Review Film: Fantastic Beasts and Where to Find Them 2 - Crimes of Grindelwald

Fantastic Beasts and Where to Find Them 2 Cast (cr: Warner Bros)
Fantastic Beasts and Where to Find Them resmi dirilis di Indonesia pada tanggal 14 November 2018 lalu. Namun rilis di UK justru dua hari setelahnya yakni tanggal 16 November 2018. Meski demikian, premiere tetap diadakan pada tanggal 13 November 2018 dan seperti biasanya, premiere film Hollywood selalu dilakukan di Leicester Square. Sayangnya, empat hari yang lalu aku sedang sibuk magang dan tidak sempat pergi ke Leicester Square. Selain itu memang aku lupa juga kalau ada acara premiere. Sudah ketinggalan premiere Fantastic Beasts, ketinggalan nonton filmnya dua hari dari teman-teman di Indonesia pula. Meski demikian aku tetap tenang dan kalem karena aku masih terbebas dari spoiler.

Sebenarnya setelah film pertama dirilis, aku sempat sangsi dengan sekuel-sekuel Fantastic Beasts selanjutnya. Yang pertama, film pertama tidak terlalu menonjolkan sisi petualang Newt Scamander dan tidak menjelaskan bagaimana cara Newt menemukan hewan-hewan magis tersebut. Yang kedua, aku sudah menduga bahwa nanti saga Fantastic Beasts ini akan berfokus pada Grindelwald. Dugaanku keduaku terbukti benar. Alih-alih Newt Scamander, justru Grindelwald-lah yang menjadi tokoh sentral dalam saga yang seharusnya diadaptasi dari buku Fantastic Beasts and Where to Find Them JK Rowling ini.

Baca Juga Review Film Sebelumnya: Fantastic Beasts and Where to Find Them (2016)

Yang membuatku makin kecewa sebenarnya adalah kemunculan Nagini sejak teasernya dirilis beberapa bulan yang lalu. Kemunculan hewan peliharaan Voldemort ini seketika menjadi viral dan juga menimbulkan pro-kontra. Di satu sisi, aku berharap bahwa Fantastic Beasts 2 akan menjawab pertanyaan di kepalaku soal kemunculan Nagini. Di sisi lain, aku merasa bahwa JK Rowling terlalu memaksakan isu inklusifitas sehingga membuat plot universe Harry Potter ini justru ambyar kemana-mana. Lalu bagaimana jawabannya? Simak review di bawah.


Fantastic Beasts 2 mengambil setting tahun 1927 saat Grindelwald (Johnny Depp) berhasil lolos dari tahanan MACUSA. Lolosnya Grindelwald sebagai pembukaan scene dieksekusi dengan sangat apik dan menakjubkan, baik efek maupun sihir-sihir yang digunakan Grindelwald. Bagian pembuka saja sebenarnya sudah menyuguhkan twist (tapi masih bisa tertebak), bisa diharapkan bahwa bagian akhir Fantastic Beasts 2 juga akan menyuguhkan twist-twist yang bisa membuat penonton pusing sendiri. Nah! Setelah berhasil kabur dari MACUSA, Grindelwald tidak langsung menaklukan dunia sihir. Bisa dibilang sosok penyihir yang drop-out dari Durmstrang ini memiliki otak politisi yang licin, licik, dan luwes. Pelan tapi pasti, Grindelwald menyusun rencana di Paris, Perancis.

Sementara itu lakon utama Fantastic Beasts yakni Newt Scamander (Eddie Redmayne) tengah sibuk dengan urusannya agar larangan bepergian ke luar negeri bisa dihapuskan oleh Kementrian Sihir. Namun karena Newt menolak untuk melakukan pekerjaan yang ditawarkan oleh Kementrian, larangan perjalanan tersebut tetap berlaku bagi Newt. Dalam bagian ini, diperkenalkan karakter baru yakni Theseus Scamander (Callum Turner) dan Leta Lestrange (Zoe Kravitz). Karakter baru tersebut tak memiliki hubungan yang jauh dengan Newt, justru nanti akan dijelaskan perlahan di sepanjang film.

Gagal memperjuangkan haknya berpergian ke luar negeri karena tentu saja Newt sangat membutuhkan hal tersebut untuk melepaskan hewan-hewan magisnya, Newt malah mendapatkan kejutan tak terduga di rumahnya. Kawan lama dari New York yakni Queenie Goldstein (Alison Sudol) dan Jacob Kowalski (Dan Fogler) tiba-tiba muncul dan mengganggu malam tenang Newt. Setelah bertemu dengan dua orang tersebut, Newt jadi mengingat seseorang. Tak lain dan tak bukan adalah Propentina Goldstein (Katherine Waterston). Sepertinya benih cinta mulai tumbuh di hati Newt pada sosok Auror asal Amerika tersebut. Bertemunya tiga sahabat lama ini justru menuntun Newt ke Paris. Selain karena Newt dimintai tolong oleh Dumbledore (Jude Law), Tina dan juga Credence (Ezra Miller) pun berada di Paris. Berangkatlah Newt ke Paris yang awalnya berniat untuk menjemput jodoh tapi malah berakhir membela kebajikan lagi karena tujuan Grindelwald ke Paris juga adalah untuk menemukan Credence.


Sebenarnya premis Fantastic Beasts 2 ini sederhana, Grindelwald mencari pengikut untuk melancarkan aksi menaklukan dunia-nya. Namun terlalu banyak karakter baru yang muncul membuat film ini jadi membingungkan dan bisa dibilang memiliki terlalu banyak plot hole. Dari segi plot, aku kecewa maksimal karena sangat tidak logis dan cenderung terkesan dipaksakan.

Yang paling aku sesali dari film ini adalah latar belakang karakter yang tidak kuat, selain Grindelwald dan Newt Scamander, karakter tidak dibangun dari cerita dukungan yang solid. Contohnya Credence, dia merupakan karakter inti dan memiliki porsi banyak dalam film namun eksekusi latar belakangnya sungguh menyebalkan. JK Rowling seolah-olah ingin membuat penonton takjub dengan twist namun gagal total. Selain Credence, ada Nagini (Claudia Kim) yang sempat disinggung. Sama dengan jawaban JK Rowling lewat akun twitternya, Nagini adalah sosok Maledictus dari pedalaman hutan Indonesia. Namun sekali lagi JK Rowling gagal memberikan universe atau alasan yang mendukung bahwa Nagini adalah sosok Maledictus. JK Rowling pun belum bisa menjelaskan kaitan Nagini yang nantinya akan berakhir menjadi horcrux (dan peliharaan) Voldemort. Hal ini membuatku kecewa karena sesungguhnya aku mengharapkan sosok Nagini dikulik lebih dalam.

Yang membuat karakter Nagini hanya tampil sebagai pemanis saja adalah minimnya dialog dan minimnya ruang bagi Nagini untuk berkembang. Sepanjang film, Nagini hanya menjadi sidekick Credence dan tidak diberi kesempatan untuk berbicara banyak atau dijelaskan asal-usulnya. Ada juga karakter baru bernama Yusuf Kama (William Nadylam). Lagi-lagi mungkin JK Rowling ingin memasukkan unsur inklusifitas tapi hasilnya malah hancur tidak karuan. Eksistensi Yusuf Kama ini justru membuat penonton bertanya-tanya dan malah membuat jalan cerita semakin tidak jelas. Terlebih lagi ketika Leta Lestrange menjelaskan asal-usulnya. Scene ketika Leta menjelaskan jati dirinya sebenarnya adalah scene yang membuat penonton frustasi. Scene paling menggemaskan adalah ending karena sesungguhnya perkataan Grindelwald sangat tidak masuk akal.

It's not mindblowing JK Rowling, it's too much. You're overdid it, don't get your knickers on a twist!

Kalau saja Fantastic Beasts tidak didukung oleh visual yang epik, scoring yang indah, dan kembalinya Hogwarts, mungkin aku akan memberi rating yang sangat rendah pada film ini. Apalagi ketika ada beberapa kejanggalan yang terjadi selama di Hogwarts, rasanya aku ingin marah dan protes pada JK Rowling "Omong kosong apalagi yang mau ditampilkan dalam Fantastic Beasts?" Ditambah lagi, porsi karakter Newt sebagai magizoology juga berkurang drastis. Memang tetap ada makhluk-makhluk ajaib tapi porsinya semakin berkurang sehingga esensi judul Fantastic Beasts sebenarnya kurang pas disematkan untuk saga ini.

Paruh bagian pertama, kesan Harry Potter masih mendominasi film yang disutradarai oleh David Yates ini. Namun pada bagian selanjutnya, film ini justru sangat mengecewakan. Sebagai seorang Potterhead, terus terang aku sangat kecewa dengan alur cerita yang disuguhkan oleh Fantastic Beasts. Aku tahu Rowling mungkin menganggap proyek ini sebagai proyek ambisius tapi dia lupa menjaga linearitas serta kesinambungan universe Harry Potter yang dibangunnya. Mungkin JK Rowling butuh diingatkan akan tulisan-tulisan terdahulunya. Mungkin ada yang mau sukarela membantu JK Rowling?


Awas Spoiler
  1. Leta Lestrange menjelaskan bahwa dia sebenarnya memang benar saudara Yusuf Kama, satu Ibu beda ayah. Yusuf Kama punya dendam tersendiri pada Covus Lestrange yang ternyata sudah dibunuh secara tidak sengaja oleh Leta kecil.
  2. Dumbledore digambarkan sebagai guru Defense Against the Dark Arts (Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam) padahal JK Rowling sudah menjelaskan dalam bukunya bahwa Dumbledore mengajar Transfigurasi.
  3. Memang sempat ada dialog yang menyatakan bahwa Dumbledore dilarang mengajar PTIH tapi tetap saja Dumbledore juga tidak akan bisa mengajar Transfigurasi bila dia dikenai hukuman rumah oleh Kementrian Sihir. Sangat tidak masuk akal.
  4. Dumbledore sempat menyebut Prof. McGonagall dalam kelas PTIH. Dalam film digambarkan bahwa Prof. McGonagall berada di usia 20 tahunan. Nyatanya, Prof. McGonagall baru lahi pada tahun 1935 (berdasarkan elaborasi JK Rowling dalam Pottermore) dan belum mengajar pada tahun 1927. Jadi siapakah McGonagall yang dimaksud dalam film? Apakah ibu Prof. McGonagall atau Prof. Minerva McGonagall sendiri?
  5. Identitas Credence yang diungkapkan oleh Grindelwald adalah Aurelius Dumbledore. Hal paling tidak masuk akal sepanjang film. Ada dua kemungkinan, yang pertama Grindelwald sengaja mengatakan hal tersebut agar Credence bisa membunuh Dumbledore. Yang kedua, JK Rowling mabuk.
  6. Queenie Goldstein menyeberang ke pihak Grindelwald disebabkan oleh perubahan karakter Queenie dibandingkan film yang pertama. Bukan hal buruk sebenarnya tapi hal ini menunjukkan inkonsistensi Rowling dalam membangun karakter di saga Fantastic Beasts. Bahkan Queenie digambarkan nekad memberi amortentia pada Jacob.
  7. Nagini berada di sisi yang baik (tidak menyeberang ke Grindelwald) di saga Fantastic Beasts. Dan hal tersebut menimbulkan pertanyaan, "Lantas mengapa dia pada akhirnya jadi peliharaan penyihir hitam terkuat sepanjang masa?"

P.S: Niat hati tadinya ingin nonton sendirian kan terus langsung jalan-jalan menghibur diri sendiri ke Chinatown dan ke Oxford Circus karena winter light udah dinyalain, eh tiba-tiba malah ketemu sama mahasiswa Indonesia secara random lalu kenalan. Akhirnya malah jadi nonton bareng dengan Mbak-Mbak tadi serta temannya satu lagi. Sungguh menarik.

Plot★ ☆ ☆ ☆ ☆
Akting★ ★ ★  
Musik★ ★ ★ ★ ☆
Grafis★ ★ ★ ★ ☆
Overall★ ★ ★ ☆ ☆