Europe Winter Trip: Jatuh Cinta Pada Brussels dan Hujan di Luxembourg


Setelah bermiskin-miskin ria beberapa bulan yang lalu, akhirnya aku bisa melaksanakan Europe Trip part dua di musim dingin kali ini. Semua tak lepas dari gaji magang dan juga uang deposit rumah baruku. Tidak seperti kasus rumah lama, landlord rumah baruku jauh lebih simpel dan cepat tanggap. Nggak perlu menunggu dua bulan, deposit rumah langsung ditransfer ke rekeningku di hari aku check out. Bahkan aku check out dari rumah tidak perlu menemui dia tapi hanya meninggalkan kunci di kamar dan meninggalkan kamar dalam keadaan rapi dan kosong. Sederhana banget bukan?

Berkat deposit tersebut, rencana Europe Tripku terwujud. Semua juga tak lepas dari rezeki-rezeki lain yang kudapatkan sebelumnya, pokoknya aku ekstra bersyukur deh. Nah, winter europe trip kali ini sebenarnya sudah aku rencanakan sejak jauh-jauh hari. Kira-kira sekitar bulan Oktober. Aku berpikir bahwa aku akan magang sekitar dua bulan saja lalu sebelum wisuda akan berkeliling Eropa lagi dan ternyata benar adanya. Sekali lagi, rencanaku berjalan dengan baik.

Tujuan winter trip-ku kali ini tidak begitu berbeda dari summer trip kemarin. Aku sudah berjanji akan mengunjungi Brussels lagi dan mampir ke Atomium dan itu benar-benar kulakukan. Tujuan pertamaku adalah Brussels dengan tiket bus gratis (berkat voucher Flixbus). Saat itu aku sudah bertekad untuk mengunjungi Atomium (tidak peduli harus bayar tiket masuk) dan juga Parlemen Eropa. Sebenarnya aku juga berencana mengunjungi museum komik strip tapi aku sudah terlalu lelah setelah mengeksplor Parlementarium dan Atomium jadi aku batalkan.

Hari pertama Europe Trip tak lepas dari kebodohan-kebodohanku (lagi) meski yah kebodohan yang kulakukan tidak separah kebodohan yang kulakukan saat Europe Trip pertama. Aku sempat salah booking kamar hostel! Alih-alih memesan 6 bed female room, aku malah memesan 6 bed male room. Aku baru menyadarinya sekitar dua minggu sebelum berangkat dan aku tidak bisa melakukan cancellation atau change pada ruangan, kupikir aku bisa mengganti ruangan tersebut nanti ketika check in langsung.

Dan benar, begitu check in aku langsung bilang pada resepsionis. "I think I made mistake when I booked the room," ujarku. Resepsionis itu tersenyum getir padaku, "Yeah, you booked the 6 male room." Aku pasang muka memelas saat itu, "Yeah, I know. Can you please help me switch the room? I'm so sorry." Pada awalnya dia sempat bilang tidak bisa, entah dia bercanda saja atau memang ogah membantuku. Beberapa menit kemudian dia berkata, "You're lucky. I got a new room for you," tukasnya. "Thanks a lot!"

Mungkin kebodohan yang itu masih bisa dibetulkan tapi tidak dengan kebodohanku yang melupakan bantal leher kesayanganku ketinggalan di Bus. Perjalanan dari London ke Brussels memakan waktu sekitar 8 jam dan aku sudah mengalungkan bantal itu di leherku sepanjang perjalanan. Sayangnya naas dan kesialan tetap merundung, bantal itu aku gantungkan di sandaran kursi bus dan aku lupa tidak menggantungkannya di tasku. Hasilnya? Bantal tersebut hilang begitu saja. Sedih sih sebab bantal tersebut telah menemani tidurku selama satu tahun terakhir ini. Ya di Indonesia memang bisa beli lagi tapi kan rasanya tidak sama, toh bantal itu sudah terkenal liurku kan? Hahahaha.



Terlepas dari kebodohan-kebodohan hari pertamaku, aku cukup senang bisa sampai di Brussels pukul 4 sore. Aku sempat istirahat sebentar di hostel lalu jalan-jalan di sekitaran central market. Sebab hostelku memang dekat sekali dengan central market Brussel yang sudah pernah aku jelajahi pada summer Europe Tripku. Ternyata malam itu ada banyak sekali acara di central market, ada pesta peringatan hari anti HIV/AIDS, ada winter market, dan lain-lain. Oleh sebab itu, akhir pekan lalu central market sangat ramai. Berhubung aku lapar, aku pun akhirnya memutuskan untuk makan dulu di restoran Jepang yang pernah aku lewati di central market Brussels. Restoran Jepang tersebut bernama Anata, harganya tidak jauh berbeda dari Eat Tokyo tapi soal rasa dan pelayanan sangat jauh. Aku menghabiskan waktu hampir satu jam untuk menunggu makananku datang, sehingga begitu aku keluar dari restoran hari sudah malam dan toko-toko sudah tutup semua.

Kebodohan lain lagi yang kuperbuat adalah tidak membawa sabun dari rumah! Kupikir hostel akan menyediakan sabun dan shampo karena defaultnya begitu tapi ternyata tidak. Keren sekali kan? Maka dari itu esok paginya aku jadi terpaksa meminta sabun teman satu hostel ketika mandi. Omong-omong soal teman hostel, aku berkenalan dengan seorang gadis dari Hong Kong. Gadis tersebut bernama Hilda.

Awalnya dia hendak tidur di kasur bawahku (karena hostelnya menyediakan bunk bed) tapi setelah dia bertanya pada resepsionis, dia mendapatkan kasur yang lain. Sementara kasur di bawahku ditempati oleh orang Perancis berkulit hitam yang ngoroknya keras banget sampai tahap mengganggu. Hilda ini merupakan anak yang menyenangkan dan asyik untuk diajak ngobrol. Pada awalnya dia bertanya berapa lama aku akan tinggal di Brussels dan kujawab hanya dua hari dua malam, dia bilang kalau dia akan menginap selama tiga hari lalu segera balik ke Hong Kong. Merasa punya teman, aku bertanya padanya apakah dia hendak keliling Brussels keesokan harinya? Hilda menjawab dia akan pergi ke Brugges. Namun siapa sangka aku malah bertemu dengannya setelah turun dari bus saat pergi ke Luxembourg di hari ketiga tripku? Di Luxembourg inilah aku jalan bareng Hilda dan banyak ngobrol dengannya.

Well, karena Hilda pergi ke Brugge pada tanggal 2 Desember 2018 sementara aku memilih untuk berkeliling Brussels saja, lagi-lagi aku trip sendirian. Tujuan pertama hari itu adalah Atomium, aku membeli tiketnya semalam sebelumnya ketika sampai di hostel. Rupanya tiketnya masih affordable kok, EUR 8 atau sekitar GBP 7 saja. Itu karena aku memilih opsi tiket untuk student, syaratnya sih harus menunjukkan bukti kalau aku student. Faktanya ketika sampai di Atomium pemeriksaan tidak seketat itu dan aku tidak dimintai Student ID. Aku sempat tidak berekspektasi apa-apa ketika pergi ke Atomium karena sejumlah orang bilang bahwa Atomium tidak semenarik itu. Begitu aku masuk dan naik lift hingga ke puncak landmark setinggi 102 meter ini, aku tidak menyesali pembelian tiket student seharga EUR 8 itu! Aku suka Atomium! Namun bodohnya aku malah tidak mengetahui kalau tiket transportasi pada tanggal 2 Desember 2018 digratiskan oleh pemerintah Brussels. Jadi kemana-mana mau naik apapun gratis, lalu apa guna aku membeli one day travel card kemarin sorenya? Tanpa tahu tiket perjalanan digratiskan, aku sudah membuang uang EUR 7 hahahahaha.


Ditambah lagi ada sejumlah ekshibisi yang menurutku cukup majestic. Padahal ya sebenarnya aku bisa melihatnya gratis di London Lumiere atau Carnaby Winter Light tapi begitu berada di Atomium rasanya beda saja. Selain itu ada sejumlah bacaan mengenai sejarah atomium dan titik baliknya menjadi landmark. Aku menghabiskan waktu sekitar dua jam berkeliling-keliling di dalam Atomium dan mengambil foto di dalam atau luarnya. Sempat terpikir untuk mampir ke Mini Europe tapi untuk masuk ke theme park yang masih satu kawasan dengan Atomium tersebut, aku harus bayar tiket masuk lagi. Jadi niat tersebut kuurungkan dan aku langsung cuss ke gedung Parlemen EU.

Ada kebodohan lagi saat aku pergi ke gedung Parlemen EU, aku sempat kesasar! Jadi dari Helsey (stasiun dekat Atomium) aku hanya perlu naik tram nomor 6 menuju Roi du Boudoijin dan turun di Trone. Aku sudah mengikuti Citymapper dengan benar saat turun di Trone tapi memang dasarnya buta arah, dari yang seharusnya keluar stasiun belok kiri lalu jalan terus selama 9 menit aku malah mengambil jalan lurus. Ujungnya? Aku malah kembali ke stasiun sebelum Trone yakni Palace de Namur. Kesel gak tuh? Setelah itu, aku harus putar balik lagi ke stasiun Trone dan baru ngeh kalau memang jalannya belok kiri dari Trone.

Beruntungnya, aku sampai di gedung parlemen EU dengan selamat sentausa sehat walafiat. Dari situ aku sempat berfoto-foto sebentar di depan Station Europe dan dimintai tolong oleh seorang pria China untuk mengambil fotonya. Aku tidak tahu apakah dia puas dengan hasil jepretanku atau tidak tapi yang jelas wajahnya kelihatan kecewa banget sih. Ya Mas, saya ini bukan fotografer :(

Setelah puas berfoto-foto di depan Stasiun Europa aku langsung menuju ke Parlementarium. Itu pun tidak langsung masuk melainkan berfoto-foto dulu. Baru setelah mendapatkan sejumlah foto yang bagus aku masuk ke dalam gedung Parlementarium. Alasanku mengunjungi Parlementarium ini adalah selain gratis karena beberapa bulan belakangan aku sering membaca berita soal Brexit dan mengerjakan data-data soal EU. Terima kasih Bank Indonesia yang bikin aku jadi lebih peduli pada politik Eropa, bagi Mas Samuel atau Mas Bagus yang baca tulisan ini tolong jangan diketawain :)))

Meski digratiskan, Parlementarium ini dikemas secara menarik lho. Begitu masuk, langsung disuguhi desain interior yang futuristis, minimalis, dan instagrammable banget. Sama seperti masuk ke gedung-gedung pemerintahan lain, tas harus diperiksa (melewati X-Ray Scanner) dan badan juga harus lewat scanner. Kalau aman baru boleh masuk. Lalu sebelum tur dimulai, ada petugas yang akan memberikan digital guide berupa iPod yang bisa ditempelkan di masing-masing diorama sehingga kita mendapatkan cukup banyak informasi mengenai diorama tersebut. Sangat interaktif.

Isi Parlementarium ada bermacam-macam tapi pada dasarnya semua menjelaskan soal awal mula komunitas ekonomi Eropa dibentuk. Ada juga sejarah Maastricht Treaty, ada tokoh-tokoh di berbagai belahan Eropa yang memberi testimoni soal keuntungan jadi anggota EU, ada juga foto anggota parlemen. Yang paling menarik adalah ruangan hemisphere replika (hemicycle replica) yang bisa membuat kita seolah-olah jadi anggota parlemen EU. Di masing-masing tempat duduk disediakan screen yang salah satu programnya adalah game interaktif yang menarik. Pokoknya aku menghabiskan waktu cukup banyak di Parlementarium saking menikmatinya!

Begitu sudah capek jalan-jalan dan sudah dijejali cukup banyak informasi di Parlementarium, aku lapar sehingga aku duduk-duduk di kafe Parlementarium dan memesan makanan. Sempat berkeinginan untuk memesan spaghetti bolognaise tapi petugasnya bilang, "It's not halal. Are you Muslim?" dan aku jawab iya lalu kuurungkan beli spaghettinya. Dia merekomendasikan menu lain yakni pasta salmon jadilah aku memesan pasta tersebut. Lumayan mengenyangkan sih.

Setelahnya aku tidak langsung balik ke hostel tapi malah duduk-duduk di restoran sambil nge-charge HP. Sempat terpikir untuk pergi ke museum komik tapi rasa malas kembali melanda. Akhirnya setelah puas duduk-duduk, aku malah mampir ke Carefour terdekat untuk membeli sabun dan bir Radler Lemon yang sudah lama aku incar. Setelah itu aku tinggal di hostel dan tidak kemana-mana tapi malah nonton drama.





Sesungguhnya aku bahagia karena di perjalanan kali ini aku terbilang cukup matang dalam merencanakan segala sesuatunya bila dibandingkan dengan perjalanan musim panas lalu. Tinggal dua hari dua malam di Brussels-pun semakin membuatku yakin bahwa aku menyukai kota Waffle ini. Memang sih Brussels tidak seramai atau se-modern London tapi udara dan hawanya membuatku cukup betah. Apalagi transportasinya juga tidak terlalu susah. Di malam terakhir aku berada di Brussels, tepatnya sepulang dari Parlementarium aku berpikir untuk mengcancel tiketku ke Luxembourg dan menginap semalam lagi di Brussels tapi aku mengurungkan hal tersebut mengingat aku sudah tidak punya cukup dana. Jadi aku tetap pada rencana awalku pergi ke Luxembourg dan berangkat ke Munich naik overnight bus dari Luxembourg.

Sebelum berangkat ke Luxembourg aku hampir melakukan kebodohan yakni hampir ketinggalan bus. Pagi tadi, aku sudah mengatur alarm jam 7 pagi seperti biasa dan harusnya aku bangun saat itu juga. Sayangnya karena aku pemalas aku berpikir untuk tidur satu jam lagi sehingga aku tidur lagi dan baru bangun jam 8. Begitu bangun aku langsung mandi tralala namun baru selesai jam 9 lebih karena harus packing ulang barang-barang. Kupikir aku masih sempat mengejar bus ke stasiun tapi aku baru selesai sarapan jam setengah 10 pagi! Harusnya aku sudah berangkat ke stasiun jam 9.30 karena busku datang jam 10 pagi. Aku baru jalan dari hostel jam 9.45 dan sempat tersesat di stasiun dan hampir salah ambil jurusan tram. Beruntung aku masih bisa mengejar ketertinggalan dan sampai di stasiun bus pukul 9.58! Dua menit sebelum bus berangkat. Dan untungnya busnya tidak langsung berangkat sehingga aku masih bisa ikut bus tersebut. Wah aku tidak tahu bagaimana jadinya kalau misal aku benar-benar ditinggal bus. Anaknya memang kadang suka nekad :)))

Well, Luxembourg tidak terlalu buruk kok. Apalagi setelah aku berjalan bersama Hilda. Satu hal yang membuat Luxembourg agak menyebalkan hari ini adalah hujannya yang deras. Tidak biasanya Eropa hujan sederas ini, coat duffleku sampai basah semua, begitupun celana jeans dan longjohn yang baru kuganti pagi ini. Mana aku juga harus membawa tas jinjing berisi makanan-makanan yang nggak bisa dititipkan di luggage locker lagi. Terlepas dari buruknya cuaca Luxembourg, aku bersyukur bisa bertemu dan jalan dengan Hilda. Semakin banyak kami ngobrol, ternyata anaknya semakin mengasyikkan.

Kami sempat makan siang dulu di sebuah resto Jepang all you can eat. Dan kami bisa makan dua ronde sampai habis! Kami cukup membayar EUR 15,8 saja untuk makan sajian sushi, mie, gyoza, dessert, takoyaki, dan lain sebagainya. Rupanya banyak makan dengan Mbak Ayodd membuatku jadi kuat makan juga pada akhirnya. Saat makan siang itu, aku dan Hilda banyak mengobrol serta bercerita tentang kegiatan masing-masing. Gadis asal Hong Kong ini sudah bekerja di digital marketing dan dia bilang mau pindah kerjaan maka dari itu sebelum mulai kerja lagi dia berlibur ke Eropa. Hilda juga cerita bahwa minggu lalu dia berada di London selama seminggu. Lalu Hilda juga bertanya-tanya bagaimana hidupku sebagai seorang student di London. Pada dasarnya kami saling menceritakan pengalaman Europe Trip masing-masing.

Setelah makan, kami kembali jalan menuju landmark-landmark Luxembourg. Sejujurnya Luxembourg ini juga indah dan aku suka. Aku suka rumah-rumahnya yang berada di lower land, bentuknya itu macam rumah yang sering kulihat di buku cerita rakyat Eropa. Aku suka arsitektur dan tata kotanya, aku hanya tidak suka cuacanya. Sepanjang perjalanan, aku dan Hilda terus mengeluh karena hujan tak kunjung berhenti tapi makin deras. Sampai pada saat Hilda hendak pergi ke sebuah taman yang entah ada dimana dan masing-masing dari kami skill navigasinya buruk sekali. Di tengah hujan begitu, kami sudah sangat malas untuk mencari jalan yang benar untuk sampai ke tujuan. Kami malah putar balik menuju city center dan duduk di warung kopi.

Habisnya, sudah kehujanan sampai basah kuyup kami pun kena semprot mobil-mobil yang berlalu lalang di jalanan. Kan kesel banget. Hilda bilang, "This will be my excuse to come back here later."

Di warung kopi ini, kami cerita banyak hal dan secara mengejutkan Hilda sebagai orang Hong Kong mengutarakan ketidaksukaannya terhadap gagasan bahwa Hong Kong merupakan bagian dari Cina. "Hong Kong itu kan dulu koloni Inggris, kami terbiasa hidup tertib dan menghormati sistem tapi warga mainland China kan nggak begitu. Makanya sebagian warga Hong Kong sebenarnya cukup sebal kalau mereka dianggap China juga."

Dari situ obrolan kami mengalir mengenai sejarah Hong Kong, China, Taiwan, hingga dia bertanya soal kondisi politik di Indonesia. Kami juga tukar pikiran mengenai trade war US dan China. "It was political," kata dia. "Yeah, and you know what? Actually the one who made mistakes is the higher ups. The people don't know anything, it's all the higher ups' own will that drive our politic in turmoil," kataku dan disetujui olehnya. "You're right. They suppose to serve us and represent us but they don't even think about us."

Hilda juga menyatakan kepeduliannya terhadap politik di negerinya, terutama saat pemerintah Cina menurutnya mengintervensi hak pilih dan juga sistem pemerintahan di Hong Kong. "Susah sih ngejelasinnya, pokoknya sekarang tuh orang-orang di pemerintahan adalah orang-orang yang ditunjuk pemerintah pusat. Makanya kami nggak bisa benar-benar bisa merdeka atau bebas. Taiwan pun juga gitu, mereka nggak bisa terang-terangan bilang kalau mereka negara independen."

"Kalau kamu main ke Hong Kong, usahakan sesegera mungkin karena kita nggak tahu apa yang bakal terjadi beberapa tahun ke depan. Siapa tahu Hong Kong makin 'diobrak-abrik' sama Cina kan?" Pembicaraan kami akhirnya ditutup oleh keinginanku untuk berkunjung ke Hong Kong suatu saat nanti mumpung bebas visa 30 hari.  "Baiklah Agista, nanti kamu hubungi aku saja kalau kamu main ke Hong Kong. Nice to meet you and take care," ujarnya. Lalu kami berpelukan dan Hilda harus kembali mengejar bus di stasiun untuk balik ke Hostel kami di Brussels.

Rupanya memang segala sesuatu ada hikmahnya. Kalau Luxembourg tak hujan, mungkin aku dan Hilda tidak akan duduk di warung kopi dan ngobrol soal politik begini. Kalau aku tidak tinggal di Hostel Sleep Well di Brussels mungkin aku nggak akan ketemu dia dan punya teman ngobrol di tengah Solo Tripku begini. Hidup itu memang sangat menarik!