hostel cukup terpencil. Ternyata semua perasaan negatif itu hilang dong!

Begitu masuk Hostel, aku langsung melakukan check in dan diharapkan membayar biaya penginapan sebesar 20 Euro. Aku bayar belakangan karena memang aku melakukan booking di Booking.com dan memilih opsi bayar nanti saja kalau sampai. Meskipun ada juga pilihan untuk membayar di muka jadi ketika sampai hostel nggak perlu bayar lagi.

Lucunya, saat pertama kali check in resepsionis sempat terkejut ketika aku melakukan pembayaran hanya dengan handphone. Berhubung negara-negara Eropa sudah menganut sistem GPN plus contactless (bertahun-tahun lebih maju dari Indonesia), maka pembayaran pun bisa dilakukan hanya dengan menyentuhkan HP ke EDC. Baik android (AndroidPay) maupun Apple (ApplePay) bisa melakukan hal ini. Di Inggris, hal ini sudah biasa banget tapi aku sendiri agak terkejut ketika resepsionisnya bertanya padaku, "Wow! Did you just pay using your phone?"

Aku: Well yeah, everyone does this in London
Resepsionis: Wow that's great. Not everyone does that here. I mean, I know that kind of thing is possible but they're just using their card.
Aku: *tersenyum heran*
Resepsionis: Don't you think that having your card inside your phone, I mean doing everything with your phone is kinda dangerous?
Aku: Well, it still needs authorisation tho. You cannot pay by my phone, unless you have my fingerprint.
Resepsionis: I know, but still it's kinda weird and insecure for me.
Aku: Umm, well you got the point.

Apa yang membuatku merasa bahwa WOW Hostel Amsterdam ini memuaskan? 1) Kamarnya bersih dan rapi. Jadi aku mendapatkan kamar berisi sekitar 4 bunk bed, itu artinya aku harus sharing kamar dengan 7 orang lainnya. Kasur dan bantal sudah diatur sedemikian rupa dan telah dirapikan dengan sprei linen. 2) Kamarnya luas dan pencahayaan lumayan, ada juga stop kontak yang sangat penting bagi seorang traveller masa kini. 3) Kamar mandi bersih banget dan dilengkapi dengan sabun/shampoo. 4) Dapat breakfast! Yay! 5) Tersedia sebuah peti besar yang diletakkan di masing-masing bunk bed tanpa gembok. Jadi kalau mau aman, pastikan bawa gembok sendiri dari rumah ya ;) 6) Hostel ini juga menyediakan fasilitas luggage service, artinya kita bisa menitipkan carrier atau koper selagi kita jalan-jalan di Amsterdam. Gratis lagi! Setidaknya sama dengan A&O Hostel yang kuceritakan di Europe Trip Part 2 ini.




To be honest, ternyata tidur satu ruangan dengan para bule tidak sejelek itu. Meski sempat merasa insecure dan takut bila barang-barang dicuri, ternyata kekhawatiran tersebut tak terjadi. Apalagi bodohnya ku tak membawa gembok berbeda dengan tamu lain yang membawa gembok dan mengunci kotak penyimpanan mereka masing-masing. Ya kan, memang Agista itu stupid af kok. Kembali lagi ke cerita tidur bareng bule, ternyata mereka tidak buruk juga.

Dalam satu ruangan itu, aku tinggal bersama tiga remaja dari Portugal yang kebetulan kami berbincang dan kenalan sedikit. Dia sempat tanya soal gimana cara ngedapetin handuk ketika dia ngelihat handukku aku gelar di pinggir tempat tidur. Ada juga sepasang kekasih entah suami istri atau bukan, lalu Mas-Mas dengan badan bagus, serta Mas-Mas India. Kami memang tidak banyak bicara sih karena tamu yang lain datang lebih malam daripadaku dan saat mereka datang, aku sudah terbang ke pulau kapuk. Esok paginya pun demikian, aku bangun agak siang sementara tiga remaja Portugal sudah turun untuk sarapan, pasangan tersebut mandi bareng. Jadi tinggal aku, beserta dua Mas-Mas. Meski bertiga saja, nggak ada tuh yang namanya mereka flirting atau gimana. Benar-benar orang asing dan masing-masing dari kami tidak berbicara satu sama lain dan menganggap satu sama lain invisible.

Begitu pasangan selesai mandi, aku masuk kamar mandi dan mandi lalu setelah itu packing ulang dan turun ke bawah untuk sarapan. Barulah setelah sarapan aku siap-siap untuk pergi dan menitipkan 'beban hidupku' pada Resepsionis. Sungguh tinggal di WOW Hostel Amsterdam segampang dan semenyenangkan itu.

Nah karena sekarang topiknya lagi-lagi jalan maka kita kembali ke pembahasan transportasi. Transportasi di Belanda cukup modern dan mudah dimengerti juga. Dan kalau kupikir kereta double decker hanya ada di Paris, aku salah, rupanya Amsterdam juga punya. Selain Metro, kereta double decker, bus, dan kereta cepat, rupanya Amsterdam masih mengutilisasi tram. Buktinya, masih banyak kereta tram yang beroperasi di sekitaran city center. Apalagi kereta tramnya cukup bagus. Interior stasiun bawah tanah di Amsterdam pun bagus dan modern, bisa dibilang lebih modern ketimbang London. Hanya saja saat itu aku memutuskan untuk jalan-jalan di sekitaran Dam Square dan City Center jadi lebih banyak berjalan. Sesekali aku naik tram atau Metro, sisanya jalan kaki. Percayalah, Amsterdam memang kota sepeda. Lebih banyak jumlah sepeda daripada mobil! Rupanya Amsterdam yang disebut kota pesepeda bukanlah mitos belaka.

Amsterdam City Scape

Usai dari Amsterdam, perhentian selanjutnya adalah Berlin. Sebenarnya aku sudah cukup menjelaskan transportasi di Berlin secara singkat dalam postingan yang ini, tapi tak apa akan kukupas kembali transportasi Berlin dalam halaman ini juga.

Tak jauh berbeda dengan negara-negara yang kukunjungi sebelumnya, Berlin juga memiliki kereta bawah tanah, overground, Deutsche Bahn (TfL Rail), tram, dan bus. Berlin juga menyediakan mesin tiket di masing-masing stasiun dengan one day pass seharga 7 Euro (harga rata-rata). Bedanya, tidak ada yang namanya gerbang tap in tap out di Berlin. Jadi kalau mau naik kereta, tinggal masuk stasiun dan masuk kereta saja. Bahkan saking disiplinnya, nggak ada yang namanya card reader di dalam kereta juga! Mitos bahwa orang Jerman bisa bebas bepergian tanpa perlu beli tiket itu memang benar saudara-saudara.

Desain interior stasiunnya terbilang old school dan agak gelap, sehingga kesannya dingin dan mengintimidasi. Bicara soal jalur, lagi-lagi jalur kereta di Berlin lebih mudah dimengerti daripada jalur kereta di London untuk pemula. Lalu uniknya lagi di Berlin ada lagi kereta tipe U-Bahn dan S-Bahn yang punya stasiun berbeda. Ada beberapa kereta yang merangkap jadi S/U-Bahn ada juga yang hanya berlaku sebagai U-Bahn atau S-Bahn aja. Sampai sekarang aku nggak begitu mengerti apa bedanya S-Bahn dengan U-Bahn. Yang jelas, ada sejumlah S-Bahn dan U-Bahn yang berbeda stasiun ada juga yang jadi satu.

Sementara itu, di Berlin aku tinggal di A&O Hostel. A&O ini tidak sebagus WOW Hostel Amsterdam dan tempatnya jauh lebih terpencil daripada WOW Amsterdam. Untuk menuju hostel ini, aku perlu naik U-Bahn lalu ganti tram dulu, lalu jalan kaki sekitar 6 menit. Di A&O aku mendapatkan bunk bed dan sharing bersama 3 orang lainnya. Dari segi luas kamar mungkin sama, fasilitas meja dan lemari ada, A&O tidak menyediakan peti kemas, kamar mandi pun sebenarnya lebih oke. Hanya saja, A&O tidak menyediakan sarapan dan kebetulan teman satu kamarku agak rese. Di malam hari, sepulang dari Music Bank aku bertemu dengan seorang pemuda Ekuador yang sopan dan ramah. Saat aku tidur, datang sepasang orang kaukasian yang menyebalkan. Saat aku tidur, dia bertengkar dengan pemuda Ekuador tersebut masalah pembagian kasur. Esok paginya, ketika aku packing untuk check-out, si pria kaukasian ini ngoceh karena lampu kunyalakan. What do you expect man? Packing gelap-gelapan? Padahal lampu menyala hanya 5 menit saja. Ngeselin banget.

Antwerp Central Station, Inside

Selanjutnya adalah Madrid. Begitu aku selesai menonton Music Bank dan tinggal di Berlin selama sehari, esok paginya aku langsung terbang ke Madrid. Di Madrid sebenarnya transportasi tidak jauh berbeda dengan kota-kota sebelumnya, maklum Ibukota. Bedanya bila di tempat-tempat lain menyediakan one day pass berbentuk tiket kertas magnetik maka Madrid sedikit lebih modal, mesin tiket Madrid memproduksi tiket PVC (semacam Oyster Card) meski itu hanya one day pass.

Interior subwaynya tidak bisa dibilang modern tapi cukup okelah, lampu juga cukup terang. Yang unik dari transportasi dari Spanyol adalah kereta hampir selalu penuh! Nggak peduli itu peak hour atau bukan, weekday atau bukan, kereta selalu penuh hingga menjelang malam. Dan sebetulnya, sewaktu di Madrid aku tidak terlalu banyak menggunakan Metro. Aku lebih sering jalan kaki karena memang berjalan-jalan di sekitaran city center saja. Kalau tidak salah, harga one day pass Madrid lebih murah daripada one day pass di kota-kota lain, atau mungkin sama saja tapi aku lupa harganya.

Kota selanjutnya yang menyimpan cerita kebodohanku adalah Barcelona. Mungkin akan kuceritakan betapa indahnya Barcelona di postingan yang terpisah tapi dalam postingan kali ini akan kujelaskan transportasi publik Barcelona.

Sempat ada dalam pikiranku bahwa Barcelona merupakan kota kecil seperti Lille, jadi aku tidak berharap Barcelona akan memiliki Metro. Ternyata dia punya dong! Apalagi line Metro-nya cukup sedikit dan mudah sekali dihapalkan. Seharian aku berputar-putar di Barcelona, aku cuma berhenti di stasiun yang itu-itu saja dan menggunakan line Metro yang itu-itu saja. Gampang banget! Sayangnya Barcelona hanya menyediakan two days pass bukan one day pass, itu artinya aku harus merogoh kocek sebesar 15 Euro untuk beli Two Days Pass yang seharinya nggak bakal kupakai. Beruntung aku janjian dengan seorang teman sehingga aku bisa memberikan pass tersebut padanya. Nggak rugi-rugi amat lah.

Saking gampang dan mudahnya transportasi di Barcelona, aku sempat berpikir untuk pergi ke kota sebelah yakni Girona. Tujuanku pergi ke Girona adalah menuju ke kastil lawas pinggir pantai yang jadi tempat syuting drama Korea Legends of The Blue Sea. Aku nggak tahu kalau ternyata R-train itu berbeda tiket dengan Metro Barcelona. Kupikir, aku bisa menggunakan two day pass tersebut. Dari city center akhirnya aku nekat naik R-Train Renfe di Barcelona Sants (ini pun setelah melewati drama salah peron). Begitu keluar dari Barcelona, ada kondektur datang menanyakan tiket. Saat itu posisiku tertidur di kereta dan dibangunkan oleh si kondektur. Begitu ditanya tiket, aku dengan PD-nya menyerahkan two days pass dong!

Kondektur tersebut berbicara dalam bahasa Spanyol yang tidak kumengerti sampai aku bilang, "English please." Lalu dia menjelaskan bahwa ternyata two days pass itu hanya berlaku di Barcelona dan nggak valid untuk perjalanan ke Girona. Langsung berkeringat dingin lah aku. Untungnya kondekturnya sabar, dia memintaku baik-baik untuk turun di stasiun berikutnya dan beli tiket. Awalnya dia menawarkan agar aku beli tiket ke dia langsung tapi aku bertanya, "Apakah kamu nerima card payment?" Dan dia menggeleng. Well, okay satu-satunya option adalah aku turun di stasiun berikutnya dan beli tiket.

Begitu mencapai stasiun berikutnya, aku hendak turun tapi pintu kereta tertutup dengan cepat dong. Akhirnya nggak jadi turun. Oke batal beli tiket seharga 25 Euro (kata kondekturnya). Dengan kalem, aku membuka aplikasi GoEuro dan membeli tiket dari stasiun terdekat menuju Girona. Aku beli kan sekalian dengan tiket kereta dari Girona kembali ke Barcelona. Eh usut punya usut, sampai aku sampai di Girona, sang kondektur tidak kembali mengecek begitupun saat aku kembali ke Barcelona. Untungnya aku bisa meng-cancel tiket Barcelona-Girona. Yang lebih konyol dari kegoblokan ini adalah, aku berada di Girona hanya 45 menit dan nggak sempat pergi ke tempat yang hendak aku tuju. Mengingat kejadian ini, aku hanya bisa tertawa garing. Kok bisa aku melakukan banyak sekali kebodohan? Daripada membuang waktu naik kereta sekitar 2 jam untuk PP Girona-Barcelona, lebih baik aku pergi ke Pantai Barceloneta dekat Sagrada Familia dong? Agista... Agista...

Girona Station

Lepas dari semua kebodohan yang kulakukan di Barcelona, kota terakhir yang transportasi publiknya akan kubahas di postingan ini adalah Marseille. Marseille ini merupakan kota dengan one day pass termurah yakni 5,2 Euro saja untuk tiket yang berlaku 24 jam. Jalur Metro dia mirip dengan jalur Metro di Paris, sangat mudah untuk dimengerti. Keretanya pun mirip banget dengan kereta Metro di Paris. Ada kereta yang menggunakan gagang yang diputar ke atas untuk membuka pintu, sebenarnya kereta semacam ini juga kutemukan di Berlin, Madrid, dan Barcelona sih. To sum it up, sesungguhnya kereta-kereta yang digunakan di kota-kota yang aku kunjungi tidak se-'modern' kereta yang digunakan di Inggris sih meskipun yah signalingnya sama kali ya.

Karena jalur kereta bawah tanah Marseille tidak bermasalah, rupanya kebodohanku muncul di tempat lain. Ceritanya, aku tidak ngeh kalau bandara Marseille itu jauh dari city center alias stasiun tempatku turun St. Charles. Dan bodohnya lagi, aku tidak well-informed soal itu. Agista hampir saja melakukan kebodohannya di Barcelona lagi dengan menggunakan one day pass untuk naik kereta menuju ke bandara Marseille (MRS). Tapi agar aman, aku tidak mengulangi kesalahan itu tapi mengecek tiket kereta menuju MRS. Sayangnya, tiket paling murah dijual seharga 60 Euro yang itu sangat tidak mungkin kubeli. Barulah setelah bertanya-tanya ke pusat informasi, ada ticket office yang menjual tiket bus dari St. Charles menuju MRS seharga 5 Euro. Langsung menuju ticket office tersebut dan beruntung aku langsung dapat tiket. Apalagi aku baru mendapatkan tiket itu sekitar jam 12 siang, 2 jam sebelum penerbanganku berangkat! Dan beruntung lagi, aku sampai tepat waktu di bandara sehingga tidak ketinggalan pesawat dan sampai dengan selamat di London.
Trivial
  1. Underground di berbagai kota di Eropa tidak menghalangi sinyal. Berbeda dengan tube di London, selama berada di kereta bawah tanah baik itu di Paris, Madrid, Berlin, atau Barcelona, sinyal internet bisa diterima dengan baik. Jadi masih bisa internetan meski di bawah tanah.
  2. Di Berlin, tiket yang diproduksi oleh mesin berupa kertas yang harus di-validate hari itu juga. Kalau tiketnya berlaku selama one day ya oke-oke saja. Kamu tak beli tiket pun tak mengapa tapi apa kamu tidak malu? Karena sekali ketahuan harus bayar sekitar 60-80 Euro yang harganya sama dengan tiket sebulan.
  3. Pintu kereta bawah tanah di kota-kota lain tidak terbuka secara otomatis seperti kereta bawah tanah di London, aku jadi agak canggung begitu hendak keluar tapi pintu tidak terbuka. Londoners are spoiled!