Because Everything Happens for A Reason


Do you believe in rainbow after the storm? I do.

Seperti tagline blog-ku, "Think positive then positive things will happen to you." Sudah sejak lama aku menggunakan tagline ini, sejak zaman sekolah malah. Motto itu semakin diperkuat oleh sebuah video yang pernah dipertontonkan oleh dosenku, the law of attraction. Konon, segala hal yang terjadi di dunia ini memiliki hubungan kausalitas dan kalau kamu mau menarik hal-hal positif ke dalam hidupmu maka kamu harus menjadi orang positif terlebih dahulu. Mungkin law of attraction dipandang sebelah mata bagi sebagian orang atau mungkin itu hanyalah sebuah teori konspirasi biasa. Namun aku yang meyakini bahwa hal-hal positif datang setelah kita berpikir berpositif, membuktikan hal tersebut.

Sebenarnya berpikir positif dan percaya bahwa di balik kesusahan pasti ada kemudahan juga sudah tertuang dalam Al-Qur'an (QS 94: 5-6). Maka sedikit banyak, sebagai seorang Muslim aku berpegang teguh pada hal tersebut dong. Tidak heran bila surat ini menjadi salah satu surat favoritku karena hidupku sebenarnya nggak jauh-jauh dari apa yang dijelaskan oleh surat Al-Insyirah tersebut. Hidup itu dinamis, ada naik dan turunnya. Ada susah, ada senang. Ada masalah, ada solusi.

Beberapa orang sebenarnya menilai aku sebagai orang yang terlalu positif bahkan terbilang naif. Mungkin karena aku memang berpegang pada prinsip berpikir positif, mungkin juga karena aku memang naif. Kejadian yang kualami baru-baru ini membuktikan hal tersebut. Sebagai seorang anak yang selama dua dekade tinggal di kota kecil dan sekalinya merantau langsung ke Benua Biru, aku tidak melepaskan kebiasaanku berprasangka baik pada orang lain. Ujung-ujungnya sekali lagi kesetiaanku disalahgunakan.

Aku mengakui bahwa aku sebenarnya anak yang loyal, sekali aku mempercayai orang maka aku akan percaya sepenuhnya. Sayangnya, sudah dua kali loyalitasku dimanfaatkan. Yang pertama oleh sahabat baikku saat aku masih kuliah, yang kedua oleh teman satu flatku. Bahkan beberapa orang sampai heran mengapa aku sama sekali tidak memiliki trust-issue pada orang yang baru aku kenal. Aku pun suka bertanya-tanya, mengapa dengan mudah aku percaya pada orang lain? Padahal aku juga kadang-kadang suka curiga terhadap orang lain. Terlepas dari loyalitasku yang disalahgunakan oleh orang yang kupercaya tak lantas membuatku mengubah prinsip, aku tetap percaya bahwa di balik sebuah masalah pasti akan ada solusi dan hikmahnya.

Mungkin hikmah dari kebodohan-kebodohan yang aku perbuat adalah untuk lebih mawas diri dan berhati-hati dalam menempatkan kepercayaan. Mungkin suatu saat nanti aku akan menyadari bahwa tidak semua orang berhak menerima kesetiaanku. Dan kesalahan-kesalahan yang kulakukan sekarang merupakan bagian dari aku berproses untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Terus terang aku bersyukur dan aku bangga karena aku yang sekarang sudah jauh berbeda dengan aku yang dulu. Bukan hanya aku yang merasa tapi juga salah satu temanku.

"I was so surprised that you become someone new, much more mature, and open minded unlike what you used to do," kata salah seorang teman yang sudah mengenalku sejak 10 tahun yang lalu. "You look happier and of course more open," lanjutnya. Dan aku mengamini hal tersebut. Memang di satu sisi aku masih keras kepala, masih egois, masih suka seenaknya sendiri tapi aku pun bangga ketika aku sudah mulai berpikiran terbuka, mau mengakui kesalahan, dan mau belajar untuk jadi pribadi yang lebih baik serta menerima perbedaan.

Saat ini pun, aku lebih bisa mensyukuri nikmat yang telah diberikan padaku. Dan aku mulai lebih bisa move on dari suatu masalah. Perubahan yang paling aku sukai dari diriku sendiri adalah aku bisa membahagiakan diriku sendiri.

"I'm glad that you're now happy, Agista. After all those crazy things that happened to you, and you're fine," kata salah seorang temanku yang menghiburku minggu lalu. Aku baru menceritakan segala kesulitan yang menimpaku selama beberapa bulan terakhir padanya dan aku menambahkan, "I didn't tell you because I don't want to be a burden for you. I actually felt so lonely because my friends were going back home but I'm alright. I survived, that's the most important thing." Setelah semua hal berat yang kulewati pada bulan September hingga awal November, kini aku bisa bernapas lega dan semua masalah itu dibayar dengan kabahagiaan dan rezeki yang tak henti-hentinya aku dapatkan.

Meninggalkan lingkungan toxic memang bagus untuk kesehatan jiwa dan memang benar juga, semakin kita mengikhlaskan sesuatu untuk pergi dari kehidupan kita maka gantinya akan semakin baik. Aku ingat Mbak Tika dan Mbak Ayod berkata seperti itu padaku, "Percayalah Gista, yang kamu ikhlaskan nanti akan diganti dengan rezeki yang lebih baik di tempat lain." Walaupun pada kenyataannya aku berhasil mendapatkan apa yang menjadi hakku, ada sebagian lain yang kuikhlaskan dan memang benar Tuhan menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih indah dan berharga di tempat lain.

Meninggalkan pekerjaan lamaku sebagai waitress contohnya, aku berhenti karena memang sudah tidak memiliki waktu untuk bekerja sebagai seorang waitress lagi. Selain itu aku memilih untuk meninggalkan atasan yang kurang mengapresiasi keberadaanku. Nggak perlu bilang apresiasi deh, setidaknya aku hanya ingin mendapatkan upah yang fair dan tepat waktu. Masalah dimarahin atau tidak, ya memang aku melakukan kesalahan. Aku meninggalkan lingkungan yang sudah tidak lagi sehat untukku, sebagai gantinya aku mendapatkan lingkungan baru yang sangat menyenangkan.

Ya, masa-masa magangku di Bank Indonesia London sangat menyenangkan dan penuh manfaat. Aku bertemu dengan orang-orang yang cerdas dan inspiratif. Nggak jarang pula orang-orang tersebut memberiku dukungan dan mengajarkanku hal-hal yang tidak aku mengerti. Aku juga belajar banyak mengenai dunia perbankan, finansial, dan ekonomi. Hal-hal yang tidak aku pelajari lebih dalam semasa masih kuliah. Dengan bertemu mereka, aku jadi merasa lebih bisa diterima dan mendapatkan limpahan ilmu yang barokah.

Aku juga bertemu dengan teman-teman baru yang membantuku untuk belajar. Teman-teman baru ini juga sedikit banyak menginspirasiku untuk menjadi orang yang lebih baik lagi, mendorongku untuk belajar lebih banyak lagi. Mereka juga membantuku untuk bertekad bahwa aku harus bisa jadi manusia yang berguna di masa depan secara tidak langsung. Bahkan salah satu dari mereka juga sempat memberiku perspektif baru dalam cara memandang sesuatu. Kuharap aku juga bisa memberikan perspektif baru pada mereka.

"Kamu itu satu-satunya orang yang bilang kalau UK dan Eropa itu beda. Kamu juga satu-satunya orang yang bilang kalau kamu lebih sering ketemu orang baik di sini (London)," kata salah satu temanku. Lagi-lagi ini membuktikan bahwa aku terlalu naif atau terlalu berpikir positif. Tapi begitulah kenyataannya, selama tinggal di London aku selalu bertemu dengan orang baik dan menginspirasi. Dan selama aku jalan kemana-mana aku merasakan hal-hal yang berbeda, entah itu manusianya atau budayanya. Mungkin aku tidak bisa menjelaskan secara gamblang tapi bagiku sejumlah daerah pasti berbeda meski perbedaannya tidak terlalu mencolok seperti di Indonesia.

Semoga saja paradigmaku berpikir sedikit banyak jadi membekas untuk dia. Karena di antara orang-orang skeptis ternyata masih ada orang yang bisa berpikir positif. Kadang aku pun merasa agak terlalu bodoh saja karena suka berpikir positif namun kenyataannya justru menuntunku ke jalan yang tidak pernah berada dalam jangkauan ekspektasiku sebelumnya. Dan aku bahagia setelah masa-masa suram, muncullah hal-hal menggembirakan. 

Semua juga tak lepas dari jalinan orang-orang yang ada di sekitarku. Aku yang sekarang mungkin tidak akan sampai di titik ini bila aku tidak mengikuti jalan takdir itu. Memang atasanku di tempat kerja yang lama tidak membuat hatiku bahagia tapi dengan bekerja di tempat itu aku bisa bertemu dengan seseorang yang justru mengarahkanku ke tempatku saat ini. Aku tidak akan mungkin bertemu staff-staff BI London yang super budiman atau bahkan bekerja bareng Mas Chandra dan Titus. Atau memang aku salah meletakkan kepercayaanku pada teman flatku yang lama tapi tanpa bertemu dengannya aku tidak akan bertemu dengan manusia-manusia tulus seperti Mbak Ayodd, Mas Kiva, Mas Adjuy, dan Mbak Tika. Mungkin juga aku bisa kurang nyaman dengan teman yang kutemui di kampus tapi tanpa keberadaannya aku tidak akan mengenal seseorang yang sangat aku hargai dan aku sayangi. Bisa jadi aku juga tidak suka menjalankan PK tapi tanpa melakukan hal tersebut aku tidak akan bertemu dengan Mas Freddy yang menjadi temanku selama di London ini.

Hal-hal itu membuktikan sekali lagi bahwa hikmah itu selalu ada dan kemudahan itu akan selalu ada pada tempatnya. Kita memang tidak tahu seberapa rumit jalan yang akan kita hadapi di masa depan. Dalam mencapai kebahagiaan, tidak ada hal yang mudah. Bukankah memang itu esensi hidup? Bila tidak ada kejutan, tidak ada masalah, tidak ada kesusahan, darimana seseorang akan belajar memaknai setiap udara yang memberikan nyawa?

Sekali lagi aku bersyukur dengan apapun yang kuhadapi dan kuterima selama ini. Tanpa masalah-masalah itu, mungkin aku tidak akan belajar mendewasakan diri. Seperti pepatah yang sering kita temui, "Setiap orang yang datang dan pergi dalam hidup kita, selalu membawa hikmah di baliknya." Kepergian dan kedatangan seseorang dalam hidup itu senantiasa memberikan pelajaran, tinggal diri sendiri yang mau belajar atau mengabaikan begitu saja.

Salam dari London, awal minggu yang dingin di sebuah kamar kecil Leytonstone. 23.17.