Pengalaman Magang di Bank Indonesia KPwLN London

Tahun 2015 lalu, aku menuliskan pengalaman magang di Bank Indonesia KPwDN Malang. Postingan tersebut mendapatkan animo yang cukup besar dari pembaca dan sampai sekarang masih jadi postingan dengan jumlah views terbesar di blogku ini. Awalnya niatan menuliskan postingan tersebut adalah untuk membantu para mahasiswa S1 yang ingin mencoba magang di Bank Indonesia. Nggak disangka postingan tersebut sedikit banyak berguna juga, yah meskipun aku masih sering sekali mendapatkan pertanyaan yang kadang bikin aku geli. Sebab aku sebenarnya telah menuliskan banyak hal dan cukup lengkap dalam postingan tersebut.

Nah pada tahun 2018 ini aku berkesempatan magang di institusi yang sama yakni Bank Indonesia, bedanya lokasi Kantor Perwakilan tempatku magang kali ini adalah di luar negeri. Aku sempat berpikir apakah kultur kerja, jumlah pegawai, dan tugasnya akan sama dengan KPwDN. Rupanya cukup berbeda. Dan seperti apakah pengalaman magangku di KPwBI LN? Simak postingan ini sampai habis!

Sebelum memutuskan untuk magang, aku sempat berpikir untuk terus bekerja sebagai waitress saja hingga Januari 2019. Pasalnya gaji sebagai seorang waitress bisa dibilang cukup atau lebih dari cukup bila aku mau bekerja full time 8 jam selama 6 hari. Jumlah gaji tersebut untuk ukuran London sangat mencukupi bahkan bila digunakan untuk membayar sewa, kalau dirupiahkan malah lebih besar lagi. Namun ketika aku pergi ke Leeds, aku agak tertampar dengan pernyataan salah seorang temanku. "Saya mau pulang aja ke Indonesia terus baru balik ke sini lagi buat wisuda. Kan sayang aja gitu Mbak kalau stay di sini tapi kerjanya cuma jadi waitress." Pernyataan temanku itu ada benarnya juga sehingga aku jadi berpikir, "Apa iya aku mau kerja low skilled terus di sini?" Ditambah lagi salah seorang teman dekatku juga berpikir demikian, "Ya di sini dapat uang sih, kaya sih bisa kerja. Tapi kan kerjaan low skilled, nggak linear. Nggak worthy juga sih."

Beruntung saat aku masih menjadi waitress, ada seorang teman yang menghubungkanku dengan seseorang sehingga aku bisa mencoba magang di Bank Indonesia. Aku tidak ujug-ujug melamar begitu saja, bahkan sebelumnya aku tidak tahu bahwa ada kantor perwakilan luar negeri BI di London.

Suatu kali, ada seorang pria Indonesia yang kebetulan jadi pengunjung di cafe tempatku bekerja. Tahu dia orang Indonesia, aku mengajaknya bicara. Aku lupa-lupa ingat, yang jelas saat itu dia juga menawarkanku untuk magang di sebuah institusi pemerintah, entah itu Bank Mandiri, Bank BNI, atau Bank Indonesia. Kebetulan percakapan ini didengar oleh temanku yang bekerja satu shift denganku, dia mengatakan bahwa ada salah seorang temannya yang magang di KPwBI London. Aku langsung tertarik dong. Dari situ aku mulai menggali info, aku meminta kontak temannya temanku itu dan aku mulai bertanya-tanya.

Jadi, untuk magang di KPwBI London prosesnya terbilang lebih mudah daripada magang di KPwBI DN. Aku hanya perlu mengirim CV serta cover letter pada salah seorang Ekonom di Bank Indonesia, saat itu aku melamar ke Mas Sandy. Dari kenalan ini, aku mendapatkan e-mail Mas Sandy dan aku mengirim e-mail setelahnya. Sebelum itu, aku sempat mencari tahu gedung Bank Indonesia dan mendatangi langsung untuk bertanya bagaimana proses melamar posisi internship. Kebetulan saat aku datang, aku juga diminta untuk mengirim e-mail saja. Jadi fix, aku mengirimkan CV dan cover letter via e-mail.

Seingatku, aku mengirimkan e-mail lamaran internship tersebut pada bulan Agustus dan mendapatkan balasan yang cukup cepat yakni sekitar 2 minggu sejak aku mengirimkan e-mail. Padahal kalau melamar magang di Bank Indonesia KPwDN butuh surat pengantar dari kampus, CV, KRS, dan harus menunggu sekitar satu bulan untuk mendapatkan kabar magang. Lamaran internship di KPwBI London ini terbilang sangat singkat, cepat, dan efisien. Mungkin karena tidak banyak juga mahasiswa yang tahu bahwa ada kesempatan untuk magang di lembaga negara ini.

Konfirmasi penerimaan magang aku terima pada akhir Agustus, di e-mail tersebut Mas Sandy menjelaskan bahwa magang sebaiknya dimulai pada awal bulan, ada juga ketentuan dress code berupa pakaian kantor yang rapi (dan formal), lalu tidak ada instruksi tambahan kecuali dibutuhkan laptop dan software Ms. Office standar. Sederhana banget kan? Sayangnya saat itu aku memilih untuk menunda masa magangku. Aku seharusnya magang mulai bulan September tapi aku meminta jadwalnya diundur hingga bulan Oktober. Sebab pada bulan September aku sudah punya rencana untuk Summer Europe Trip hehehehehehe.

Saat itu salah satu temannya temanku satu kampus yakni Titus tiba-tiba mengirimkan aku pesan. Sebenarnya aku tahu bahwa dia juga akan magang di BI berdasarkan cerita temanku yang lain dan ketika Titus bertanya mengenai magang, aku sudah tidak terkejut lagi. Kujelaskan juga waktu itu bahwa aku baru mulai magang bulan Oktober jadi Titus sudah mulai duluan dengan magang pada bulan September. Dari yang awalnya dia yang bertanya padaku, aku yang jadi bertanya pada dia perkara magang.

Akhir Oktober 2018, ki-ka: Mas Sandy, Mas Chandra, aku, Titus, Mbak Indira
Begitu aku fix memulai kegiatan magang, aku mengirim pesan pada Titus dan bertanya-tanya kira-kira apa saja pekerjaannya dan aku harus mulai bagaimana? Titus menjelaskan padaku agar aku bertemu dengan Mas Sandy terlebih dulu dan rileks. Kata Titus, orang-orangnya chill banget. Karena aku benar-benar tidak tahu, sesungguhnya aku masih nervous. Seingatku, ketika aku memulai magang di KPwBI DN hampir keseluruhan kegiatannya agak lebih formal, nggak se-chill seperti yang Titus bilang. Lagipula saat magang dulu aku diminta mengenakan dress code atasan putih, bawahan hitam, dan mengenakan almamater. Nah yang sekarang beda banget.

Begitu aku datang di awal bulan Oktober, aku masuk ke dalam gedungnya dan duduk di lobby seperti yang terdapat pada foto di atas. Saat itu yang ada di pikiranku hanya bertemu dengan Mas Sandy saja sehingga aku bisa menerima briefing atau apalah tapi ternyata Mas Sandy sedang dinas di luar negeri. Akhirnya aku dipertemukan dengan Ekonom atasan Mas Sandy yakni Bu Fitria. Bu Fitria menjelaskan padaku kalau ruangan anak magang ada di lantai dua dan secara singkat beliau juga menjelaskan kalau aku akan ditugaskan untuk membantu penyusunan Kajian Ekonomi Keuangan Global (KEKG) Q3. "Jadi nanti kamu bantu Titus ngerjain KEKG ya, dia udah tahu kok, datanya juga udah ada di dia. Nanti kamu tanya dia saja. Kalau sekarang kamu coba mulai baca-baca situs Bank of England dan ECB ya. Deadline KEKG-nya tanggal 20 Oktober ini," jelas beliau. Aku manggut-manggut saja.

Sesuai dengan arahan Bu Fitria, aku mulai mengakses situs ECB dan Bank of England. Tak lama kemudian Titus datang dan begitu bertemu dengannya aku langsung tanya-tanya progres magang di BI London ini. Aku menggali informasi secukupnya dari Titus yang sudah magang duluan, aku bertanya berapa orang yang bekerja di kantor tersebut, bagaimana peran anak magang, apa saja tugasnya, dan dimulai dari mana saja. Setelah mendapatkan cukup informasi aku baru bisa membantu Titus dalam pengerjaan KEKG dan juga database yang digunakan sebagai acuan KEKG tersebut.

Selama magang di London, aku berada di bawah supervisi Mas Sandy dan mengerjakan tugas-tugas yang beliau berikan. Kalau tugas dari Mas Sandy tidak ada, biasanya aku diberi tugas oleh Dealer BI seperti Mbak Yoan, Mas Samuel, dan Mas Bagus. Tugas-tugasnya biasanya sih berhubungan dengan pengumpulan data, menulis laporan, meringkas bahan yang diberikan, dan juga belajar Bloomberg. Terus terang aku merasa sangat insecure saat pertama kali bertemu dengan Mbak Yoan, Mas Samuel, dan Mas Bagus. Sebab di pertemuan pertama aku (beserta Titus dan Mas Chandra) ditanya-tanyai mengenai trading. Saat itu aku sama sekali nggak belajar soal trading dan tidak berharap akan ditanya-tanyai perihal tersebut. Ditambah lagi aku memang tidak terlalu into trading hahahaha.

Namun setelah pertemuan pertama yang sempat membuatku insecure tersebut, aku malah belajar banyak. Aku menjadikan pertanyaan-pertanyaan tersebut sebagai media pembelajaran. Karena dibandingkan dengan Titus, aku sama sekali nggak mengenal derivatif atau cara menghitungnya atau forex trading. Dari penjelasan-penjelasan yang diberikan dan jawaban-jawaban yang diberikan, aku belajar hal-hal yang tidak kuketahui sebelumnya. Dulu waktu magang di KPwDN juga aku belajar banyak hal yang tidak aku terima dari kampus.

Satu hal lagi yang membuat pertanyaan-pertanyaan (sidang) tersebut makin menyenangkan: penjelasan baik dari Mbak Yoan, Mas Samuel, atau Mas Bagus itu dianalogikan dengan hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sehingga sebelumnya aku yang susah memahami konsep karena bahasa teori di kampus lebih sophisticated, aku jadi lebih bisa memahami dengan mudah dan memiliki gambaran besar mengenai istilah-istilah yang digunakan. Dari situ pula aku belajar untuk menyusun argumen yang runut dan menarik segala sesuatu perlahan-lahan sehingga lebih mudah dimengerti.

Tugas-tugas tulisan dan laporan yang diberikan pun sedikit banyak membantuku menjadi lebih peka dan lebih bisa menulis karya ilmiah dengan baik. Sebelumnya aku masih suka kebingungan dan menerjemahkan bahan begitu saja tapi lambat laun aku belajar untuk memahami sumber lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa yang lebih mudah dimengerti dan linear dengan tujuan laporan tersebut. Pernah suatu kali aku mengerjakan laporan analytical note hingga lembur sampai malam dengan Mas Samuel, semua itu akibat gaya bahasaku yang berantakan dan pola berpikirku yang kurang terstruktur.


Kadang nggak hanya belajar soal makroekonomi, trading, dunia perbankan, politik, dll, beberapa hari terakhir sebelum periode magangku berakhir aku belajar soal parenting. Entah mengapa memang lebih nyaman dan santai bila bekerja dengan orang-orang yang beda usianya tidak terlalu jauh. Para staff di BI London ini, mulai dari Chief hingga Administrasi beda usianya tidak terlalu jauh denganku. Ada sih Bu Tiwi yang beda usianya sangat jauh tapi orangnya asyik diajak ngobrol. Dan memang benar kata Titus, lingkungan kantor dan orang-orangnya sangat chill hingga membuatku nyaman.

Di satu sisi, aku ingin menjadi bagian dari keluarga BI tapi di sisi lain (setelah diberi gambaran konsekuensi kerja di BI oleh Mbak Yoan) aku jadi agak berpikir ulang. Memang sih mungkin visiku sejalan dengan BI tapi apakah aku akan bisa menjadi bagian yang penting untuk mewujudkan tujuan pribadiku? Memang sih aku bakal berkembang dan diberi kesempatan luas untuk belajar tapi apakah aku mau terlibat dalam sistem birokrasi dan politik lembaga negara? Sementara aku sendiri adalah tipe orang yang cukup susah beradaptasi dengan politik di tempat kerja. Mungkin akan sangat menyenangkan kalau jadi bagian dari BI tapi bagaimanakah nasibku ke depannya? Nggak ada yang tahu.

Yang jelas, untuk saat ini aku bersyukur dan aku bahagia atas rezeki berupa kehadiran orang-orang yang baik serta ilmu yang bermanfaat untukku. Dan aku pun sangat mensyukuri tugas-tugas yang diberikan selama magang di BI baik sendirian maupun saat masih ada teman. To sum it all, magang di BI itu menyenangkan sekali!

Lalu untuk kalian-kalian mahasiswa UK yang ingin magang di BI, langsung saja coba bertanya di kantornya atau mulai menjalin koneksi dengan pegawai BI London. Para pegawai BI ini juga berhubungan baik dengan staf KBRI sehingga, kamu juga bisa mulai mencari tahu kontak pegawai BI lewat staff KBRI. Cara melamar magangnya mudah kok, hanya kirim e-mail saja. Dan pekerjaannya pun nggak berat-berat amat, hanya butuh sedikit berpikir saja.

Oh ya setelah magang di BI London dan terlibat dalam sejumlah acara yang mereka selenggarakan, aku (sedikit banyak) jadi bisa menjawab pertanyaan orang lain. Beberapa waktu yang lalu, temanku tanya apa fungsi keberadaan Bank Indonesia di luar negeri? Pertanyaan yang sama yang dilontarkan oleh DPR ketika berkunjung ke London beberapa saat yang lalu. Well, tugas KPwBI London ini adalah berhubungan langsung dengan couterpart dan investor internasional. Coba kalau nggak ada kantor cabang BI di luar negeri, ketika hendak bertemu dengan Ekonom Bank Asing atau mengadakan deal trading untuk pengelolaan devisa negara pasti bakal susah kan? Selain itu KPwBI juga bisa bekerja sama dengan KBRI untuk mengadakan sejumlah seminar/acara untuk menarik investor asing agar mau menanamkan dana mereka di Indonesia. Karena ya acara tersebut tak lepas dari fungsi BI sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas kebijakan moneter. Dan pengelolaan devisa yang mungkin bagi sebagian orang bisa dilakukan di Indonesia, pada faktanya perlu juga dilakukan di luar negeri karena bisa terlibat langsung dengan counterpart terkait.

Dan kalau ditanya sejak kapan KPwBI LN berdiri? Mungkin sejak zaman orba karena ada salah satu pegawai senior yang sudah bekerja di KPwBI LN hampir 27 tahun lamanya.

Yah mungkin itu saja dan sampai jumpa nanti! Semoga postingan ini bermanfaat.

Salam dari Brussels, Belgia (Agista yang meratapi hilangnya neck pillow Kumamon yang mungkin ketinggalan di bus menuju Brussels)