Why do I Love London?


Sekarang sudah bulan Oktober, seharusnya sih aku sudah pulang ke Indonesia karena masa kuliahku sudah berakhir. Memang sih belum wisuda tapi semua kewajiban kuliah seperti menghadiri kelas, menjalani ujian, dan mengerjakan tesis sudah selesai sejak September yang lalu. Kalau dibilang lulus, ya belum tentu karena hasil akhir ujianku masih belum keluar. Lalu mengapa aku memutuskan untuk tinggal di London? Bukan, bukan berarti aku lupa akan kewajibanku sebagai penerima beasiswa kok. Dan nggak ada niat sama sekali untuk tinggal lebih lama di London tanpa pekerjaan karena terbentur masalah visa. Lagipula aku sudah tidak hidup dengan beasiswa, bagaimana caraku menghidupi diri sendiri dong?

Jawabannya adalah aku tinggal di London untuk menjalani kegiatan magang. Sebenarnya aku nggak punya rencana pasti soal magang ini, dulu sempat ada niat tapi setelah mencoba masuk ke berbagai perusahaan dan nggak berhasil, aku sempat merasa putus asa. Sampai suatu kali, aku bertemu dengan seorang teman yang menghubungkan aku dengan tempatku magang sekarang. Itulah salah satu manfaat memperluas koneksi, kamu bisa mendapatkan kesempatan yang nggak pernah kamu bayangkan sebelumnya.

Lantas apa hubungannya pembukaan postingan ini dengan judul? Erat. Waktu sudah bergulir, sekarang sudah bulan Oktober, itu artinya waktuku di London semakin sempit dan aku sudah berhak untuk menulis hal-hal yang membuatku mencintai London seperti yang aku tuliskan di caption foto Instagram.


Aku pernah punya pembicaraan dengan seorang teman saat sedang pergi ke Knaresborough. Teman tersebut kebetulan sangat suka travelling lalu aku bertanya, "Dari semua kota yang pernah dikunjungi, kota manakah yang paling disukai?" Lalu dia menjawab, "London sih. Karena London itu kotanya diverse dan nyaman. Belum lagi sisi modern dan kuno-nya bisa harmonis gitu. Ada lagi beberapa kota lain seperti Tokyo, di situ juga enak kok. Tapi tetap sih kalau dilihat dari segi tempat tinggal ya London," jelasnya. Setelah itu giliran dia bertanya padaku, "Kalau Agis sendiri kota yang paling disukai apa?"

"Sebenarnya untuk saat ini aku belum berhak sih ngomong kota mana yang paling oke menurutku karena aku baru pergi keliling UK doang kan. Tapi kalau dibandingkan dari kota-kota di UK yang pernah aku kunjungi, masih London sih. Favorit banget. Karena London itu yang ngebikin aku sekarang dan London itu jadi tempat ngewujudin mimpi-mimpi aku, hal-hal yang gak mungkin bisa aku lakukan di rumah," jawabku waktu itu.

Nah, setelah melakukan Europe Trip ini aku berpikir kalau sekarang aku sudah mulai berhak untuk menentukan kota mana yang paling aku sukai kan? Dan dengan yakin kujawab aku suka London, aku jatuh cinta padanya dan aku merasa nyaman di dalamnya. Setidaknya pernah kusinggung dalam postingan ini. Semakin dipikir lagi, ada banyak sekali hal yang membuatku mencintai London. Apalagi ketika waktuku meninggalkan kota ini semakin dekat, rasanya semua memori sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di London memberondong masuk menyesaki kepalaku. Setiap sudut London jadi menarikku ke kenangan-kenangan yang aku buat di dalamnya. Melankolis banget!


London itu merupakan kota yang membiarkan aku jadi diri sendiri. Mengapa demikian? Ada banyak sekali hal-hal yang belum pernah aku lakukan di Malang tapi kulakukan di London. Mulai dari tinggal sendiri, lebih sering naik transportasi publik, pulang malam, bekerja sambilan tanpa khawatir bakal dimarahin, nggak perlu sering-sering bersih-bersih rumah, bisa ikut organisasi, bisa pergi ke luar kota, bisa menginap di rumah teman. Banyak! Bahkan ketika aku jalan sama teman-temanku, aku nggak perlu khawatir soal curfew (jam malam). Waktu di Malang aku selalu memikirkan hal itu, "Eh maaf nih nggak bisa sampai malam udah dicariin orang rumah." atau "Eh maaf nih nggak bisa ikutan, harus setrika pakaian orang rumah ini. Harus beresin rumah nih, harus jagain adik nih." Dan di London aku nggak perlu mengkhawatirkan itu semua karena aku cuma bertanggung jawab pada diri sendiri.

Waktu di Malang pun aku nggak bisa seenaknya melakukan kegiatan yang aku lakukan, nggak bisa ikut volunteer ke sana ke mari karena terbentur izin orangtua dan (lagi-lagi) jam malam. Nggak bisa bebas ikut organisasi, nggak bisa bebas menjalin koneksi. Mau kerja pun harus diseleksi dulu, "Mau kerja apa? Kamu lulusan S1 kok kerjaannya begitu?" atau ditanyain, "Kamu kerja ngapain aja sih? Lagaknya kayak orang sibuk banget. Rumah nggak ada yang beresin tuh." Dan begitu seterusnya. Karena lebih sering terkungkung di rumah, akhirnya aku jadi mager, dan karena hal itu aku jadi nggak berkembang. Berbeda dengan London. Nggak ada yang menahan aku untuk stay di rumah kecuali diriku sendiri yang sengaja melakukannya. Nggak ada yang melarang aku melakukan kegiatan ini dan itu. Nggak ada yang nanyain aku mau ke mana, dengan siapa, sampai jam berapa, jangan pulang malam-malam (yah walaupun masih ada yang nanya sih "Gista mau ke mana? Jalan sama siapa?" terus diciye-ciyein). Di London, aku bebas.

Dan buktinya meski aku punya kebebasan, aku nggak kebablasan. Kalaupun aku mau mencoba seks bebas, bisa. Tapi aku memilih untuk tidak melakukannya karena aku bertanggung jawab. Kalaupun aku mau mencoba jadi alkoholik, bisa banget! Tapi aku juga nggak melakukannya karena aku tahu itu merusak diri sendiri. Aku tuh cuma butuh kebebasan untuk jadi diri sendiri dan melakukan apa yang kusuka aja sih, nggak melulu dikekang, disuruh diam, dan diharapkan jadi orang yang cemerlang. Nggak ada orang yang bisa berkembang tanpa ngeliat dunia luar dan berinteraksi dengan orang lain sih.

Buktinya, emang setelah 'bebas' di London aku menemukan hal-hal yang menarik dan membentuk jati diriku semakin matang. Aku juga mencoba berbagai pengalaman seru, berkenalan dengan orang-orang yang menakjubkan, dan belajar hal-hal yang berbeda. Semua itu membuatku berkembang. Meskipun berkembang lantas tak membuatku lupa akan siapa aku yang sebenarnya. Justru dari 'kebebasan' itulah aku belajar banyak.


Contohnya ketika aku bebas memilih ikut terlibat dalam kegiatan apapun yang aku inginkan. Aku jadi tahu bagaimana rasanya bekerja dengan orang asing, mempelajari kultur dan budaya orang asing dalam pekerjaan, dan memahami bagaimana cara mereka memperlakukan orang dari berbagai macam latar pendidikan, seks, dan suku. Sungguh dengan menjadi seorang volunteer di Cystic Fibrosis Trust, aku merasa sangat diterima dan belajar bahwa memang sebuah lingkungan pekerjaan yang baik itu tidak terdiri atas satu ras saja, harusnya lebih diversed. Dan pujian itu nggak akan membuat seseorang besar kepala atau menurunkan kualitas kerjanya, pujian justru jadi motivasi bagi orang tersebut untuk bekerja lebih baik lagi. Begitupun leadership yang peer-to-peer, suasana kerja yang kasual, semua hal itu jadi faktor pendukung kinerja seseorang dalam sebuah organisasi. Dari kegiatan volunteer itu aku belajar untuk jadi pegawai profesional yang bisa mengapresiasi dan diapresiasi.

Aku pun akhirnya bisa membandingkan bagaimana kultur kerja bersama orang asing dari negara yang berbeda karena aku bebas memilih untuk terlibat dalam kerja part-time. Aku jadi bisa membandingkan kultur kerja orang asing dengan kultur kerja orang Indonesia. Aku jadi tahu mana yang harus diambil dan mana yang harus dibuang. Aku jadi tahu apa itu tanggung jawab dalam pekerjaan dan model leadership yang seperti apa yang disukai pegawai. Aku pun jadi tahu bagaimana seorang pemilik usaha seharusnya memperlakukan karyawan mereka. Dan aku juga jadi tahu mana orang yang suka 'menjilat' dan mana yang tidak. Atau mana bos yang pilih kasih dan mana yang adil. Semua pilihan itu membuatku belajar banyak.


"Karena memang kita sekolah di luar negeri itu bukan cuma buat prestige, Gis. Sebenarnya yang dicari kan experience-nya, apa yang kita bisa pelajari dari orang-orang yang tinggal di luar negeri itu, dan apa yang bisa kita terapkan di Indonesia nanti," jelas teman yang sama yang kutanyai soal kota favorit. Dan aku setuju, kalau dulu aku berpikiran sekolah di luar negeri demi prestige atau sekedar gelar itu dangkal sekali. Sekolah di luar negeri itu sebenarnya untuk membuka pikiran, nggak melulu soal gelar, nama almamater yang mentereng, atau privilege hidup di luar Indonesia.

Itulah alasan lain yang membuatku mencintai London, di sini aku belajar begitu banyak hal. Mulai dari kebodohan-kebodohan kecil hingga kebodohan-kebodohan besar. London mengajariku banyak sekali, nggak cuma how to survive tapi bagaimana cara mengelola emosi dan manajemen konflik agar aku bisa jadi orang yang lebih dewasa dan ikhlas.

Mungkin kalian yang membaca blog ini atau yang jadi followers sosial mediaku merasa bahwa aku baik-baik saja di London, isinya jalan-jalan, ketawa-ketawa, kulineran. To put it simply: Bahagia. Dan sudah pasti nggak sedikit yang bilang, "Enak ya kamu hidup di London." Itu semua cuma ilusi kok. Apapun yang aku posting di sosial media itu hanya ilusi karena nggak ada orang yang mau nge-share masalah mereka di Instagram bukan? Makanya kadang aku suka sebal kalau ada DM yang masuk dan bilang, "Aku ingin deh jadi kayak Kak Agista, bisa kuliah di London." Ya kamu belum tahu aja sih nggak enaknya tinggal sendiri di London hahahaha.

Meski sering banget aku mengatakan bahwa lingkungan di London itu positif, ternyata di akhir masa tinggalku ini (dan tentunya setelah aku menghadapi sebuah masalah yang besar) aku masih menemukan orang-orang yang negatif. Dan tidak dipungkiri lagi, masalah-masalah negatif itu hadir dari orang Indonesia dan negeri jiran. Ternyata nggak semua orang yang pergi ke London itu lantas berubah jadi orang yang positif, nggak semua orang yang sudah melanjutkan studi itu lantas jadi bijaksana dan membuka pikiran mereka terhadap orang lain. Kalau dipikir-pikir, pilihan untuk mengubah diri itu memang hak prerogatif individu. Aku nggak bisa mengharapkan seseorang untuk terus baik padaku, begitupun sebaliknya.

Oleh sebab itu aku semakin memantapkan diri di jalan: memutuskan rantai penularan dari orang-orang toxic. Kita semua ini manusia yang bebas menentukan pilihan lho. Pilihan untuk hidup di lingkungan yang positif dan sehat atau di lingkungan yang negatif dan buruk. Dan aku belajar bahwa nggak semua orang yang kelihatannya baik di luar itu, tulus. Aku pernah banget mendengarkan pengakuan seorang teman, "Saya nolong Mbak ini karena Saya ingin menolong diri Saya sendiri di masa depan." Maksudnya dia baik pada orang karena dia mengharap timbal balik agar orang lain baik ke dia juga di masa depan. Nggak salah sih tapi dari situ aku bisa menilai kalau rupanya orang baik itu memang ada yang beneran ikhlas dan ada yang cuma nabung buat dirinya sendiri.


London itu membuka pikiranku, nggak hanya karena aku bertemu dengan mahasiswa internasional dari negara-negara lain atau karena aku terlibat dengan masyarakat di dalamnya, orang-orang Indonesia yang kutemui pun membantu membuka pola pikirku. Ada orang Indonesia yang masih membawa ke-Indonesiaannya banget ke London, ada yang berubah 180 derajat. Dan kebetulan selama di London aku lebih sering berhubungan dengan anak-anak Ibukota, hampir semua teman Indonesiaku berasal dari Ibukota. Dengan mengenal mereka, aku jadi tahu sudut pandang mereka dan hal itu memberikan ide-ide di kepalaku soal apa yang akan kulakukan nanti ketika sudah kembali ke kampung halamanku. Dan jelas sekali anak-anak Ibukota ini memiliki pola pikir sophisticated, sayangnya beberapa justru kurang peka mengenai persoalan daerah dan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh orang daerah sepertiku.

Canggihnya teknologi yang diterapkan di segala sektor di London pun turut membuka cakrawala berpikirku. Dengan melihat kebiasaan-kebiasaan orang London, melihat bagaimana mereka dealing with their problem atau how they manage their time and spending, aku jadi punya beberapa gagasan yang bisa jadi tepat bila diterapkan di Indonesia. Nggak perlu melihat kebiasaan yang besar, kebiasaan yang kecil saja kalau diperhatikan akan menghasilkan ide yang nggak biasa. Nantinya kalau ide ini dieksekusi dengan baik akan menghasilkan kontribusi yang konkret pada negara. Itulah yang aku suka ketika aku berjalan-jalan di tengah kota hingga bagian urban London. Masing-masing memiliki kebiasaan dan kreatifitas.

Aku juga sangat suka soal regulasi London yang mulai sadar akan isu inklusivitas, sebuah hal yang belum diterapkan di Indonesia. Seperti yang kita tahu, di Indonesia kultur kerja dan penerimaan pegawai masih terpaku pada syarat administratif yang tidak mencakup keberagaman. Di Inggris, ada sebuah regulasi yang berlaku umum dan menjamin keberagaman tadi. Nggak peduli cacat atau sehat, nggak peduli latar belakang suku dan agama, nggak peduli gender laki-laki atau perempuan, nggak peduli tua atau muda, selama kamu mampu dan memiliki skill yang dibutuhkan perusahaan ya kamu akan bisa bekerja dengan baik. Sementara di Indonesia masih banyak perusahaan yang mensyaratkan hal-hal yang sebenarnya nggak relevan dengan bidang pekerjaan tersebut, kalau pinjam istilah regulasi di Inggris sih 'diskriminatif'.


London itu penuh dengan kenangan dan nggak bakal mungkin hilang meski aku nanti kembali pulang. Sejak dulu aku ini anaknya memang nostalgic, sukanya mengingat dan mengenang hal-hal yang melankolis. Setiap sudut London itu memberikanku kenangan, gimana enggak wong aku memang sudah menelusuri (hampir) semua sudutnya. Aku saja masih ingat saat pertama kali sampai di London, lalu aku ingat saat pertama kali jalan-jalan sendirian dan melihat Big Ben secara langsung sebelum direnovasi total seperti saat ini, aku masih ingat kala aku tersesat dalam pencarian stadion-stadion klub besar London. Aku ingat kebodohan yang kulakukan di sejumlah jalan London. Aku ingat tempat-tempat yang kukunjungi dengan teman-temanku. Bahkan sebelum aku kembali ke Indonesia pun, saat aku mengunjungi tempat-tempat yang sama ingatan soal tawaku bersama teman-teman, pembicaraan, dan lain-lain itu tiba-tiba berputar di kepala. Rasanya seperti menonton film.

Aku ingat saat aku dan teman-teman satu kelas pulang dari K-BBQ naik central line lalu teman-teman Chinaku turun di Bethnal Green. Aku ingat saat naik bus hujan-hujan bersama Aimee sepulang makan bareng di sebuah kedai kecil di Aldgate. Aku ingat saat nonton Black Panther lalu pulangnya disambut hujan tipis di halte bus Stepney Green. Aku ingat saat aku duduk makan KFC Mealbox di Whitechapel atau ketika aku jalan bareng temanku malam-malam dan kami ngobrol di taman yang sama di Whitechapel. Aku ingat semuanya dan kadang merasa sangat sedih begitu ingatan itu terputar kembali ketika aku melewati jalan yang sama, naik kereta yang sama, atau makan di tempat yang sama.

Ditambah lagi ketika nonton film Hollywood dan sejumlah landmark London muncul di film tersebut. Sangat berbeda rasanya ketika kamu tahu landmark tersebut hanya karena sekedar mengunjunginya atau ketika kamu tinggal di kota yang bersangkutan. Saat aku menonton Mission Impossible: Fall Out, landmark St. Paul's dan juga stasiun Blackfriars jadi sorotan kan. Nah saat itu rasanya sangat familiar karena aku pun pernah melewati jalan yang sama, ditambah lagi sekelebat kenangan-kenangan selama proses tinggal di London itu jadi ikut keputar juga. Hal yang sama terjadi ketika aku menonton Harry Potter dan juga serial Sherlock atau film apapun yang berbau London. Semua terasa sangat dekat dan relatable karena aku tinggal di London, itupun yang membuatku jadi makin mencintai London.

Transportasi publik di London itu comfort zone aku. Saking cintanya dengan transportasi publik London (padahal di awal kedatangan bikin aku keteteran), aku sampai membuat project London Underground serta kerap membandingkan sistemnya ke negara-negara yang aku kunjungi. Transportasi London itu memang ikonik, baik sistem perkeretaapiannya maupun busnya. Bus double decker merah itu identik sekali dengan London. Aku sudah membuktikannya ketika berkunjung ke kota-kota lain di UK, memang ada bus double decker tapi warnanya tidak merah. Selain di London, tidak ada pintu di bagian tengah bus, hanya ada pintu di dekat supir. Lambang Underground-nya pun sangat ikonik. Saking terobsesinya, aku ingin mengunjungi British Transport Museum dan membeli sebanyak mungkin pernak-pernik London Underground.

Intinya saat ini kota yang paling aku sukai dan kuharap di masa depan akan kutinggali bersama keluargaku adalah London. Meski aku nggak bisa makan-makanan Indonesia yang nikmat tiada tara, aku ingin menghabiskan sisa hidupku di London (kalau bisa). Karena London itu menyediakan semuanya, aku nggak perlu jauh-jauh untuk memenuhi kebutuhan hidup selama masih berada di Ibukota negara Inggris ini. Ditambah lagi transportasi publiknya sangat memadai (yah walaupun kadang masih sering strike dan signal failure sih). Kenapa bukan Malang lagi? Kalau pun nanti aku memang ditakdirkan untuk tinggal di Malang, aku tidak keberatan tapi yang jelas aku tidak ingin tinggal bersama orangtuaku lagi. Harga kebebasan itu mahal dan aku sudah belajar begitu banyak dari kebebasanku selama di London.