Review Album: EXO - Don't Mess Up My Tempo


Setelah ditunggu-tunggu, EXO akhirnya comeback dengan album ke-5 mereka yakni Don't Mess Up My Tempo. Review ini ditulis setelah dua hari albumnya dirilis dan tentu saja karena EXO adalah grup bias utamaku, aku nggak mau telat nge-review dong. Yah meskipun aku tetap nge-review via Spotify. Apa daya aku sedang miskin dan nggak punya uang sama sekali jadi nggak bisa pre-order albumnya. Nanti mungkin kalau dapat rezeki aku akan segera menunaikan kewajiban membeli album EXO disertai dengan Album NCT 127 Regular-Irregular dan lighstick Super Junior. Kalau ada duit lho ya.

Sejujurnya aku masih belum bisa move on dari era The War karena dia merupakan album favoritku juga setelah EXODUS tapi mau gak mau aku harus meng-embrace era Don't Mess Up My Tempo ini dong. Ekspektasiku adalah album ini lebih oke dari The War, jauh lebih oke. Mengapa demikian? Karena EXO comebacknya telat parah makanya aku berasumsi mereka lagi selektif memilih lagu dan mempersiapkan comeback besar-besaran. Jauh lebih gede daripada EXODUS eh kenyataan memang tidak sesuai ekspektasi. Ketika teaser pertamanya rilis, teaser Kyungsoo tentunya, ternyata nggak pake Pathcode-Pathcode-an. Well, memang ada sedikit teka-teki sih tapi kurang menantang nggak se'wah' Pathcode.

Lalu musik dan konsepnya juga bikin aku ekspektasi sangat tinggi terhadap album ini. Sayangnya begitu MV-nya rilis ekspektasiku langsung anjlok. Maka dari itu aku memutuskan untuk mendengarkan full album saja tanpa harus memutar MVnya berkali-kali.

Track pertama ada Tempo, dibuka dengan falsetto Chen ditambah Baekhyun. Chorusnya bisa diterima kuping dan cenderung ear catchy, yang mengganggu adalah suara decitan dan autotune bass yang kebangetan. Suara decitan itu sangat familiar dengan NCT tapi disisipkan dengan janggal ke dalam lagu ini. Males banget sih. Terlepas dari semua itu, aku senang Sehun akhirnya diperhatikan juga oleh SM, kali ini Sehun benar-benar diberdayakan sebagai seorang Rapper dan Rap Chanyeol pun makin membaik dari era ke era. Menurutku pembagian part cukup rata dan nada lagu ini variatif, eksperimental malah kalau bisa dibilang. Gayanya EXO banget, harmonisasi, nada-nada tinggi yang oke dari para main vocal dan musik yang instrumennya sangat bervariasi tapi grand. Awalnya aku nggak suka dengan lagunya, cenderung agak kecewa tapi semakin didengar aku jadi semakin suka dan semakin mengapresiasi musikalitas di album-album grup satu ini.



Dilanjut dengan Sign sebagai title track selanjutnya, konon katanya masing-masing lagu menggambarkan 'kekuatan' masing-masing member. Nah Sign ini menggambarkan kekuatan Chanyeol karena teasernya yang muncul Chanyeol. Sign ini merupakan tipikal lagu EXO dengan beat berat, mirip dengan Transformer gitu. Aku suka banget bagian bridge menuju chorus kedua yang dinyanyikan oleh Baekhyun. Track kedua ini masih berasa EXO-nya dan pasti bakal grand banget kalau dibawain di konser nanti. Selain Baekhyun, suara Kyungsoo masih meresap di hatiku seperti biasanya. Dan fix, aku suka sih lagu Sign ini meski nggak tahu bagian mananya yang menggambarkan 'fire' atau kekuatan Chanyeol ini.

Lalu ada Oh La La yang menggambarkan kekuatan Kai, lagu ini dibawakan sebagai side track dalam acara comeback acara musik. Jujur saja, sejak pertama kali dengerin instrumen lagu ini di teaser aku langsung jatuh cinta. Rupanya memang terbukti Oh La la ini chill dan enak banget untuk didengerin. Kalau pinjam istilah zaman sekarang ini lagu bop dengan sedikit sentuhan swing dan chilling beat gitu. Aku suka juga rap Sehun yang menunjukkan perkembangan signifikan dari waktu ke waktu begitupun vokal Kai yang membaik meski bagian nyanyinya nggak banyak-banyak amat. Selain faktor-faktor tersebut, yang membuatku sangat suka lagu ini adalah sebutan "Lala" dari waktu ke waktu, berasa dipanggil terus sama bebeb-bebebku. Lagu ini pun meyakinkanku bahwa Do Kyungsoo masihlah penyanyi, meski dia konsentrasi jadi aktor dia tetaplah penyanyi yang mumpuni.

Gravity berada di track selanjutnya, sekilas didengarkan lagu ini memiliki beat yang mirip dengan Lucky One dan Power. Gravity jadi semacam fusing dua track yang ada di album EXO tersebut. Gravity memiliki synth yang terdengar semacam lagu-lagu dari era 80-an gitu ada juga sentuhan disko macam lagu-lagu The Weeknd. Secara komposisi dan variasi nada, aku suka banget namun ketika dimasukkan lirik rasanya kurang pas aja gitu. Entah mengapa olah vokal dengan instrumennya agak balapan dan nggak harmonis. Padahal kalau isi vokalnya pas sama nada, aku bakal suka banget sama lagunya.

Setelah itu ada lagu semi-semi selow With You, lagu ini muncul di teaser Baekhyun berarti 'menggambarkan' kekuatan Baekhyun yakni cahaya dong. Awalnya kukira ini lagu ballad gitu kan ternyata bukan, lagunya masih upbeat dengan tarikan falsetto Chen yang sangat menonjol didukung dengan suara lembut Xiumin. Track ini juga nggak lepas dari instrumen yang variatif, sepertinya EXO mulai lebih eksperimental pada album ini. Sayangnya, eksperimen tersebut justru membuat EXO jadi lebih terdengar seperti GOT7 dalam lagu ini ketimbang terdengar sebagai EXO.

Dilanjutkan dengan 24/7 yang sempat dimunculkan di teaser Xiumin. Lagu ini agak slowbeat dan lebih banyak menggunakan synth ala-ala musik EDM Western sekarang. Chill dan lembut di kuping tapi kurang ear catchy, kecuali di bagian chorus. Track With You dan 24/7 ini agak kehilangan identitas EXO-nya secara musik dan vokal. Namun bisa ditolong oleh distinct-nya vokal Baekhyun dan Kyungsoo di 3/4 bagian akhir lagu. Kalau nggak ada falsetto Baekhyun atau suara bariton Kyungsoo, mungkin aku nggak akan notice kalau yang nyanyi adalah EXO.



Nah lagu selanjutnya upbeat chilling lagi yakni Bad Dream. Setelah sempat transisi ke musik yang out-of-the-box, EXO kembali ke ciri musik mereka. Berkali-kali kubilang bahwa ciri khas musik itu dark dan grand, nah lagu ini pun begitu. Harmonisasi vokal serta kekuatan vokal bernyanyi individu mengingatkan kembali ke konsep EXO yang grand dan dark itu. Ditambah lagi, track satu ini nggak terlalu banyak menggunakan synth atau suara-suara tambahan lain untuk membuatnya variatif. Agak homogen tapi tetap bisa diterima kuping dan chilling. Tapi kalau ditanya apakah aku akan suka lagu ini? Mungkin harus mencoba untuk mendengarkannya berkali-kali lagi.

Kali ini EXO mencoba genre baru hip-hop progresif kalau boleh aku bilang. Beat awal Damage berat banget macam hip-hop dan lagi track satu ini nggak lepas dari eksperimental instrumen. Sejujurnya lagu ini nggak masuk seleraku dan mungkin nggak akan pernah masuk ke daftar lagu yang aku sukai. Terlepas dari itu, lagu ini bisa jadi 'grand' banget kalau dibawakan di konser. Pastinya lagu ini akan jadi pemanas suasana di tengah konser.

Kemudian ada Smile On My Face menuju penghujung album. Track satu ini merupakan ballad dari keseluruhan album dan tentu saja ballad EXO bukan ballad biasa. Smile On My Face masih memiliki alunan upbeat tapi sangat lembut dan soothing banget di telinga. Dalam track ini, Chanyeol urun vokalnya yang makin lama makin membaik dan membuktikan bahwa dirinya nggak cuma bisa ngerap aja tapi juga punya kapabilitas untuk ngisi vokal. Lagu ini sedikit banyak mengingatkanku pada Moonlight dari mini album EXO - Overdose. Lagu ini bakal jadi favoritku sih yang jelas, semakin lama aku dengarkan maka aku akan semakin jatuh cinta pada vokal anak-anak EXO, terutama Kyungsoo.

Menuju akhir, ada Oasis and thanks God lagu ini merupakan lagu EXO banget. Pertama kali dengar, aku langsung suka lagu ini karena nggak maksa dan nggak terlalu berisik seperti track-track sebelum Smile On My Face. Memang sih track satu ini terdengar lebih organik dan mirip dengan lagu mainstream western saat ini tapi nggak dipungkiri juga kalau EXO itu sebenarnya sangat oke ketika membawakan lagu dengan instrumen slow tapi dark macam gini. Udah nggak usah sok-sok eksperimen aneh-aneh deh, yang begini aja dengan memaksimalkan vokal masing-masing udah bagus banget. Semua deretan vokal mendapatkan apresiasiku dalam track ini. Aku suka banget!


Lalu album ditutup dengan Tempo Chinese Ver. nampaknya EXO nggak merilis Chinese version untuk lagu ini agar tidak lelah. Sungguh di luar kebiasan SM padahal di rilisan sebelumnya, EXO selalu mengeluarkan setidaknya 2 versi album yakni Korean version dan Chinese version. Tapi nggak papa karena Abang Icing sibuk jadi Bang Toyib, SM nggak mau ngeluarin sumber daya terlalu banyak untuk memproduksi album China. Itu artinya fans juga bisa bernapas lega karena nggak perlu ngeborong banyak-banyak lalu tekor.

Overall, bagaimana pendapatku mengenai album Don't Mess Up My Tempo ini? Secara desain dan konsep jacket photo aku suka banget. Karena mana lagi grup yang pake konsep anak motor, tolong sebutkan. Aku suka style mereka yang pakai army uniform juga, terlihat lebih dewasa aja gitu. Tone warna yang digunakan di albumnya yakni kuning dan merah putih juga kugemari, sayangnya aku nggak suka logo baru mereka karena desainnya kurang oke dan nggak minimalis.

Terlepas dari desain, materi album ini variatif dan sangat eksperimental. Susah bagiku untuk langsung menyukai albumnya sekali dengar. Album ini sedikit banyak mengingatkanku pada EX'ACT, musiknya agak lebih berisik dan lepas dari ciri EXO. Tapi aku juga nggak memungkiri untuk masih menambatkan hati ke sejumlah track. Album ini nggak jelek namun masih belum bisa menggeser EXODUS, The War, dan XOXO dari playlistku. Dan kalau bisa dibilang sebenarnya album ini agak mengecewakan, aku mengharapkan sesuatu yang lebih grand dan memuaskan dari ini tapi aku cuma dapat album dengan materi yang nggak terlalu nyantol di seleraku. Untungnya sih desain albumnya agak lebih menolong dan title tracknya masih bisa kuterima.